
"Kenapa pa?" tanya Revalda tak senang dengan keputusan sang papa.
"Karena kami menyayangi kamu Val," jawab Yudha seraya mengelus lembut kepala sang putri.
"Papa tidak menyayangi aku kalau aku dipaksa seperti ini. Ini tidak adil pa," balas Revalda dengan perasaan yang sangat sakit.
"Pokoknya aku belum mau menikah Pa. Aku masih punya cita-cita yang tinggi dengan masa depan cemerlang," lanjut gadis itu seraya menatap kedua orangtuanya yang tampak tak peduli dengan keadaannya.
"Mama, tolong minta papa untuk membatalkan rencananya. Aku gak setuju ma!" Revalda pun meraih tangan sang mama meminta tolong agar perempuan yang telah melahirkannya itu mau membantunya.
"Itu adalah keputusan papa mu Val. Dan mama akan ikut apa saja yang ia putuskan," jawab Selfina dengan tatapan sayang pada sang putri.
"Tapi ini melanggar hak aku sebagai anak ma. Aku gak akan terima! Kalian semua merampas kemerdekaan aku. Papa dan mama tidak sayang padaku huaaa!" Revalda berteriak dengan tangis pecah. Ruangan keluarga itu langsung memanas.
Dewa dan Yundha saling berpandangan. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa untuk mendinginkan suasana di tempat itu.
"Valda!" bentak Yudha dengan suara yang cukup keras. Revalda tersentak kaget dan menghentikan tangisannya. Wajahnya berubah takut. Ia seperti Dejavu. Pernah papanya membentak ia seperti itu dan ia langsung sakit karena takut.
"Kamu semakin tak bisa dikendalikan dan juga suka melawan ya!" hardik Yudha dengan wajah mengeras.
"Bersyukurlah masih ada keluarga baik-baik yang ingin melamar kamu ditengah kelakuan kamu yang semakin kesini semakin parah!"
"Papa? Papa tega mengatakan hal seperti itu padaku?" gumam Revalda yang merasa tak pernah melakukan hal yang tercela.
"Kamu yang tega mencoreng nama baik keluarga Val. Apa kami kurang memberimu kasih sayang?"
"Papa?" tenggorokan Revalda tercekat sakit.
"Sekarang kamu mau jelaskan apa yang kamu lakukan di apartemen seorang pria yang tidak kami kenal hah?!" ucap Yudha dengan wajah marahnya.
Revalda menatap wajah papanya dengan airmata berlinang dipipinya.
"Aku tidak melakukan apapun pa. Aku hanya ketiduran disana, hiks," jawab gadis itu dengan tangis yang kembali pecah. Sungguh, hatinya sangat sakit dengan tuduhan pria yang sangat dihormatinya itu.
"Ketiduran di rumah seorang pria? Apa-apaan itu?!" Memangnya kamu tak punya rumah hingga bisa nyasar ke rumah orang lain?!" lanjut Yudha dengan wajah sinis.
"Papa tidak percaya padaku? Baik aku akan panggil pria itu dan akan aku suruh dia menjelaskan kronologis kejadiannya."
__ADS_1
"Ah sudahlah. Tidak perlu kamu lakukan itu. Yang penting sebelum kamu semakin rusak. Kami akan menikahkan kamu dengan pilihan kami. Suamimu nanti yang akan bertanggung jawab padamu kedepannya."
"Papa! Jadi kalian sudah ingin melepaskan tanggung jawab kalian pada seorang pria yang bahkan tidak aku kenal?!" Revalda berteriak dengan nafas memburu. Ia kecewa dan sangat marah pada kedua orangtuanya.
"Papa dan mama jahat! Aku tidak akan mau menuruti kalian!"
"Valda sayang, jangan berkata seperti itu," ucap Selfina membujuk. Ia memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang tapi gadis itu menolak.
"Papa dan mama tidak sayang padaku. Aku kecewa pada kalian!" ucap gadis itu kemudian pergi dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya untuk menumpahkan rasa sedih dan kecewanya.
"Kak Yudha, ada apa sih? Kenapa kakak memaksakan kehendak seperti itu pada Valda," ucap Yundha dengan perasaan yang ikut sakit.
