
"Kalian semua kejam! Mas Maher meninggal tak ada yang memberi tahu aku! Padahal aku juga istrinya!" Desy yang baru saja tiba di rumah duka langsung berteriak histeris.
Merry dan Hanum tercekat kaget. Mereka langsung bertatapan kemudian berdiri menghampiri perempuan itu.
"Ya Allah, maafkan kami Des. Kami bersalah karena telah melupakan kamu," ucap Merry menenangkan.
Perempuan paruh baya itu bahkan langsung memeluk istri ketiga dari almarhum suaminya itu tapi Desy malah mendorongnya hingga Merry terjengkang ke belakang. Untungnya Selfina ada di sana menolongnya.
"Mama gak apa-apa 'kan?" tanya Selfina dengan wajah khawatir. Merry hanya tersenyum tipis untuk menunjukkan kalau ia baik-baik saja. Ia cuma sedikit terhenyak oleh kata mama yang disebutkan oleh Selfina.
Desy mencibir semakin kesal dan marah.
"Kalian menganggap aku ini apa? Aku juga istri mas Maher dan bahkan sangat pantas mendampinginya sampai detik-detik terakhir dalam hidupnya," ucap Desy dengan nada tinggi hingga semua orang yang ada di dalam ruangan itu cukup terganggu.
"Maafkan kami Des, kami lupa dek. Kami juga mengira kamu sedang ada di luar negeri jadi kami terlewat untuk memberitahukan kabar duka ini," jelas Merry dengan perasaan yang sangat tak nyaman.
"Halah! Kalian memang sengaja." Desy mengibaskan tangannya.
"Untuk apa hah? Agar aku tidak mendapatkan bagian dari harta warisannya iyya!" lanjutnya dengan tatapan tajam.
"Astaghfirullah. Kami tidak pernah berpikir seperti itu Des. Kami hanya lupa menghubungimu karena karena begitu shock dengan kejadian ini," ucap Merry semakin tak nyaman.
"Oh ya? Aku sungguh tidak percaya! Mas Maher sekarang sudah berada di bawah tanah dan aku pun tak ada kesempatan untuk melihatnya. Kalian kejam huuuu!" Desy kembali berteriak seperti orang gila. Untungnya orang yang ada di dalam rumah itu hanya para perempuan yang tidak ikut ke pemakaman.
Banyak dari mereka yang memaklumi sikap Desy. Mereka sangat tahu tabiat dan karakternya yang kadang tak beradab.
"Bahkan mas Maher sedang dimakamkan pun tanpa menunggu aku. Sedangkan dia dan dia! lebih tahu dari pada aku!" Desy menunjuk Ardina dan Selfina dengan perasaan marah.
"Semua ini gara-gara dua sekretaris sialan itu hingga hubungan kita jadi hancur seperti ini!" Desy tak berhenti menyalak bagaikan anjing.
Ardina dan Selfina saling berpandangan. Mereka tidak mengerti kenapa diri mereka jadi disalahkan dalam hal ini. Shania dan Asna langsung terpancing. Mereka tidak suka kalau putri-putri mereka jadi orang yang dipermalukan seperti itu di depan umum.
"Mas Maher tak akan pergi secepat ini jika kalian tidak Masuk dalam keluarga kami!" tunjuk Desy pada Ardina dan Selfina.
"Sekarang tinggalkan rumah ini! Aku tak rela melihat kalian!" Desy kembali histeris.
__ADS_1
"Des, ngomong apa kamu? Kenapa kamu jadi menyalahkan orang yang tidak bersalah?" Merry semakin bingung dibuatnya.
"Tentu saja mereka semua bersalah. Karena keduanya hingga kita tidak bisa hidup dengan damai. Aku sangat membenci mereka!" Desy menunjuk Ardina dan Selfina dengan mata berkilat.
"Ardina yang menghancurkan mas Maher dan sekarang Selfina ingin melakukan hal yang sama pada Yudha, mbak Mer!"
"Des! Cukup! Kamu sudah terlalu banyak bicara!" Merry membentak karena semakin tak nyaman dengan apa yang dikatakan oleh Desy. Ia sungguh malu dengan sikap dan tingkah perempuan itu di depan para tamu.
"Aku akan bicara sampai mereka semua pergi dari sini!" balas Desy dengan tatapan tajam pada Ardina dan juga Selfina bergantian.
