
Yudha membungkukkan badannya untuk meraih bola karet yang tadi mengenai punggungnya.
"Lho, kok gak jadi pulang?" tanya Desy saat melihat Yudha kembali masuk ke ruangan itu.
Yudha tidak menjawab tetapi malah menghampiri Selfina dan menyapanya.
"Hai, Fin. Akhirnya kita bertemu ya," ucapnya kalem dengan senyum diwajahnya.
"Om, bola caya." David menengadahkan tangannya ke atas. Ia meminta bola yang dipegang oleh pria itu.
"Ah iya maaf, ini bolanya dek." Yudha memberikan bola itu pada David kemudian menatap wajah Selfina yang nampak malu-malu.
"Fin? Apa kabar?" tanyanya tersenyum.
"Hai kak Yudha. Aku baik," jawab Selfina.
"Yudha!" Desy memanggil dengan cukup keras. Ia sudah tidak tahan berada di rumah itu karena sudah gerah dengan tatapan orang-orang.
"Fin, aku antar mama dulu ya, aku akan kesini lagi, okey?" ucap Yudha kemudian segera pergi dari hadapan Selfina.
"Ayo ma," ucap pria muda itu seraya menarik tangan Merry, mama kandungnya.
"Terimakasih banyak Pak Praja. Kami permisi," lanjutnya berbasa-basi pada sang tuan rumah.
"Assalamualaikum," ucapnya lagi dengan pandangan tak lepas dari wajah Selfina.
"Waalaikumussalam," jawab Ardina dan Praja bersamaan. Selfina hanya menjawab dalam hati.
"Tante, ayo main lagi," panggil David dan langsung membuatnya tersentak kaget. Rupanya gadis itu sempat berada di luar angkasa dalam beberapa menit.
"Ah iya sayang, ayo main lagi," jawab Selfina seraya meraih tangan David untuk menuju ke tempat lain di rumah itu.
Sementara itu, Praja dan Ardina masih memandang kepergian keluarga Maher Abdullah dengan perasaan tak terbaca.
"Jadi karena itu pakaianmu sobek?" tanya Praja dengan tatapan menelisik pada sang istri.
Ardina tersenyum kemudian merengkuh lengan sang suami.
"Aku belum disentuh kok kak. Alhamdulillah, Yudha datang tepat waktu. Kak Sam dan kak Prilya juga hadir kok ditempat itu."
"Hah benarkah?"
"Iya. Dan mereka yang melaporkan kejadian ini pada polisi."
"Syukurlah. Tapi rasanya aku merasa tak ada artinya karena bukan aku yang menolongmu saat itu."
"Gak apa-apa. Bagiku kamu tetap pahlawan kak. Jadi gak usah merasa seperti itu."
__ADS_1
"Iya tapi 'kan?" Praja tetap merasa tak nyaman.
"Sudahlah, bagaimana kalau kakak periksa aku, ada yang lecet gak dengan tubuhku?" ucap Ardina seraya mengedipkan matanya memberi kode.
"Oh, kalau ada yang terluka atau lecet sedikit saja, maka aku pastikan akan menghancurkan tangan tua bangka keparat itu."
"Ayolah kak. Mumpung David lagi ada teman main tuh." Ardina berucap dengan nada manja. Ia sungguh ingin melihat aksi si Piton raksasa milik sang suami mengobrak-abrik sarang yang ia miliki.
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan apa yang mereka lakukan tadi.
"Mama papa ayo main," panggil David saat mereka berdua melewati ruangan bermain putra mereka.
"Main sama tante aja ya, mama sama papa mau ke kamar dulu," jawab Ardina dengan tatapan lurus pada Selfina.
Seakan ia ingin mengatakan Jangan ganggu kami dulu ya.
"Iya Bu silahkan. Saya yang akan bermain dengan David."
"Terimakasih banyak Fin," ucap Ardina seraya tersenyum penuh arti. Perempuan itu pun menyusul suaminya ke kamar.
