
"Gak usah tanya-tanya mas. Aku ini kesal sama kamu. Besok-besok aku gak mau main lagi," jawab Revalda dengan wajah kesalnya.
"Main apa sih?" tanya David lagi dengan wajah bingungnya.
"Main yang tadi itu!" jawab Revalda dengan bibir cemberut.
"Oh main bola sodok?" ucap David langsung faham.
"Ish!"
Revalda mencebikkan bibirnya.
"Gak apa-apa kalau gak mau lagi. Besok pagi kita main jungkat-jungkit aja sayang. Kamu pasti suka dan pengen nambah."
"Gak! Bola sodok aja sampai berdarah. Nanti main Jungkat-jungkit aku kayak gimana coba?"
David tersenyum kemudian meraih tubuh sang istri dan memeluknya.
"Kalau pertama kali memang seperti itu Val, kata orang sakit. Aku aja ngilu sayang. Mana jepitan kamu kuat banget lagi. Aku 'kan gak bisa bergerak bebas sayang."
Revalda tak menjawab. Perempuan itu tak menyangka kalau David juga merasakan hal yang sama yaitu sakit dan ngilu pada daerah intim mereka masing-masing. Ia pikir suaminya itu egois dan menikmati acara tusuk menusuk itu dan membuatnya sakit sendirian.
"Kita 'kan baru saling berkenalan sayang. Kamu dan aku sedang beradaptasi dengan permainan baru yang sangat menyenangkan ini. Jadi itu wajar kalau ada rasa manis dan pahitnya gitu sayang."
David menatap wajah cantik sang istri dengan tatapan penuh cinta.
"Jadi kamu juga merasa sakit mas?" tanya perempuan cantik itu dengan tatapan lurus pada wajah tampan sang suami.
David mengangguk dan tersenyum.
"Kenapa?"
"Ya karena alat yang aku pakai tumpul sayang dan gak tajam. Aku harus berjuang keras untuk merobek dirimu supaya aku bisa menggapai tujuan utamaku yaitu untuk menambah keturunan. Dan karena kamu masih perawan makanya sampai berdarah. Kamu ikut pelajaran biologi gak sih?"
Revalda langsung melepaskan pelukan suaminya dengan wajah memberengut kesal. Kalimat terakhir pria itu membuat jiwa ber pendidikan nya tersinggung.
"Ya ikut lah mas. Aku itu masuk jurusan IPA lho. Nilai-nilai ku sangat bagus. Masalahnya waktu guru menjelaskan materi tentang itu dia gak cerita kalau main bola sodok itu menyakitkan."
David langsung tertawa terbahak-bahak kemudian meraih lagi tubuh Revalda ke dalam pelukannya.
"Trus guru biologi kamu bilang apa saja Hem?" tanya pria itu seraya mengecup ujung hidung sang istri.
__ADS_1
"Ya, beliau cuma menjelaskan tentang sistem dan fungsi reproduksi pada manusia. Cara pembuahan dan masih banyak lagi."
"Eh, tapi beliau nggak pernah bilang kalau ukuran alat reproduksi pria itu bisa sebesar yang kamu punya Mas. Tahu nggak sih, waktu masuk tadi itu aku ngebayangin kayak terong atau timun saking terasa besarnya mas. sakit, perih, dan sesak banget," ucap Revalda dengan wajah manjanya yang sangat menggemaskan.
David tersenyum kemudian meraih tubuh sang istri dan membawanya ke tempat tidur.
"Maafkan aku sayang. Aku gak tahu kalau kamu bisa merasakan sakit seperti itu. Aku pikir kamu menikmatinya," ucap David kemudian mengecup bibir perempuan cantik itu.
"Lain kali aku akan bermain lembut hingga kamu menikmatinya baru aku selesai," lanjutnya seraya merapikan anak-anak rambut sang istri tercinta.
"Iya, aku juga minta maaf karena ngomong seperti tadi mas."
"Iya, sekarang tidurlah. Kamu pasti capek sayang, aku juga akan tidur. Besok pagi-pagi sekali aku akan mengikuti seminar di universitas of Tokyo dan kamu tahu bagaimana gaya hidup orang di sini 'kan? Mereka itu sangat disiplin. Jadi aku tidak ingin mempermalukan negara kita dengan datang terlambat."
"Iya mas, aku ngerti kok."
David mengecup bibir istrinya lagi dan meraih selimut untuk menutupi tubuh perempuan cantik itu.