"Mereka tidak akan pergi dari sini!" ujar Shania mulai terpancing.
"Kenapa? Memangnya siapa kamu?!" Desy menatap tajam perempuan yang telah melahirkan Selfina itu. Shania membuka mulutnya ingin menjawab tapi Selfina memberinya kode untuk tidak meladeni perempuan itu.
"Ya, betul. Kenapa mereka harus pergi hah?!" tanya Yudha yang tiba-tiba muncul dari arah pintu utama. Ia baru saja pulang dari tempat pemakaman sang papa.
Tubuh Desy membeku. Ia tiba-tiba kehilangan nyali untuk menjawab.
"Kamu bukan lagi istri papa dan itu berarti kamu bukan lagi anggota keluarga kami," ucap Yudha dengan wajah datar. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tercekat kaget.
"Akal-akalan apa maksudmu? Bukankah kamu sudah menerima surat berharga itu?!"
"Tidak! Aku tidak menerimanya dan tak akan pernah setuju sedikitpun. Aku masih istri mas Maher yang sah dan aku pantas mendapatkan hak yang sama dengan semua istrinya."
"Yudha, tolong jelaskan apa yang terjadi nak? Kenapa kamu menyembunyikan ini dari mama?" tanya Merry dengan kepala yang tiba-tiba jadi sangat pusing.
"Mama!"
Semua orang berteriak karena tubuh Merry langsung jatuh ke bawah. Untungnya Selfina dengan cekatan menolongnya sekali lagi.
"Mama, bangun ma!" teriak Yudha dengan wajah yang sangat Khawatir. Ia pun segera mengangkat tubuh sang mama ke arah kamar utama di rumah itu. Selfina dan beberapa orang ikut ke dalam.
Semua orang jadi ikutan panik. Dan Desy lah yang menjadi objek tatapan marah semua orang.
"Kalau memang kamu sudah diceraikan oleh mas Maher lalu kenapa kamu masih tidak tahu malu datang ke rumah ini hah?!" tanya Hanum dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Mas Maher tidak akan pernah menceraikan aku kalau bukan paksaan dari Yudha mbak Hanum," jawab Desy dengan tatapan tak kalah tajamnya.
"Yudha sejak dulu ingin merebut aku dari papanya tapi aku tidak mau karena aku setia. Lalu apa balasannya? Ia memfitnah aku dan memaksa mas Maher untuk menceraikan aku!"
Plak
Sebuah map berisi surat berharga bukti talak dari Maher Abdullah untuk Desy kini membungkam mulut perempuan itu. Yudha melemparkan salinan surat talak itu ke wajah Desy dengan keras.
Emosi pria itu sudah sampai di ubun-ubun. Dan sekarang lah saatnya ia mengumumkan pada semua orang tentang status perempuan tak tahu malu itu.
"Aku tidak terima! Dan ini juga tidak sah!" Desy melawan sedangkan Yudha langsung menyeringai kejam.
"Namamu tidak tercatat sebagai istri sah papa di kantor urusan agama karena kamu adalah istri yang dinikahinya secara siri. Dan kamu seharusnya sudah tahu konsekuensinya."
"Kamu tak berhak mendapatkan pembagian harta warisan dari almarhum kecuali kebaikan hati dari kami. Jadi mulai sekarang berhentilah membuat fitnah."
"Tidak mungkin!" Desy menggelengkan kepalanya dramatis dengan dada sesak.
"Kamu perempuan yang tidak bersyukur. Selama papa menceraikanmu seharusnya aku sudah menghentikan tunjangan untukmu tapi aku tidak melakukannya. Tapi sekarang, sepertinya itu akan aku lakukan saat ini juga!"
"A-apa?! Kamu kejam Yudha! Kamu pasti akan mendapatkan balasannya!" Desy kembali berteriak histeris kemudian pergi dari rumah itu.
"Hey! Berhenti kamu!" titah Yudha dengan suara datarnya.
Desy menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik.
"Kamu harus menjadi saksi kunci atas usaha percobaan bunuh diri pada papa. Karena kamulah yang terakhir mengunjunginya di tahanan!"
Desy merasakan tubuhnya membeku. Ia tak mampu bergerak. Rasanya ada batu yang sangat besar yang menimpa tubuhnya. Ia tiba-tiba gemetar takut.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Huffft, like dan komentar dong 🤭 supaya othor semangat updatenya oke?
__ADS_1