Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 209 Pria Brengsek


__ADS_3

"Bugh!"


"Aargh!"


Aril terhuyung ke belakang karena mendapatkan sebuah serangan tiba-tiba. Ujung bibirnya langsung pecah dan mengeluarkan darah.


Ia menatap pria yang menyerangnya yang tak lain adalah Dewa.


"Brengsek kamu!" teriaknya seraya bersiap untuk menyerang balik.


"Kamu yang brengsek tak tahu malu!" balas Dewa dengan rahang mengeras sempurna. Kepalan tangannya sudah siap kembali meluncur tapi tiba-tiba ia menyadari satu hal.


Yundha mengatakan dirinya kejam dan tak punya perasaan pada pria ini padahal ia tak melakukan apapun. Lalu bagaimana kalau ia benar-benar melakukan sesuai dengan tuduhan istrinya itu.


"Kenapa berhenti hah?!" tantang Aril dengan posisi kuda-kuda yang nampak sudah sangat siap.


Dewa mencibir kemudian menyarangkan satu tendangan bebas pada perut dokter muda itu hingga Aril kembali terjengkang ke belakang.


"Lain kali jadilah pria yang sportif. Jangan memancing di air tenang. Itu sangat tidak baik dokter!"


"Kamu yang tidak sportif! Kamu mendapatkan Yundha dengan cara yang curang. Andai aku tahu dari awal maka aku pun bisa melakukan itu juga padanya!"


"Bugh!"


Satu lagi pukulan telak tiba-tiba saja bersarang pada perut pria itu.


"Brengsek kamu!" Aril mengumpat dengan wajah yang nampak sangat kesakitan.


"Itu yang kamu namakan sportif? Cih!" Aril meludah dan masih berusaha melawan dengan kata-katanya.


"Menyerang orang yang tak berdaya itu namanya pecundang!" lanjut pria itu dengan tangan berada pada perutnya. Ia benar-benar merasa kesakitan sekarang.


"Terserah!" Dewa mengibaskan tangannya di udara.

__ADS_1


"Kamu pantas mendapatkannya. Bukankah kamu sudah menunjukkan pada istriku kalau aku sangat kejam? Jadi inilah kekejaman aku yang sebenarnya," ucap Dewa dengan wajah santai.


"Aku akan memperlihatkan apa yang kamu lakukan padaku ini pada Yundha!" ancam pria itu.


"Lakukan saja. Tapi jangan salahkan aku kalau semua rumah sakit tidak akan mau menerima kamu lagi!" balas Dewa dengan seringai diwajahnya.


Aril langsung merasakan tubuhnya menegang. Wajahnya berubah pucat.


"Kenapa kamu diam? Kamu belum mengenal aku?"


Aril tidak menjawab. Ia pernah mendengar tentang latar belakang keluarga pria itu tapi tidak begitu mengenalnya.


"Lain kali berpikirlah ribuan kali kalau ingin mengganggu milik Sadewa Pranawijaya!" ucap Dewa kemudian meninggalkan dokter muda itu meringis kesakitan.


Pria itu tersenyum miring. Ia harus pulang sekarang. Dan Yundha harus memaafkan dirinya bagaimanapun caranya.


Mobilnya ia lajukan kembali pulang dan tak sengaja melihat perempuan yang pernah ia tolong beberapa jam yang lalu sedang duduk di trotoar sendirian. Pakaiannya masih sama. Dan itu berarti, ia memang sedang dalam kesusahan.


Jiwa kemanusiaannya memaksanya untuk menghentikan mobil yang sedang dikendarainya. Ia pun turun dan menyapa perempuan itu.


"Oh hai mas." perempuan itu tersenyum dari balik maskernya.


"Kamu masih disini?" tanya Dewa dengan senyum diwajahnya. Ia bahkan ikut duduk di samping perempuan itu.


"Hum, iya mas. Aku tidak tahu harus kemana. Semua hal yang bisa membantuku ada di dompet itu dan aku belum juga menemukannya."


"Maafkan istri aku ya, dia sangat mencintaiku begitupun aku juga sangat mencintainya. Kami gampang sekali cemburu dan kadang bertindak diluar nalar," ucap Dewa dengan wajah santai.


Alis Tiara terangkat. Ia merasa sangat lucu dengan perkataan pria itu. Sungguh, ia tak pernah mendengar ada seorang suami yang bisa mengucapkan hal seperti itu pada orang lain.


"Tak apa mas. Aku ngerti kok."


"Baguslah." Dewa menghela nafasnya kemudian melanjutkan, "Aku ingin sekali membantu kamu tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku khawatir istriku kembali marah dan tak membiarkan aku tidur di luar."

__ADS_1


"Hahaha!" Tiara tertawa.


"Kamu lucu sekali. Kamu kelihatannya garang tapi ternyata takut sama istri."


"Bukan takut sih. Hanya gak kuat berjauhan," balas Dewa dengan tatapan menerawang. Ia kini membayangkan Yundha berada di dalam kuasanya. Tak sadar ia tersenyum. Dadanya berdebar kencang.


Hanya perempuan itu yang mampu membuatnya melakukan hal yang diluar nalar.


"Aku ingin mencari pekerjaan mas. Tapi aku tak punya kartu identitas. Kalau boleh meminta tolong, apakah ada tempat yang bisa aku tempati bekerja untuk sementara?"


Dewa tersenyum. Ia pun berdiri dari duduknya. Ia membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan perempuan itu untuk naik.


"Kita mau kemana mas?" tanya Tiara dengan wajah bingung.


"Aku ada tempat yang bisa kamu tempati bekerja. Tidak perlu identitas. Yang penting kamu benar-benar serius. Insyaallah ada tempat untuk menginap dan tinggal di sana."


Tiara tersenyum dibalik maskernya. Ia bersyukur karena ia sudah ada tempat yang ia dapatkan untuk sementara waktu.


Mereka pun berangkat dibawah tatapan marah Ayunda yang ternyata melihat kejadian itu dari dalam mobilnya.


"Kamu benar-benar brengsek mas!" ucapnya dengan airmata yang tanpa permisi mengalir lagi dari pelupuk matanya. Perempuan itu pun meninggalkan tempat itu dan hati yang sangat sakit.


Semua sudah semakin jelas dimatanya. Pria itu ternyata meninggalkannya dan kembali bertemu lagi perempuan yang bernama Tiara itu.


Sudah!


Ia tak sanggup lagi menerima kenyataan ini. Ia harus menenangkan dirinya.


Suami yang dicintainya tak lebih dari seorang penjahat wanita yang sangat berpengalaman. Dan ia adalah perempuan kesekian yang mungkin telah disakitinya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2