Selfina hanya tersenyum. Ia sudah cukup mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh pak bos dan Bu bos di dalam kamar. Untuk itu ia harus membuat David betah main bersama dengannya.
"Aaakh!" Ardina terpekik tertahan karena kaget. Pinggangnya langsung dipeluk dari belakang oleh sang suami saat ia masuk ke dalam kamarnya.
"Astaghfirullah. Aku kaget kak," ucapnya dengan suara rendah.
"Kunci pintunya sayang," ucap Praja tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.
Dan
Apakah kita skip aja gaees?
Atau ada yang mau tahu bagaimana Praja memeriksa kondisi tubuh sang istri?
Kita tarik nafas dulu ya genks.
Sekarang, kita lihat apa yang dilakukan oleh Yudha bersama dengan ketiga mamanya.
"Kok kamu berterimakasih pada pak Praja sih, bukankah mereka tidak meringankan hukuman papamu," ucap Merry saat mereka sudah berada di atas mobil.
Yudha tidak menjawab.
Sungguh, ia tidak mau lagi membahas tentang papanya yang sedang terbelit banyak masalah.
Ia cuma berharap pria itu tidak dihukum gantung saja oleh negara karena mempunyai banyak kesalahan yang sangat berat.
Aaa entahlah, ia tidak tahu harus mengatakan apa tentang papanya.
__ADS_1
Semua media massa sudah mulai meliput kasus ini. Rumahnya pun tak luput dari intaian para pencari berita.
"Kamu kayaknya lebih membela mereka daripada keluarga kita Yud," ucap Desy.
"Gak ada yang dibela. Papa memang pantas mendapatkan hukuman dari perbuatannya."
"Tapi 'kan kalau kamu ikut meminta agar Ardina mencabut laporannya bisa lebih membantu," timpal Desy lagi dari arah jok belakang.
"Aaah sudahlah. Mama ini harusnya marah sama papa jangan malah dikasihani." Yudha membuang nafasnya pelan.
"Ah iya ya. Seharusnya kita itu marah karena mas Maher berniat untuk melakukan hal itu lagi pada perempuan lain." Hanum ikut menimpali dengan tampang berpikir.
"Nah, baru sadar ya ma?" ucap Yudha tersenyum.
"Iya. Harusnya kita marah sama mas Maher dan bukannya malah di bantuin," timpal Desy dengan wajah mengeras marah.
Ia semakin merasa kalau pelayanannya selama ini kurang memuaskan hingga suaminya mencari yang lain lagi.
"Hum, memang seharusnya kita marah sih," ucap Merry mendukung. Ketiga perempuan itu membenarkan kata-kata Yudha.
Akhirnya sepanjang perjalanan pulang, mereka jadi sibuk menyalahkan suami mereka.
Ciit
Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah dengan gaya bangunan Eropa itu.
"Mama Desy aku turunkan di rumah utama ya? Aku gak bisa antar pulang. Aku ada urusan penting," ucap Yudha.
Saat ini mama Hanum juga sudah bersiap memasuki rumah kediaman mamanya sebagai istri pertama.
"Lho? Aku gak mau Yud. Aku mau istirahat di kamarku sendiri."
"Tapi aku gak bisa antar ma. Cari sopir aja ya," ujar Yudha seraya menarik tangan perempuan itu untuk turun dari mobilnya.
"Yudha! Kamu tidak sopan sama mama!" teriak Desy marah.
"Maaf ma. Bye! Assalamualaikum!" Yudha segera naik ke atas mobilnya dan melajukan kendaraan itu kembali ke rumah Ardina.
Ia sudah sangat ingin bertemu dengan Selfina di rumah itu.
Rindu, ya ia sangat merindukan gadis itu.
Dan ia berharap dengan bertemu dengannya permasalahan berat yang memenuhi kepalanya bisa sedikit berkurang.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