"Okey, tidurlah. Besok pagi setelah tidur dan beristirahat yang cukup kue apemmu itu pasti tidak akan sakit lagi dan aku jamin kamu pasti akan meminta untuk bermain Jungkat-jungkit lagi."
"Ish mesum!"
Revalda langsung menutup seluruh tubuh sampai kepalanya dengan selimut. Ia jadi malu. Tadi, ia mengeluh sakit tapi tak tahu malu malah mengeluarkan suara-suara lucknut dari bibirnya.
Ia tak ingin mengganggu Revalda yang sedang bersembunyi di bawah selimut karena ia ingin tidur nyenyak malam ini. Takutnya saat ia bersentuhan dengan sang istri, juniornya akan bangun lagi dan minta untuk dipuaskan.
Lagipula, besok pagi ia harus melakukan tugas negara yang dimandatkan padanya. Jadi malam ini, ia harus mengisi energinya untuk acara penting keesokan harinya.
Tak lama kemudian, kamar itu pun sepi. Yang terdengar hanya suara nafas teratur keduanya. Mereka telah tertidur setelah melakukan sebuah ibadah yang diberkahi oleh Tuhan.
🌹
Revalda menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh suaminya setelah melaksanakan sholat subuh. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur di pagi pertama mereka ada di negeri sakura itu.
"Aku pergi sayang. Kamu gak apa-apa 'kan tinggal di kamar saja?" ucap David seraya menatap dirinya di dalam cermin.
"Humm, apa aku tidak boleh ikut mas?" Revalda menatap wajah suaminya meminta pendapat.
David tampak berpikir.
"Apakah aku jauh-jauh ke negara ini hanya akan menghabiskan waktu di dalam kamar saja?"
__ADS_1
"Hum, baiklah. Kamu boleh ikut. Tapi kalau kamu bosan dan lelah menunggu, kamu bisa kok kembali ke hotel ini untuk beristirahat. Soalnya aku akan ada di tempat itu selama sehari penuh sayang. Pagi sampai sore."
"Iya mas. Aku ngerti kok. Hotel ini 'kan dekat banget dengan Universitas of Tokyo. Jadi aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Ah ya baiklah sayang. Kamu hanya punya waktu bersiap selama 10 menit."
Revalda mencebikkan bibirnya, suaminya itu tidak di kampus dan di kamar ini pun, ia tetap saja disiplin dan sangat bossy.
Revalda memakai hijabnya dan menyapukan sedikit bedak padat pada wajahnya kemudian segera menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di depan pintu kamar.
"Taraaaa aku siap mas. Hanya 5 menit!" ucap Revalda dengan senyum lebar diwajahnya.
"Ayok kita berangkat!" ucap David seraya meraih tangan istrinya untuk mengikuti langkahnya yang cepat.
Untungnya daerah intinya sudah tidak terlalu sakit hingga ia bisa mengimbangi langkah David yang begitu cepat berlari ke arah lift untuk memburu waktu.
Sebuah bus sudah siap di depan pintu hotel dan menunggu dua orang itu. Sarah yang sudah lama menunggu di atas kendaraan umum itu langsung mencibir.
"Harusnya gak bawa pasangan sih menurut aku. Urusan penting seperti ini 'kan jadi terganggu karena si anu," sindir perempuan itu. Revalda yang mendengar perkataan yang mengandung sindiran itu langsung merasakan darahnya mendidih.
"Gak usah diladeni Val. Kamu santai saja sayang. Kita nikmati ini sebagai ibadah, okey?" ucap David tersenyum kemudian mempersilahkan isterinya itu duduk terlebih dahulu baru kemudian ia duduk di sampingnya.
"Aku gak suka lho cara dia mas. Emang kamu ada urusan yang belum selesai dengan perempuan itu?" tanya Revalda dengan tatapan menyelidik pada sang suami.
"Gak ada. Dan aku tidak ingin membahasnya Oke?"
Revalda tersenyum senang karena suaminya tidak begitu tertarik berurusan dengan perempuan itu.
Ia pun segera meraih handphonenya dan mengambil gambar dirinya dengan sang suami yang sedang menunduk hingga wajahnya tak tampak di layar kameranya.
Cekrek!
Setelah itu mengirim gambar itu ke dalam story WhatsApp nya dengan caption yang dijamin mengguncang dunia sosial medianya yang terkenal sepi.
I'm In Love.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