
"Nda...," panggil Merry pada sang putri yang masih tidur di waktu yang sudah sangat sore itu.
"Bangun sayang, ini udah magrib lho," panggilnya lagi karena suara azan sudah berkumandang.
"Ini sudah waktunya berbuka. Kamu lagi puasa 'kan?"
Yundha menggeliat kemudian membuka matanya. Ia memandang sang mama kemudian tersenyum.
"Ayo bangun. Sudah waktunya berbuka lho." Merry membantu sang putri untuk bangun. "Aku cuci muka dulu ya ma. Mama duluan aja."
"Gak apa-apa. Mama tungguin kamu disini," ucap Merry tersenyum. Setelah itu ia dan Yundha bersama-sama ke ruang makan dimana ada banyak anggota keluarga di sana sedang menikmati rujak buah buatan Selfina.
"Hai semuanya," sapa Yundha kemudian menarik sebuah kursi dan duduk. Di hadapannya sudah tersedia bermacam-macam makanan yang sangat enak khas untuk berbuka puasa tapi ia lebih tertarik pada rujak buah yang ada di hadapan Selfina.
"Makan yang manis dulu sayang," tegur Merry saat tangannya bergerak ingin mengambil rujak buah yang nampak sangat menarik di matanya.
"Eh iya ma. Habisnya mbak Sel kayaknya seru banget makan rujaknya, bikin ngiler hehehe," kekeh Yundha seraya menelan air liurnya.
Selfina yang ada dihadapannya sampai berkeringat dengan bibir merah karena kepedasan. Air liurnya jadi semakin terasa ingin tumpah karena sangat tertarik dengan apa yang sedang dimakan oleh ibu muda yang sedang ngidam itu.
"Bismillahirrahmanirrahim Allohumma laka sumtu wa bika amantu birohmatika ya arhamarrohimin," ucapnya kemudian memakan sebiji buah kurma dihadapannya. Setelah itu ia langsung ikut makan rujak buah yang ada di depan Selfina.
Merry hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah Yundha. Anak itu memang sangat suka makan buah tapi bukan buah yang masih muda seperti itu.
"Ya Allah, ini enak sekali mbak. Uggghh pedas enak gitu mbak," ucapnya dengan ekspresi yang sangat nikmat. Rasanya tenaganya yang seharian hilang kini kembali lagi.
Selfina pun sama. Mereka berdua mengunyah mangga muda dan buah yang masih muda itu dengan wajah yang penuh kenikmatan. Yudha sampai-sampai meringis melihat sang istri memakan mangga muda seperti itu.
"Astaghfirullah Yundha. Perutmu lagi kosong sayang. Masak langsung makan mangga asem gitu. Awas asam lambung lho." Merry tampak kaget dan langsung mengambil piring berisi rujak itu dari hadapan dua perempuan yang sedang mengunyah dengan heboh itu.
"Kalo aku bisa 'kan ma? Aku udah makan nasi tadi," ucap Denia dan langsung ikut nimbrung diantara mereka bertiga.
"Ya, kamu bisa. Selfina juga gak boleh terlalu banyak sayang. Ibu hamil itu gampang kena asam lambung kalau ngikutin ngidamnya. Nanti yang siksa kan kamu juga." Merry tampak sewot dengan tingkah anak-anak perempuannya.
__ADS_1
"Nah denger tuh sayang. Udah ya, jangan di makan lagi. Entar malah mual lagi. Ayok makan yang manis aja," ucap Yudha membenarkan. Ia juga melarang istrinya makan terlalu banyak.
"Nda! Sudah! Orang berbuka itu harusnya makan yang manis." Merry kembali menegur Yundha yang malah berpindah ke piring Denia.
"Enak ma. Bikin ngiler. Oh ya ampun. Air liur aku sampai pengen tumpah." Yundha menjawab seraya mencelupkan kembali potongan buah jambu ke dalam bumbu kacang yang dipenuhi banyak cabe itu.
"Sudah! Sekarang kamu sholat dulu kemudian makan supaya gak sakit maag," ucap Merry tak mau memberikan penawaran lagi. Ia sudah tidak sabar melihat Yundha yang berbuka puasa dengan makanan pedas dan asam seperti itu.
