
"Terimakasih atas kunjungan anda pak," ucap Maria, sang kasir saat Dewa membayar minumannya. Pria itu hanya tersenyum tipis kemudian meninggalkan Cafe itu tanpa mau mengambil kembalian uangnya.
Lima kali lagi pria itu datang dan tidak pernah mengambil uang kembaliannya maka aku jamin akan bisa membeli handphone baru.
Kasir itu tersenyum dengan sangat ramah seraya memandang punggung Dewa yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Menurutmu pria itu mencurigakan sekali bukan?" ucap Hilda dari arah samping sang kasir. Bartender itu keluar dari daerah kekuasaannya untuk sekedar bergosip dengan Maria.
"Tampan, cool, kaya, dan memang sangat mencurigakan," jawab Maria tersenyum samar. Hilda membenarkan. Ia juga pernah kecipratan uang pria itu beberapa minggu yang lalu. Dan sekarang, sudah hampir sebulan pria itu menjadi pelanggan di Cafe mereka dan hanya memesan minuman saja setelah itu ia duduk dengan santai kemudian pulang.
"Ia sedang sangat penasaran dengan mbak Yundha," bisik Hilda.
"Benarkah?"
"Iya, dan kamu lihat sendiri 'kan mbak Yundha tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi. Ia tak pernah lagi datang ke Cafe. Apa mungkin mereka ada hubungan rahasia ya?" lanjut Hilda masih berbisik-bisik. Maria terdiam dan ikut menghubung-hubungkan benang merah diantara keduanya.
"Apakah ini waktu untuk bergosip Hilda?" tanya Yudhi tiba-tiba. Dua gadis itu tersentak kaget dan langsung saling menjauh.
"Ah maaf pak. Kami hanya mengobrol santai," jawab Hilda dan langsung melipir ke tempat kerjanya sendiri.
Yudhi menghela nafasnya. Ia juga sangat mencurigai pelanggan yang sangat rajin berkunjung itu dan sempat berpura-pura menanyakan pendapatnya tentang Cafenya tapi pria itu menjawab kalau ia sangat menyukai tempat itu karena memang sangat menarik. Setelah itu pria itu tidak berkata apa-apa lagi apalagi menanyakan tentang Yundha. Jadi ia tidak bisa langsung asal menuduh kalau keanehan adiknya ada hubungannya dengan pria itu.
Dewa melajukan mobilnya meninggalkan Cafe itu. Sudah hampir sebulan ia berkunjung dan menjadi pelanggan Cafe itu tapi tak sekalipun ia melihat gadis cantik yang sudah ia hancurkan masa depannya itu.
"Apa mungkin aku saja yang terlalu baper pada gadis itu hingga bisa bertindak bodoh seperti ini," gumamnya seraya membunyikan musik dari dalam radio mobilnya.
"Ia saja tak pernah mencariku untuk meminta pertanggung jawaban aku padahal ia tahu betul dimana aku tinggal," ucapnya lagi dengan perasaan galau yang teramat sangat.
"Aaargh sial! Kenapa pula aku harus terus membayangkan malam itu!"
Dewa menggerutu kesal seraya memukul kemudinya.
__ADS_1
"Tapi ya Allah. Senjataku tak bisa bangun kalau gak ingat dia. Sial!" Dewa kembali memukul kemudinya dengan sangat kesal.
"Dimana lagi aku harus mencarinya sedangkan semua karyawan di sana seolah-olah menyembunyikan semua informasi tentang dirinya."
Dewa menghela nafasnya. Ia sudah hampir bosan dan menyerah hingga saat ia berada di tengah Traffic light tanpa sadar ia melihat gadis itu sedang duduk di balik kemudinya.
"Apakah ini hari keberuntungan aku?" ucapnya perasaan yang sangat senang. Ia pun memperhatikan gadis itu dari jarak beberapa meter. Yundha tampak berbeda. Wajahnya tampak tirus dan nampak pucat. Ia kelihatan berbeda dengan beberapa saat yang lalu saat ia bertemu dengan gadis itu.
Traffic light berubah Hijau. Semua kendaraan melaju dengan cepat.
"Wow, cepat juga mengemudinya," ucap Dewa tersenyum seraya mengikuti dari jauh mobil Yundha.
