Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 150 Ragu Dan Khawatir


__ADS_3

Yundha keluar dari restoran itu kemudian menyetop taksi yang akan membawanya kembali ke rumah sakit. Meskipun ia sudah lepas dari jeratan pria gila bernama Dewa itu, ia tetap saja was-was dan juga khawatir.


Ia tidak tahu ada apa dengannya sampai bisa terobsesi seperti ini pada dirinya. Dalam hati ia berdoa semoga pria itu tidak lagi mengganggunya.


Di depan rumah sakit. Taksi itu menurunkannya. Ia pun membuka tasnya dan mengambil uang untuk membayar.


"Astaghfirullah. Bagaimana dengan kak Aril?" tanyanya pada dirinya sendiri saat ia menyadari kalau ia sudah bertemu dengan tas dan juga handphonenya.


"Duh kak. Maafkan aku. Aku pergi tadi tanpa menitipkan pesan padamu gara-gara pria brengsek itu," ucapnya dengan hati galau.


Ia pun segera meraih benda pipih yang ada di dalam tasnya dan mengirimkan sebuah pesan permintaan maaf pada pria itu.


[Assalamualaikum kak]


[Maafkan aku ya kak karena tiba-tiba harus pergi tadi. Ada urusan yang sangat penting tadi🙏🤗]


[Mungkin lain kali kita bisa makan dengan tenang]


Setelah tiga pesannya terkirim ia pun menyimpan handphonenya ke dalam tasnya kembali.


Kakinya melangkah ke dalam rumah sakit tapi handphonenya berbunyi menandakan seseorang sedang menelponnya.


"Mama? Assalamualaikum," ucapnya saat tahu kalau yang menelepon adalah sang mama.


"Waalaikumussalam. Kamu ada dimana?" Merry menjawab dengan sebuah pertanyaan lain.


"Aku lagi di rumah sakit dan baru mau masuk ke kamar perawatannya mbak Sel ma," jawabnya tanpa menghentikan langkahnya.


"Balik ke apartemen kakakmu saja. Kami udah pulang."


"Oh gitu ya ma. Okey aku balik. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Yundha menyimpan kembali handphone miliknya ke dalam tasnya dan memutar arah untuk kembali ke area parkiran untuk mengambil mobilnya.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan melanjutkan hidup. Pria brengsek itu pasti akan berhenti menggangguku. Aku yakin itu," ucapnya dengan perasaan yang lebih baik. Ia pun tersenyum kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukannya ke arah apartemen milik sang kakak.


Mama dan semua anggota keluarga langsung menuju ke tempat itu untuk mengantar Selfina pulang dari rumah sakit. Jadi mereka pasti sudah sangat ramai di tempat itu, begitu pikirnya.


Sebuah Apotek ia lewati dan tiba-tiba teringat untuk membeli tespeck. Ia pun menghentikan mobilnya tapi tidak turun. Ia hanya diam berpikir antara mau dan tidak.


"Apakah benar aku sedang hamil?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Oh ya Allah, kenapa aku jadi sangat terpengaruh dengan kata-kata si bajingan itu?"


Gadis itu pun meraba perutnya yang masih rata dengan telapak tangannya.


"Semoga saja aku tidak hamil ya Allah. Bukankah waktu itu aku sudah memberi pelajaran pada alat vitalnya? Jadi ia tidak mungkin melakukan sesuatu padaku. Ia pasti sudah impoten."


"Tapi, kenapa aku belum juga haid padahal biasanya aku udah dapat sejak dua hari yang lalu. Dan ini udah telat dua hari. Oh tidak." Gadis itu menggelengkan kepalanya seraya menggigit bibirnya.


Airmatanya tiba-tiba saja keluar dari pelupuk matanya saat ia membayangkan kalau ia benar-benar hamil padahal ia sangat tak menginginkan pria itu.


"Oh Tuhan. Aku akan berpuasa dan bersedekah kalau aku tidak hamil," ucapnya bernazar.


"Brengsek! Kenapa waktu itu aku tidak minum minuman penggugur saat lolos dari pria menjijikkan itu?" tanyanya lagi dengan hati galau.


