
"Pokoknya kamu tidak boleh ikut balapan titik!" jawab David tegas.
"Gak bisa kayak gitu juga pak. Ini tanggung jawab besar lho. Aku gak mungkin mundur di tengah jalan seperti ini padahal aku sudah dibayar." Revalda tetap bertahan dengan keinginannya.
"Kamu sadar gak sih kalau kamu itu anak gadis. Kalau kamu ada apa-apa gimana? Lagian mana ada perempuan yang suka main permainan yang cocoknya untuk laki-laki seperti ini. Pokoknya kamu gak boleh ikutan. Gak ada bantahan!" David berucap dengan tegas. Sungguh, ia tak bisa membayangkan kalau tubuh cantik dan indah itu akan terluka jika terjadi sesuatu di sirkuit yang akan di datanginya.
Revalda mendengus. Bibirnya mencebik kesal.
"Aku tetap akan ikut pak. Mereka percaya padaku melebih mamaku sendiri. Aku tidak akan mundur." Revalda tetap ngotot dan langsung naik ke atas motornya. Akan tetapi David yang tidak sabar langsung saja mencabut kunci motor gadis itu.
"Bapak ini kenapa sih? Maunya apa coba! Utang udah aku bayar trus mau apa lagi?!" Revalda semakin kesal. Ia menatap pria yang dihadapannya itu dengan tatapan tajam. Dadanya naik turun karena emosi.
"Ini bukan kelas ya pak, yang anda bebas mengatur aku dan memaksakan kehendak bapak. Jadi sekarang berikan kuncinya atau aku akan berteriak kalau anda ingin melakukan sesuatu yang buruk padaku!" lanjut gadis itu dengan tatapan yang sangat marah.
David tersenyum saja kemudian memarkirkan mobilnya dengan benar setelah itu ia menghampiri gadis cantik yang masih duduk di atas motornya itu. Ia membawa helm di tangannya yang ia ambil dari dalam mobilnya.
"Kembalikan kuncinya pak!" teriak Revalda lagi seraya mengarahkan tangannya ke depan wajah David yang begitu sangat menyebalkan baginya.
"Aku yang akan ikut balapan itu! Mundur kamu!" ucap David santai kemudian naik ke motor gadis itu dan melajukannya.
"Apa?!" teriak Revalda tak percaya.
"Tapi bagaimana mungkin pak!" Gadis itu benar-benar semakin dibuat pusing saja dengan kelakuan sang dosen. David sendiri tidak menjawab dan lebih memilih berkonsentrasi melajukan kendaraan roda dua bermerk Yamaha R15 itu.
Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota menuju sirkuit yang memang David sering kunjungi saat ada balapan seperti ini.
Tak lama kemudian mereka pun sampai tanpa kendala yang berarti.
"Jaketmu biar aku yang pakai. Tak ada yang akan kenal kalau aku yang akan jadi jokimu," ucap David santai.
"Bapak emangnya bisa?" tanya Revalda masih dengan wajah tak percaya.
"Kita lihat saja nanti, dan kamu akan membayar mahal untuk ini."
"Eh enak saja. Aku gak mau. Mau dihitung sebagai utang lagi ya pak?!"
"Kalau iyya kenapa?"
"Aku gak mau!"
"Emangnya aku peduli?" ucap David dan segera membuka jaket kulit yang sedang dipakai Revalda dan memakainya.
"Kamu diam saja dan jadi penonton. Aku yang akan menang dan menghadiahkan semuanya untukmu," ucap pria itu kemudian segera meninggalkan Revalda di ruang ganti itu.
__ADS_1
Gadis itu menghela nafasnya dengan sangat kesal. Ia tak menyangka akan bertemu dengan seorang dosen resek dan egois seperti itu dalam hidupnya. Meskipun begitu, ia tetap berdoa semoga pria itu menang atau nama baiknya akan hancur di mata para teman-temannya itu.
Balapan pun dimulai. Semua orang tegang menyaksikan jagoan mereka berlaga di tengah jalan tak terkecuali dengan Revalda. Untuk pertama kalinya ia sangat khawatir melihat David menggunakan motornya.
Ketegangan yang dialami Revalda ternyata dialami oleh Ardina juga. Perempuan cantik berusia hampir Setengah abad itu menjerit keras ketika ia sudah berada di dalam apartemen milik sang putra.
Kebiasaannya memeriksa semua ruangan di dalam unit itu kini membuatnya sangat kaget luar biasa. Di dalam kamar mandi di kamar tamu ia menemukan beberapa lembar Panty sedang tergantung dalam sebuah hanger.
