
Ma-ma!" David menyambut kedatangan mereka di rumah itu dengan tawa renyahnya. Rupanya demamnya sudah turun. Hingga ia sudah nampak ceria dan sehat seperti biasa.
"Oh sayangnya mama, udah sembuh ya?" balas Ardina seraya menggendong tubuh putranya itu dengan ciuman bertubi-tubi pada seluruh permukaan wajahnya.
"Udah ma. Udah minum obat sama nyenyek, hihihi," jawab David dengan tawa cekikikannya. Ardina mengendus leher putranya itu hingga ia tertawa kegelian.
"Alhamdulillah. Mama seneng dengarnya." Ardina pun menurunkan tubuh putranya itu kemudian mempersilahkan papa dan mama mertuanya untuk duduk. Sedangkan suaminya itu langsung ia minta masuk ke kamar karena hanya menggunakan selimut dari rumah sakit.
Praja tidak memakai celana karena celananya dibuka paksa oleh sebab luka-luka yang cukup banyak pada kakinya waktu itu.
"Papa?" sapa David pada pria yang sudah lama ia rindukan itu. Langkah Praja terhenti karena panggilan sang putra.
"Iya sayang," balas Praja seraya mencium putranya yang baru diturunkan oleh sang istri.
"Gendong," rajuk David dengan suara manjanya.
"Papa gak bisa gendong. Tangannya tuh lihat masih ada lukanya." Ardina menjawab seraya menunjuk luka pada tangan suaminya. David pun mundur dengan tatapan serius pada kepala sang papa.
Ia baru memperhatikan kalau kepala pria yang sangat dirindukannya itu juga berbalut perban.
"Papa cakit?" tanyanya dengan wajah polos.
"Iya sayang. Jadi papa belum bisa ngangkat tubuh David. Nah tuh salim sama kakek dan nenek dulu," ucap Praja seraya menunjuk kedua orangtuanya.
David pun mengarahkan pandangannya ke arah Alif dan Dewinta yang sedang tersenyum padanya dengan tatapan bingung.
"Ayo kemari sayang. Ini kakek sama nenek." Dewinta berucap seraya membuka kedua tangannya untuk menyambut cucu semata wayangnya itu.
"Ayo David anak pintarnya mama. Salim dulu sayang." Ardina ikut mendorong putranya itu dengan senyum lebarnya.
"Nyenyek kakek?" ucap David dengan tatapan polosnya.
"Iya sayang," jawab Asna yang baru datang dari dalam rumah. Perempuan paruh baya itu langsung menghampiri dua besannya dan menyapa mereka.
Asna dan Dewinta saling peluk dan cium hingga membuat David ikut juga menyapa kedua kakek neneknya.
Ia belum mengenal dua orang itu dengan baik, jadi ia tidak bisa langsung menempel begitu saja kecuali ada pemicunya dari orang yang selama ini dekat dengannya.
"Duh David ya namanya? Kok pintar sekali sih?" ucap Dewinta seraya meraih cucunya itu kedalam rengkuhannya.
"Iya nyenyek. Caya David, cayangnya mama cama nyenyek Asna." jawab David dengan lidah khas anak kecil.
__ADS_1
"Oh pintar sekali cucunya nenek." Dewinta langsung mencium pipi gembul David dengan perasaan penuh haru.
"Bu Asna, ya ampun kami merasa sangat malu dan juga bersalah pada kalian semua," lanjut Dewinta dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian melewati waktu tiga tahun ini pastinya dengan rasa kecewa yang sangat pada kami sekeluarga."
"Tidak apa-apa Bu Dewi, kami sudah melupakan perasaan sedih dan kecewa kami waktu itu. Insyaallah kami Iklhas. Dan ya, Tuhan membalasnya dengan sangat baik dan sempurna. David lahir dengan sehat dan kita semua juga bertemu dalam keadaan sehat dan bahagia," ucap Asna dengan suara tenangnya.
"Itu sudah sangat cukup bagi kami," lanjutnya seraya mengelus kepala David.
"Oh ya Allah. Kalian baik sekali. Dan saya semakin merasa bersalah," ucap Dewinta dengan perasaan tak nyaman. Kesalahannya pada menantunya beberapa tahun yang lalu kini terbayang-bayang di dalam kepalanya.