Setelah menimbang-nimbang akhirnya ia turun dari mobilnya dan memasuki Apotek itu. Ia akan mencoba membeli alat penguji kehamilan itu untuk memastikan kalau dirinya benar-benar tidak kenapa-napa.


"Aku mau beli semua jenis tespeck dari semua merk mbak," ucapnya pada si penjaga apotek. Perempuan berhijab dari balik kaca transparan itu langsung menatapnya dengan tatapan curiga.


"Kenapa?" tanya Yundha.


"Ah tidak. Silahkan duduk dulu mbak. Akan saya ambilkan," ucap sang penjaga dengan bersegera mengambil semua pesanan Yundha.


Yundha pun duduk dengan gelisah. Tangannya berkeringat. Ia seperti seseorang yang akan menghadapi ujian nasional padahal tak pernah belajar sama sekali.


"Makasih mbak," ucapnya pada penjaga apotek setelah semua pesanannya sudah ada ditangannya. Ia tersenyum dibalik maskernya. Ya, ia sekarang memakai masker karena malu membeli alat seperti itu padahal ia belum bersuami.


Ia pun melanjutkan perjalanannya ke arah apartemen Yudha di Scandinavian Group. Dan dadanya tiba-tiba berdebar saat menyadari kalau di apartemen inilah ia mendapatkan musibah pada waktu itu.

__ADS_1


Ingin ia kembali karena tak ingin mengulang kenangan buruk sebulan yang lalu itu tapi Yudhi, sang kakak sempat melihatnya dan menegurnya.


"Hey! Kamu mau kemana lagi?" tanya pria itu disaat mereka sama-sama memarkirkan mobilnya berdekatan.


"Eh anu kak. Aku baru ingat kalau mau ngambil sesuatu dulu di toko kue," jawabnya berbohong.


"Gak usah. Aku udah bawa kue untuk mbak Sel. Kamu tinggal bantu aku aja." Yudhi langsung membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah kue tart berbentuk bayi lucu dalam sebuah kotak besar.


Yundha tak bisa mengelak. Ia pun meraih kotak besar itu sementara Yudhi mengunci pintu mobilnya.


"Ayok. Mbak Sel pasti seneng. Aku buat sendiri saat dengar kalau ia sedang hamil." Yudhi berucap seraya meraih kembali kotak kue itu dari tangan Yundha. Ia tak mau adiknya itu kesulitan membawa kotak besar itu ke lantai paling atas bangunan berlantai ratusan itu.


"Kak Yudhi gak apa-apa?" tanya Yundha pada sang kakak yang nampak sudah santai dengan perasaannya yang sempat retak dan patah.


"Maksud kamu?" Yudhi menghentikan langkahnya kemudian menatap Yundha. Ia pikir adiknya itu meragukan dirinya yang sedang membawa kotak besar di tangannya sendiri.


"Kak Yudha akan segera mempunyai anak dari mbak Sel. Kak Yudhi udah gak apa-apa 'kan?" jelas Yundha. Yudhi tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Ia tidak perlu menjawab pertanyaan itu.


Luka hati saat patah hati memang tak bisa sembuh dengan cepat tapi ia berusaha realistis sesuai pesan Indy padanya. Ia ingin mensyukuri banyak hal. Hubungan keluarga yang harmonis lebih utama dibandingkan dengan pertikaian antar saudara hanya gara-gara seorang perempuan.


"Kamu yang pencet lantainya Nda," ucapnya saat mereka sudah sampai di depan sebuah tempat yang berfungsi sebagai lift. Yundha segera melangkahkan kakinya ke depan untuk memencet tombol lift yang ternyata ingin dipencet oleh seorang lainnya.


"Eh kamu?"


Dua orang itu saling berpandangan dengan wajah yang sama-sama kaget.


Yundha segera mendahului Jessica dan segera masuk saat pintu Lift itu terbuka. Ia berharap perempuan itu tidak mencari masalah dengannya disaat ada Yudhi di tempat yang sama.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Eh, yakin nih gak mau mampir di karya baru author?

__ADS_1


Mampir dan setia baca hingga akhir 🤭


__ADS_2