
"Kok nyalahin aku?" tanya Yudhi dengan tatapan tajam pada gadis dihadapannya.
"Ya jelas kamu yang salah. Gara-gara kamu semua rencana aku hancur!" balas Tiara sengit.
"Aku seharusnya sudah nikah di luar negeri sama pacar aku. Dan sekarang apa? kamu menghancurkan semuanya!"
"Apa?"
Dua orang itu saling bertatapan dengan sengit.
"Apa?!" tanya Tiara balik dengan dagu terangkat.
Seketika rasa lelah, ngantuk dan capeknya hilang karena pertemuannya dengan pria yang telah membawanya kembali dalam masalah.
"Kembalikan dompetku dan aku anggap semua selesai."
"Selesai apaan? Kamu pikir semua urusan denganmu bisa selesai begitu saja iyya?" balas pria itu dengan tatapan tajam.
"Tentu saja. Semuanya sangat simpel. Kamu berikan dompetku dan aku akan bayar semua kerugian kamu."
"Bayar? Cih! Enak saja. Kamu pikir aku ini pria bayaran? Yang mau digebukin trus dibayar?" Yudhi menatap gadis itu kemudian membuka kancing kemejanya satu-satu.
"Eh, mau ngapain Kamu?!" teriak Tiara khawatir. Ia takut kalau pria itu berani macam-macam dengannya disaat semua karyawan sudah pulang.
"Jangan macam-macam ya? Ini dapur! Aku gak mau dilecehkan di tempat seperti ini!"
"Eh! Percaya diri sekali! Siapa yang ingin melecehkan kamu hah! "Lihat ini!" Yudhi membuka kemejanya dan memperlihatkan tanda ungu kebiruan pada kulitnya.
"Aku hampir mati di gebukin oleh orang di rumahmu. Lalu kalau begini jadinya bagaimana? Kamu harus tanggung jawab!"
"Ish!
Tiara mencibir kemudian menghampiri Yudhi dan mencubit perut kotak-kotak pria itu.
"Dasar lebay! Percuma punya badan bagus dipukul gitu aja minta tanggung jawab! Dasar!"
"Apa? Kamu bilang apa?"
"Dasar lebay! Gak jantan banget. Papa ku yang mukul 'kan?"
"Mana aku tahu!"
"Kalau gitu, sini aku kompres dengan air hangat. Atau salep mungkin. Pasti bisa langsung sembuh."
"Nah itu baru bertanggung jawab namanya." Yudhi tersenyum tipis.
"Disini saja atau di tempat lain?" tanya Tiara seraya menatap ruangan dapur itu.
"Ya enggak di tempat inilah. Seluruh badan aku sakit dan pegal semua. Jadi aku pilih di ruangan aku saja bagaimana?"
__ADS_1
"Jangan katakan kalau kamu ingin mengambil kesempatan ya?" ucap Tiara dengan tatapan menelisik pada Pria itu.
"Kamu terlalu percaya diri. Kamu pikir aku ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan iyya?"
"Yah, siapa tahu aja 'kan? Aku gadis cantik dan kamu? Pria yang lumayan juga. Jadi kalau kita berdua di dalam ruangan bukannya itu akan menjadi fitnah?"
"Halah gak usah ngomong serius kayak gitu. Ayo cepat tanggung jawab dan akan aku berikan dompet kamu!"
Yudhi tak ingin berlama-lama. Ia pun menarik tangan gadis itu dan membawanya ke ruangannya.
"Permisi pak Yudhi, apa bapak nginap di sini? Soalnya saya sudah mau pulang," ucap Eko yang selama ini bertugas mengunci semua pintu di cafe itu.
Pria itu tampak sangat kaget melihat bosnya bersama dengan karyawan baru dan belum juga pulang.
Yudhi pun memandang Tiara yang juga memandangnya.
"Gak pak. Kami mau pulang kok," ucap pria itu kemudian menarik tangan Tiara ke mobilnya. Ia tidak mungkin berada di Cafe itu sampai pagi dengan seorang gadis.
Eko tersenyum. Ia bersyukur karena bosnya itu mengerti dengan apa yang ia pikirkan.