"Ardina sini sayang," panggil Dewinta pada sang menantu yang sejak tadi diam saja. Perempuan cantik itu sedari hanya melihat interaksi mereka dengan senyum bahagia diwajahnya.
Ardina pun mendekat dan duduk di samping ibu mertuanya.
"Iya ma."
"Kami sangat ingin mengucapkan permintaan maaf padamu nak. Kamu ternyata sedang hamil waktu itu dan saya sebagai ibu mertuamu sungguh tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu, hiks." Dewinta meraih tangan sang menantu lalu menciumnya. Ia merasa sangat bersalah.
"Aku sudah melupakannya ma. Dan terima kasih karena kalian masih mau menjalin hubungan yang sudah terputus ini," balas Ardina ikut menangis.
Mendengar pertanyaan pria yang paling disegani di rumah itu, semua orang yang sedang duduk di sana langsung menatap Praja Wijaya dengan tatapan lurus dan juga serius.
Pria yang sedang menjadi objek pembicaraan itu langsung tersenyum meringis. Ia ingin menggaruk kepalanya yang dibungkus perban tapi tidak bisa.
"Praja, apakah kamu sudah meminta maaf pada istrimu nak?" tanya Dewinta mengulangi pertanyaan sang suami.
Perempuan itu jadi curiga pada putranya karena sejak di rumah sakit Ardina tidak nampak mesra pada suaminya. Menantunya selalu tampak kesal.
Praja menatap istrinya. Ia berharap perempuan yang sangat dicintainya itu mau membantunya menjelaskan apa yang telah terjadi di antara mereka berdua. Akan tetapi Ardina hanya diam saja dengan ujung bibir terangkat.
"Aku baru mau minta maaf pa ma, tapi aku ingin melakukannya di kamar saja," jawab Praja setelah lama berpikir.
"Apa?!" Semua orang langsung kaget.
"Kenapa harus di dalam kamar?" tanya Dewinta curiga.
"Astaghfirullah ma. Kakiku belum bisa ditekuk untuk berlutut meminta maaf pada istriku. Aku ingin meminta maaf di atas ranjang saja," jawab pria itu kemudian meraih tangan Ardina dan membawanya masuk ke kamar.
Ardina tersenyum dalam hati sedangkan semua orang langsung saling berpandangan.
__ADS_1
"Bahkan kamar Ardina pun sudah dihapalnya. Apakah mereka itu?" ucap Dewinta dengan wajah melongo tak percaya.
"Mama papa caya ikut," ucap David dan langsung berlari menyusul kedua orangtuanya.
"Hahaha!"
Semua orang tertawa bahagia. Sedangkan Ardina masih menunjukkan rasa kesalnya.
"Katakan padaku, bagian mana saja yang disentuh oleh perempuan itu kak!" ucap Ardina saat mereka sudah sampai di dalam kamar.
Praja menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia tak menyangka kalau istrinya masih saja mempermasalahkan tangan Yusta Yusuf yang berada di kakinya tadi.
"Ayo jawab!"
"Sayang, kita gak usah membahasnya ya, aku lagi ingin istirahat."
"Ish! Gak peka banget!"
"Okey, baiklah. Aku akan mengatakannya tapi janji jangan marah ya?"
"Gak!"
Pria itu pun naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Ia membuka selimut dari rumah sakit yang sejak tadi dipakainya bagaikan sarung.
Ia meraih tangan istrinya itu agar mau duduk di sampingnya di atas tempat tidur itu.
"Yusta hanya menyentuh kakiku seperti ini. Ia hanya sekedar menyentuh untuk memastikan dibagian mana yang sakit sayang," ucap Praja seraya meraih tangan Ardina untuk menyentuh kakinya seperti yang dilakukan oleh Yusta waktu itu.
Karena Ardina tidak bereaksi, ia pun menuntun tangan lembut itu bergerak sampai ke pahanya. Gelenyar aneh pun kini mulai saling berkejaran dari dalam pembuluh darah Praja.
Mereka berdua saling bertatapan dengan perasaan yang tidak bisa mereka lukiskan dengan kata-kata.
Seketika ular piton Praja yang tadinya tertidur kini menggeliat pelan kemudian bangun dengan sangar karena belaian jari-jari lentik sang istri.
"Papa? itu kenapa?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentarnya dong 🤭
__ADS_1