Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 249 Perempuan Jablay


__ADS_3

Yudhistira memeriksa kalender duduk yang ada di atas meja kerjanya. Pria itu tersenyum samar saat melihat tanda merah pada beberapa angka yang sudah ia beri tanda khusus.


Tiara sudah dua bulan ini melewati tanggal-tanggal yang ia lingkari pada kalendernya dan tidak juga memberinya waktu libur yang lama untuk berkunjung mengaduk gua sempit dan dalam yang dimiliki oleh istrinya itu.


Sekarang ia yakin, Tiara pasti sudah berisi sesuai yang ia harapkan. Untuk itu ia ingin memberikan kejutan pada istrinya itu dengan memberikan banyak hadiah pada anak yatim yang sering perempuan itu kunjungi.


Pria itu pun melakukan panggilan video pada Tiara yang ada di rumahnya saat ini. Tapi sayangnya perempuan itu tidak mengangkat panggilannya. Untuk itu ia mengirimkan pesan singkat saja agar perempuan itu menjemputnya dengan sangat cantik karena ia akan membawanya mengunjungi panti asuhan sore itu juga.


Setelah ia selesai mengirimkan pesan itu ia pun keluar dari ruangan kerjanya dan mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Ia membeli banyak hadiah sampai cukup mampu mengisi troley nya yang besar.


Hari ini ia sangat bahagia dan berharap apa yang ia inginkan terkabul oleh Tuhan. Dengan bersedekah ia yakin segala hal yang baik akan ia dapatkan dengan penuh keberkahan.


Setelah membayar semua barang belanjaannya ia pun bersiap untuk pergi ke parkiran tapi langkahnya tertahan oleh sosok yang ia kenal.


"Yudhi? Kamu apa kabar?" tanya perempuan itu dengan senyum tipis diwajahnya yang tampak tirus dan tak lebih tua dari usianya.


"Tante Desy?" ucap Yudhis dengan wajah yang sangat kaget. Ia tak menyangka akan bertemu dengan mantan mama tirinya setelah sekian lama.


"Kamu masih mengenal aku Di?" tanya Desi dengan wajah yang sangat bahagia.


"Tentu saja tante. apa kabar?"

__ADS_1


"Aku baik seperti yang kamu lihat," balas perempuan itu dengan menunjuk dirinya yang tampak berbeda dengan penampilannya dulu yang super glamour.


"Tante lagi belanja juga ya?" tanya Yudhis berbasa-basi.


"Hum ya, tapi kamu bisa lihat. Kalau aku hanya bisa membeli kebutuhan ini seadanya saja." Desy menjawab dengan menunjukkan sebuah kresek kecil berisi makanan instan murahan.


Yudhis tersenyum meringis. Ia sangat mengerti maksud dari perkataan perempuan itu. Desy pasti hidup dalam kesusahan setelah keluar dari penjara dengan pemberhentian tunjangan oleh Yudha sang kakak.


"Tante mau belanja apa, biar aku yang bayar," ucap Yudhis dengan perasaan trenyuh. Bagaimana pun juga perempuan itu pernah menjadi istri dari papanya jadi ia merasa perlu untuk menyantuninya.


Desy tersenyum dalam hati kemudian berucap, "Aku selama ini sudah hidup sederhana Di. Aku hanya ingin kamu datang berkunjung ke rumah sederhana aku. Dan kalau kamu ingin memberi santunan pun aku terima saja. Aku ini hidup sendiri sekarang."


"Ah iya Tante. Kalau begitu aku akan menemani Tante untuk berbelanja dan aku akan antar Tante untuk pulang. Mari..."


Desy tersenyum senang. Ia sangat bahagia karena hati Yudhi gampang ia dapatkan seperti dulu. Perempuan itu pun mengikuti sang mantan putra dengan perasaan yang sangat bahagia.


Ia pun memilih apa saja yang ia inginkan mumpung pria itu bisa ia dapatkan.


Setelah semua kebutuhannya terpenuhi sampai satu bulan kedepan ia pun menuju mobil Yudhis karena pria itu bersedia mengantarkannya pulang.


Yudhis pun melajukan mobilnya ke sebuah alamat yang cukup jauh dari tempat tinggal Desy dulu. Dan ternyata rumah itu benar-benar sangat sederhana dibanding kemewahan yang pernah Desy dapatkan saat menjadi istri dari papanya.

__ADS_1


"Tante tinggal disini?" tanya Yudhis dengan ekspresi tak percaya saat memasuki rumah petak perempuan itu.


"Iya Di. Semua pemberian papamu sudah aku jual untuk menyambung hidup. Dan lihatlah, aku hidup sendiri di sini dengan sangat menderita, hiks," ucap Dessy dengan terisak dan langsung memeluk Yudhis.


"Tante maaf, aku tidak bisa lama-lama. Aku harus pulang sekarang," ucap Yudhis tak nyaman. Meskipun ia cukup kasihan pada perempuan itu tapi ia sangat risih jika mereka sangat dekat seperti ini.


Apalagi Desy sepertinya menyalahgunakan kebaikan hatinya.


Perempuan itu membuka pakaian luarnya dan menampilkan pakaian dalam saja.


"Di, aku kesepian. Tidakkah kamu ingin menghiburku sebentar saja?" bisik Desy dengan tatapan lurus ke dalam mata mantan putra tirinya itu.


Sungguh, libidonya yang sudah lama terkubur kini bangkit kembali hanya karena memeluk pria tampan yang sangat mirip dengan Maher Abdullah sang mantan suami.


"Maaf Tante. Aku sudah menikah. Dan aku..."


Belum juga ia selesai dengan kalimatnya, Dessy sudah berani meraihnya lagi dan mendorongnya ke arah sofa. Perempuan itu langsung menindihnya dengan hasrat yang semakin terbakar.


"Tante!"


🌹🌹🌹

__ADS_1


*Bersambung.


Hai readers tersayang, like dan ketik komentar agar author semangat updatenya dong.


__ADS_2