Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 45 Tiga Istri


__ADS_3

Ardina dan Praja tersentak kaget akan suara David dari depan pintu kamar. Bibir Ardina terpaksa hanya mengecup singkat kepala si piton kemudian menutupinya lagi dengan selimut.


Dua orang itu saling berpandangan. Mereka sepertinya harus menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan hasrat yang mulai sampai di ubun-ubun.


David kecil yang manis dan lucu kini datang lagi menggangu kegiatan menyenangkan mereka berdua.


"Mama Papa!" David datang dengan berlari dan langsung naik ke atas ranjang dimana mereka berada sekarang ini.


"Ada tante Fina di lual," ujar anak itu dengan nafas ngos-ngosan.


"Tante Fina? Selfina?" tanya Ardina untuk meyakinkan dirinya lagi. Praja hanya bisa mengangkat bahunya seraya menahan tangan istrinya agar tidak berpindah dari tubuh si piton.


"Iya mama. Tante Fina mau liat papa katanya," jawab David dengan wajah sumringah. Setelah itu ia pun turun lagi dari ranjang dan segera keluar kamar. Ia tampak sangat gembira dengan kedatangan gadis itu.


"Kak Praja mau temuin Selfina dulu?" tanya Ardina dengan tatapan penuh cinta pada sang suami.


Praja tersenyum kemudian meraih bibir sang istri kemudian mengecupnya singkat.


"Mana bisa aku keluar menemui semua orang kalau keadaanku seperti ini sayang. Pitonnya gak mau bobok," rajuk Praja dengan wajah frustasi.


Ardina tersenyum seraya menggerakkan tangannya dengan sangat lembut dibawah sana hingga sang suami semakin tak rela ditinggalkan.


"Kak Praja bersabar ya, aku mau temui Selfina dulu. Gak enak tuh jauh-jauh datang kemari malah gak disambut dengan baik."


"Di luar 'kan ada ibu, mama sama papa. Kamu disini saja ya, aku gak kuat nih sayang," ucap Praja dengan tatapan memohon.


"Iya kak. Aku juga. Tapi kamu lihat sendiri bagaimana David. Harus dipastikan ia tidak lagi masuk ke kamar ini dan mengganggu kita," balas Ardina kemudian langsung membuka selimut sedikit dan mengemutt kembali kepala si piton bak menghadapi es krim favoritnya.


"Uugggh." Praja tak tahan untuk tidak mengerang nikmat dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


"Ardina, uggghh ya Allah," desis Praja frustasi.


"Udah ya kak. Aku keluar dulu." Ardina tersenyum. Ia sangat suka melihat ekspresi suaminya yang nampak sangat mendambakannya.


Praja menatapnya dengan penuh hasrat. Pria itu merasakan kepala atas dan kepala pitonnya semakin kompak merasa pusing.


Apalagi perempuan cantik itu langsung ke arah lemari dan meloloskan pakaiannya begitu saja sampai nampak setengah polos.

__ADS_1


"Ardina plis sayang," panggil Praja merajuk manja. Ia sekarang sudah melebihi David yang sangat butuh dikelonin agar bisa tidur.


"Aku mau ganti bajuku yang robek kak, maaf ya," ucap Ardina seraya memakai pakaiannya lagi di depan sang suami.


"Cepat kembali sayang," ucap Praja pasrah. Sang istri benar-benar pergi meninggalkannya dengan santai padahal ia sedang tidak baik-baik saja.


Kepala Praja yang berbalut perban kini ia rasakan berdenyut begitupun dengan kepala bagian bawahnya.


Ia butuh obat sekarang.


Ardina sampai di ruang tamu dengan wajah cerahnya. Ia langsung menemui Selfina dan juga seorang perempuan yang sedang datang bersamanya di ruangan itu.


"Assalamualaikum Bu," ucap sekretaris suaminya itu dengan ramah. Ia langsung menyalami Ardina dengan senyum diwajahnya.


"Waalaikumussalam. Sudah lama Fin?" balas Ardina.