🌹
"Assalamualaikum Yuyun Dada Yundha!" sapa seseorang yang sangat Yundha kenal. Gadis itu langsung menutup pintu mobilnya kemudian berbalik. Aril Oesman sedang berdiri tak jauh darinya dengan membawa sebuah boneka beruang kecil ditangannya.
"Kak Aril? Kamu ada di sini?" ucap Yundha dengan suara tercekat kaget. Pria yang telah bergelar dokter keluaran Harvard itu tersenyum padanya kemudian mengangkat boneka Teddy bear nya.
"Kamu kok pucat banget sih? Masih pagi lho ini," ucap Aril seraya menghampiri Yundha yang tersenyum canggung padanya.
"Udah mandi gak baru ke kampus?" tanya pria itu dengan maksud bercanda. Pasalnya, ia tak pernah melihat wajah kusut dan pucat seperti yang dialami gadis pujaannya itu sebelum ini. Yundha aslinya ceria dan juga energik.
"Mandi dong, masak gak sih kak, ada-ada saja deh," ucap Yundha seraya melihat wajahnya pada kaca spion mobilnya.
"Becanda. Bahkan kamu gak mandi pun kamu tetep cantik kok," ucap Aril tersenyum lebar. Yundha ikut tersenyum dengan dada berdebar. Hatinya selalu seperti ini ketika mendapatkan pujian dari pria tampan itu meskipun mereka sebenarnya tak ada hubungan khusus.
"Ada kuliah gak pagi ini?"
"Ada dong. Mana mau aku ke kampus kalau gak ada kuliah. Rugi kak, mending ke Cafe. Eh?," jawab gadis itu kemudian langsung menutup mulutnya.
Ya, sejak kejadian naas itu ia tidak pernah lagi ke Cafe. Ia hanya keluar rumah saat ingin ke kampus selebihnya ia akan duduk melamun di kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aril penasaran. Yundha langsung berpura-pura merapikan rambutnya yang sedang tertiup angin.
"Gak kok. Aku lupa kalau udah resign dari Cafe hehehe." Aril menautkan alisnya semakin bingung.
"Manager dan owner Cafe resign? Hello? Lucu sekali. Boleh numpang ketawa gak? Hahaha!" Aril tertawa terbahak-bahak.
"Ish! Gak lucu. Manager bisa dong resign. Semau-maunya aku dong," ucap Yundha dengan wajah berubah kesal.
"Iya deh. Sekarang kamu masuk kelas gih. Aku tunggu sampai kamu selesai. Aku mau traktir kamu makan siang," ucap Aril tersenyum seraya menyerahkan boneka yang ada di tangannya.
"Iya kak. Aku masuk kelas dulu ya," ucap Yundha kemudian mencium boneka beruang itu dengan dada berdebar. Aril tersenyum kemudian melangkahkan kakinya ke mobilnya sendiri. Ia akan menunggu gadis itu di sana saja sambil bekerja.
Dewa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras sempurna. Hari ini adalah hari ketiga ia menguntit kegiatan Yundha dan sekarang matanya ternoda karena melihat gadis nampak sangat bahagia dengan seorang pria.
"Pantas saja ia tidak mencariku untuk meminta pertanggung jawaban. Ternyata ia sudah mempunyai kekasih," ucap Dewa pelan. Ia menghela nafasnya kemudian masuk kembali ke mobilnya.
Ia harus kembali ke Perusahaan pagi ini karena masih akan bertemu dengan pengusaha dari Jepang itu.
"Aku akan kembali ke sini saat makan siang tiba. Dan ya, persetan dengan kekasihmu itu! Aku yang akan menjadi suamimu selamanya Yundha. Camkan itu!" geramnya dengan perasaan yang sangat kesal.
Sekarang ia sudah banyak tahu informasi tentang gadis itu. Namanya adalah Yundha Tri Abdullah, usia 20 tahun. Jurusan teknik informatika. Dan merupakan anak ketiga dari 3 bersaudara.
Mr. Tanaka dan Yudha Abdullah adalah pengusaha yang sangat disiplin, untuk itu ia harus pergi agar tidak terlambat agar relasinya itu tidak kecewa padanya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1