Ia pun mengunci semua pintu dan memandang bosnya itu pergi dengan menggunakan mobilnya.
"Eh, kita mau kemana?" tanya Tiara bingung.
"Ke rumah aku. Kamu akan nginap di sana saja."
"Boleh juga. Tapi sebenarnya aku ingin menginap di hotel aja sih. Aku gak enak ke rumah kamu tengah malam begini."
"Hum, baiklah. Tapi dompetku harus kembali ya."
"Iyaa."
Tiara tersenyum kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil itu. Tak lama kemudian ia tertidur karena kelelahan.
Yudhi sendiri tak tega membangunkannya. Pria itu tersenyum kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia juga sudah sangat lelah dan ingin tidur.
Sesampainya di rumah. Pintu sudah dibuka oleh kang Edi. Ia pun tak ingin membangunkan gadis itu yang nampak pulas dan berakhir menggendongnya ke dalam kamarnya.
Perlahan ia meletakkan tubuh perempuan itu di atas ranjangnya dan mengatur posisinya agar nyaman.
Sepatu gadis itu ia buka begitupun Hoodie yang sedang dipakainya.
"Ini tidur atau pingsan sih. Dibuka semua pakaiannya kok gak bangun-bangun?" ucap Yudhistira dengan perasaan asing yang merambat ke seluruh pembuluh darahnya.
Pria itu jadi tersiksa sendiri karena perbuatannya sendiri membuka beberapa pakaian yang dipakai oleh gadis itu.
"Ya Allah, ada apa denganku. Kenapa aku begitu ingin mencicipi tubuhnya?" tanyanya membatin.
"Oh tidak. Ini tidak benar," ucapnya menyadarkan dirinya untuk tidak berbuat macam-macam."
__ADS_1
Pria itu pun membersihkan dirinya dan menyiram kepalanya dengan air dingin. Ia berharap tidak tergoda lagi.
"Ah, harusnya aku tidak membawanya ke kamar ini. Bisa-bisa aku tidak bisa tidur," ucap pria itu dengan tatapan tak lepas pada Tiara yang sedang nyenyak bagai orang mati.
Dengan membaca banyak doa, akhirnya ia naik ke atas ranjang yang sama dan berusaha untuk tidur.
Gelisah, itu yang ia rasakan. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya berada satu ranjang dengan seorang perempuan.
Lama ia membolak-balik badannya sampai akhirnya ia tertidur saat dini hari datang menjemput.
Mereka berdua benar-benar sangat nyenyak karena kelelahan sampai mereka tak bangun untuk sholat subuh atau pun sarapan.
Merry sendiri jadi sangat senang saat keesokan paginya Dewa dan Revalda pergi mencari Yundha di rumah Ardina. Hanya saja ia jadi khawatir pada Yudhi yang masih berada di kamarnya karena laporan kang Edi.
"Jam berapa Yudhi pulang semalam kang?"
"Jam 12.30 Bu."
"Lho, kok malam banget. Gak biasanya."
"Gak tahu juga Bu. Tapi dia datang dengan seorang perempuan Bu."
*Astaghfirullah. Beneran kang?" tanya Merry dengan perasaan yang sangat kaget.
"Iya Bu. Maaf."
"Terimakasih banyak kang. Kalau begitu aku periksa kamarnya ya. Semoga gak tidur bersama," ucap Merry dan segera melangkahkan kakinya ke arah kamar sang putra.
Tok
Tok
Perempuan paruh baya itu mengetuk pintu kamar Yudhi dengan tergesa-gesa takut telah terjadi apa-apa di dalam sana.
Tiara sendiri langsung terbangun dari tidurnya dan menyadari sesuatu. Sebuah tangan besar sedang memeluk tubuhnya posesif.
"Aaaaa!" teriak gadis itu panik. Merry yang berada di luar langsung lari ke dalam karena pintu kamar itu tidak terkunci.
"Yudhi!" Kali ini Merry juga berteriak dan langsung membuat sang putra terbangun.
"Iya ma. Ada apa?" tanyanya bingung.
"Kalian harus menikah!"
"Tidaaaaaaak!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?