Yudha dan Selfina terdiam. Mereka menyadari kalau memang telah bersikap sewenang-wenang pada sang putri tapi sungguh, itu adalah demi kebaikan Revalda juga.
"Aku gak tahan dengan gambar-gambar putriku yang dibagikan tak bertanggung jawab oleh orang-orang yang sengaja ingin melihat keluarga kita hancur Nda. Dan kupikir hanya itu jalannya kalau kita mau menyelamatkan nama baik Valda dan keluarga kita."
"Menurut kakak siapa sebenarnya yang ditemani oleh Valda di dalam foto-foto itu. Wajahnya tak pernah bisa kita lihat begitupun dengan wajah Valda. Kita hanya mengenalinya karena dia adalah keluarga kita."
"Ah tidak perlu kita pikirkan siapa orangnya. Yang jelasnya pria itu bukan pria baik-baik karena berani membawa anak orang untuk bermalam bersama tanpa izin keluarganya. Dan aku tidak mau dengan orang seperti itu."
Dewa menelan salivanya kasar. Ia tidak setuju dengan perkataan kakak iparnya. Tidak semua pria yang melakukan hal seperti itu adalah pria yang tak bertanggungjawab. Karena ia adalah salah satu pria dengan jenis seperti itu.
"Mau kemana kak?" tanya Yundha.
"Kami akan pulang ke rumah. Pak Praja dan keluarganya akan datang untuk melamar Revalda. Dewa, kamu kami harapkan bisa hadir di rumah satu jam lagi. Dan kamu Nda, pastikan anak itu menerima perjodohan ini."
Dewa dan Yundha saling bertatapan kemudian mengangguk.
"Baiklah, kami akan kembali ke rumah sekarang. Sampaikan pada Revalda bahwa apa yang kami lakukan ini demi kebahagiaanya."
"Iya Kak."
"Tunggu dulu mas. Aku belum ingin pulang kalau gak ketemu Valda," ucap Selfina dengan tatapan lurus pada mata elang suaminya.
"Ah ya, aku tunggu kamu di depan. Jangan lama-lama," balas Yudha kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Nda. Aku ingin bertemu dengan Valda sebelum pulang," ucap Selfina meminta izin pada sang tuan rumah.
__ADS_1
"Ah ya, silahkan Mbak," ucap Yundha tersenyum.
"Aku antar ya mbak."
"Makasih banyak Nda."
Dua orang itu pun melangkahkan kaki mereka ke dalam kamar Revalda yang memang ia tempati bersama dengan Zizi adiknya Zacky.
Selfina langsung duduk di tepi ranjang dimana sang putri masih menangis sembari tengkurap.
"Val, ini mama sayang," ucap perempuan itu seraya mengelus punggung sang putri.
Revalda tidak merespon. Ia tetap saja menangis.
"Kami minta maaf sayang. Semua kami lakukan karena sangat sayang padamu, Val."
Revalda langsung bangun kemudian memeluk sang mama.
"Kalau mama sama papa sayang, kenapa aku dinikahkan secepat ini? Aku juga tidak mengenal pria itu. Bagaimana kalau aku disia-siakan ma? Bagaimana kalau ia adalah pria yang ringan tangan dan suka memukul?" Revalda mengeluarkan semua uneg-unegnya berusaha untuk membujuk sang mama.
"Pria itu baik nak. Kamu juga mengenalnya. Kamu pernah sangat akrab dengannya sewaktu kalian masih kecil. Keluarganya juga sangat dekat dengan kita. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Selfina menjawab seraya mengelus lembut tangan sang putri.
"Siapa ma?"
"Anaknya Tante Ardina sama om Praja. Ingat gak?" Selfina balas bertanya dengan senyum diwajahnya.
"Siapa ya? Kok aku lupa namanya," jawab Revalda dengan wajah mengernyit. Otaknya ia paksa untuk berpikir.
"Masak belum ingat sih sayang? Padahal kamu dulu sangat mengidolakan dia, selalu cerita kelebihan nya yang jago pidato bahasa inggris."
"Ih, mama. Siapa sih? Katakan saja jangan bikin aku penasaran."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess 😍.