Dadanya sesak dan merasakan kinerja jantungnya sedang berada dalam ujian.
"Mas!" panggilnya pada Praja yang sedang menonton acara balapan dari channel YouTube. Pria itu langsung mengecilkan volume suara pada layar televisi di hadapannya. Ia langsung bergegas ke kamar mandi dan menemui sang istri.
"Ada apa sih?" tanyanya penasaran.
"Lihat ini mas!" tunjuk Ardina pada beberapa lembar kain segitiga berenda yang ada di dinding kamar mandi itu.
"Kenapa? Itu 'kan pakaian pribadi wanita? Apa ada yang salah sayang?" tanyanya santai.
"Tentu saja salah mas, David itu anak laki-laki mana mungkin ia memakai pakaian dalam seperti ini!" jawab perempuan itu dengan wajah kesalnya. Wajah Praja nampak bingung kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Siapa saja David berubah menjadi seorang perempuan sayang hahaha."
"Astaga mas. Aku ini serius. Bagaimana kalau ia membawa seorang perempuan ke dalam apartemennya. Oh tidak! Aku takut mas." Wajah Ardina langsung pucat.
"Aku akan hubungi anak itu supaya cepat pulang dan menjelaskan semua ini," ucap Praja dan segera berjalan keluar dari kamar mandi itu. Ia harus menghubungi putranya sebelum terlalu jauh melangkah.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Revalda yang sedang sangat tegang menyaksikan kehebatan David menyalip lawan dengan kelincahannya yang sangat memukau. Revalda bagaikan sedang menonton pembalap favoritnya itu cukup terganggu dengan bunyi panggilan pada handphone sang Doktor.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
"Apa aku harus mengangkatnya?" ucapnya seraya menatap benda pipih yang ada di tangannya. Pria itu memang menitipkannya pada dirinya sebelum masuk ke sirkuit.
"Sepertinya ini panggilan darurat. Aku angkat saja ya, supaya orangnya tahu kalau pak David lagi ada di sirkuit saat ini," ucapnya lagi saat melihat kalau yang memanggil adalah Papa dari pria itu.
__ADS_1
Revalda pun segera menggulir tombol hijau pada layar handphone pria itu.
"Assalamualaikum pak!" ucapnya dengan suara pelan dan sedikit ragu.
Praja Wijaya tertegun untuk beberapa detik. Ia sangat kaget dengan suara perempuan yang menjawab panggilannya. Kecurigaan istrinya sepertinya menjadi kenyataan.
"Waalaikumussalam! Ini nomornya David 'kan?" ucap pria itu setelah lama terdiam.
"Ah iya pak. Kami lagi anu pak..." Belum juga ia melanjutkan kata-katanya. Suara ribut orang-orang disekitarnya langsung membuat panggilan itu terputus. Handphone itu hampir terjatuh karena beberapa penonton berlari turun ke arah sirkuit.
"Yeay Finish!"
Revalda langsung kehilangan kontak. Ia tidak lagi bisa mendengar perkataan pria yang diaku sebagai papa dari pak David, sang Dosen.
Ia pun segera mengambil tasnya dan mengikuti penonton yang lain. Ia sangat penasaran siapa pemenang dari balapan itu. Sedangkan Praja Wijaya langsung menatap wajah Ardina yang sedang menatapnya penasaran.
"Ada apa mas? Apa David akan datang?" tanya perempuan itu.
"Dia lagi bersama seorang gadis. Entah mereka sedang berada dimana saat ini," jawab Praja dengan wajah mengernyit.
"Aduh mas, bagaimana ini. Aku sudah setuju anak itu menikahi putrinya Selfina. Kalau ia sudah punya pacar batal dong perjodohan yang kami rencanakan."
Praja Wijaya menghela nafasnya berat. Bukan perjodohan itu yang ia khawatirkan tetapi pakaian dalamm berbentuk segitiga yang ada di dalam kamar mandi itu yang ia resahkan.
David sedang bermain-main dengan perempuan sebelum menikah adalah hal yang sangat berbahaya.
"Mas, ayo katakan sesuatu," ucap Ardina khawatir.
"Pakaian dalamm itu sayang. Itu sangat mengganggu pikiran aku."
"Masss!" teriak Ardina kesal.
"Kenapa?" Praja bingung.
"Kenapa itu yang kamu pikirkan mas!" Ardina semakin kesal.
"Lah terus aku mau mikirin apa?!" jawab pria itu semakin bingung.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