"Hum, baiklah," ucap Yundha kemudian meminum segelas susu putih yang memang disediakan untuknya. Setelah itu Ia pun segera kembali ke kamarnya untuk melaksanakan sholat magrib. Ia mengalah karena waktu Magrib padahal ia masih sangat ingin makan.
Semua orang juga kembali ke kamar masing-masing setelah itu mereka baru akan bertemu di meja makan untuk makan malam bersama tapi tidak dengan Yundha. Setelah sholat magrib ia tidak keluar dari kamarnya karena perutnya mulas dan juga merasa mual.
"Oh ya Allah, mama juga bilang apa sayang. Kamu berbuka pakai buah asam sih," ucap Merry khawatir. Ia memijit tengkuk sang putri dengan perasaan yang sangat takut.
"Ueeek ueeek ueeek aduh ma, sakit banget ma!" Gadis itu terus memuntahkan semua isi perutnya sampai cairan terakhir. Ia menangis karena rasa perih yang ia rasakan pada lambungnya.
"Kita ke rumah sakit ya sayang," ucap Merry membujuk.
"Gak. Aku gak mau ma. Aku disini saja," ucap Yundha dengan cepat. Ia sungguh takut ke rumah sakit saat ini.
"Yudha! Tolong!" Merry berteriak keras karena tubuh sang putri ambruk di dalam kamar mandi. Ia tak bisa mengangkat sang putri sendirian. Untung saja Selfina yang sudah lama menunggu jadi khawatir dan akhirnya memasuki kamar sang adik.
"Duh maaf ma. Aku panggil mas Yudha dulu," ucapnya dan segera berlari ke luar kamar dan memanggil suaminya agar membantu mengangkat tubuh Yundha.
Mereka langsung membawa tubuh gadis itu ke rumah sakit. Yundha yang menyetir sedangkan yang ikut sebagai penumpang adalah Merry dan juga Selfina. Denia dan Hanum akan menyusul bersama dengan Yudhi.
"Aku kok ada di rumah sakit ma?" tanya Yundha saat ia sudah siuman. Ia menatap semua orang yang menatapnya dengan tatapan serius.
Merry langsung memeluknya dengan tangis pecah sampai ia jadi bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.
"Katakan siapa yang membuat kamu seperti ini Nda?" tanya Yudha dengan wajah datar. Rahangnya mengeras sempurna. Tangannya pun mengepal di kedua sisi tubuhnya.
Sebuah rahasia besar yang hanya Yudha dan Merry yang tahu selain seorang dokter yang merupakan keluarga dekat mereka.
__ADS_1
"Apa kak?" tanya Yundha dengan wajah pucat. Ia sudah mulai curiga kalau semua orang sudah tahu apa yang terjadi padanya.
"Katakan siapa yang melakukan ini padamu Nda!" tanya sang kakak lagi dengan suara tertahan. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
Yundha menangis dan memeluk sang mama. Ia sekarang sudah sangat takut dengan kemarahan sang kakak.
"Katakan siapa dia atau aku akan.."
"Dewa kak." Yundha segera menyebutkan nama Dewa karena takut dengan apa yang akan dilakukan sang kakak.
"Dewa siapa?!" geram Yudha tak sabar.
"Sadewa Pranawijaya."
Yudha tidak lagi mau mendengar perkataan sang adik. Ia langsung keluar dari ruangan perawatan itu dengan langkah cepat.
Ia harus mencari pria itu saat ini juga dan meminta pertanggungjawabannya. Sedangkan Selfina sendiri merasakan dadanya sesak. Kecurigaannya pada siapa pemilik tespeck itu terjawab sudah.
Akan tetapi ia tak ingin menghakimi. Ia hanya ingin mendengar Yundha menceritakan kronologis kejadian naas ini.
"Mama, maafkan Yundha ma," ucap gadis itu dengan tangis sesenggukan. Ia takut dan sangat kasihan pada sang mama.
"Mama, tolong maafkan aku ma. Aku bukan anak yang berbakti ma."
Merry tidak menjawab tetapi hanya bisa menangis. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya tidak percaya kalau anaknya yang sangat baik dan juga sopan bisa mendapatkan musibah seperti ini.
"Mama ayo katakan sesuatu ma. Aku sudah membuatmu malu ma. Huaaa!" Yundha menangis histeris sampai ia kembali tak sadarkan diri.
Sementara itu, Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah sebuah tempat yang ia tahu adalah tempat nongkrong Dewa setiap malam.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