"Belum lama kok Bu. Ini saya bersama dengan mama. Mau melihat keadaan pak Praja."


"Oh ibu. Saya Ardina, istrinya pak Praja."


"Saya Shinta, mamanya Selfina. Saya juga ingin tahu keadaan pak Praja," ucap perempuan paruh baya itu memperkenalkan dirinya sekaligus tujuan mereka datang ke rumah itu.


"Oh tidak masalah. Yang penting kami sudah tahu kabarnya bapak Bu."


"Ah iya. Terimakasih banyak. Silahkan dicicipi minumannya dulu," ucap Ardina seraya mempersilahkan kedua tamunya itu untuk menikmati minuman yang dihidangkan oleh ART nya.


"Tante Fin, main yuk," ajak David yang sejak tadi nempel pada gadis muda itu.


"Main apa sayang?" tanya Selfina dengan wajah gembira.


"Main Lego hihihi," jawab David dengan tawa renyahnya. Setelah itu berlari ke dalam rumah untuk mengambil mainannya.


"David aktif sekali ya Bu. Seneng deh lihatnya," ucap Shinta. Nampak sekali kalau David memang benar-benar bisa menghibur semua orang.


"Iya Bu Alhamdulillah. David sangat senang dengan keberadaan papanya di sini. Sakitnya langsung sembuh," ucap Ardina.


"Yah, anak-anak memang seperti itu Bu. Ia akan sangat senang dan bahagia saat bisa berkumpul dengan kedua orangtuanya dengan utuh." Shinta berucap dengan tatapan tak lepas dari David dan Selfina yang sedang asik bermain.

__ADS_1


"Apalagi untuk seorang ayah atau papa. Saat memutuskan menjadi seorang ayah, maka ketahuilah bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan emosi anak."


"Ayah memiliki peran dalam kehidupan setiap anak yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Peran ini memiliki dampak yang besar bagi seorang anak dan pembentukan emosinya."


Ardina tersenyum. Ia menyimak perkataan perempuan paruh baya dihadapannya itu dengan perasaan gembira. Ia merasa sedang bersama dengan seorang ahli psikologi anak.


"Sama seperti ibu, ayah juga menjadi pilar dalam perkembangan kesejahteraan emosional anak. Anak memandang ayah sebagai penegak aturan. Anak juga mencari ayah untuk memberikan rasa aman, baik fisik maupun emosional. Setiap anak ingin membuat ayahnya bangga. Itulah peran ayah yang mendukung pertumbuhan dan kekuatan batin anak."


"Iya Bu, saya sangat setuju dengan hal itu. David sekarang tampak sangat bahagia dan ceria setelah tahu kalau ia mempunyai seorang papa seperti anak yang lainnya," ucap Ardina. Ia lalu melanjutkan, "Eh, ibu mungkin sudah pernah mendengar permasalahan saya dengan papanya David sebelum ini."


Shinta tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke wajah Ardina. Ia bahkan mendekat dan meraih tangan perempuan cantik itu.


"Ah iya. Saya pernah mendengar tentang keluarga Pak Praja. Dan saya meminta maaf karena pernah berpikir ingin menjodohkan nya dengan Selfina."


"Eh?"


Ardina balas menatap perempuan paruh baya itu.


"Maafkan saya bu Praja. Itu karena saya pikir Pak Praja adalah seorang duda, maafkan saya sekali lagi."


Ardina tersenyum lebar dan menepuk punggung tangan perempuan paruh baya itu.


"Dimaafkan Bu. Dan semoga kedepannya tidak ada lagi niat yang seperti itu pada seseorang yang masih punya keluarga ya Bu."


"Ah ya. Terimakasih banyak atas pengertiannya Bu Praja. Sungguh ini membuat hati saya jadi lega." Shinta balas tersenyum.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam!"


Dua orang itu sama-sama melihat ke arah pintu. Yudha berdiri di sana bersama dengan ketiga istri dari Maher Abdullah.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2