Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 151 Masih Ingin Mengulang


__ADS_3

Jessica dan Yundha saling lirik di dalam kotak besi itu tapi tidak saling menyapa. Mereka berdua merasakan perasaan yang sama-sama gelisah. Rasanya mereka seperti berada pada sebuah tempat selama berabad-abad lamanya dan berharap segera keluar dari tempat itu.


"Oh ya. Mas Dewa gak nginap sama kamu semalam 'kan?" ucap Jessica tiba-tiba dan langsung membuat Yundha merasa gerah yang teramat sangat.


"Asal kamu tahu ya. Mas Dewa ada bersamaku sepanjang malam," lanjut perempuan itu berusaha memanas-manasi. Yundha ternganga bukan karena cemburu tapi karena ekspresi Yudhi yang ada di sampingnya nampak sangat kaget dengan perkataan perempuan itu.


"Oh baguslah. Kamu tidak marah. Padahal aku sangat ingin kamu marah," ucap Jessica dengan seringai diwajahnya. Yundha masih berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh.


"Aku hamil dan aku pastikan perhatian mas Dewa akan lebih banyak padaku meskipun kamu istrinya yang sah," lanjut perempuan itu kemudian keluar dari lift saat lantai tempatnya tinggal sudah sampai.


Yundha bernafas lega karena perempuan itu akhirnya keluar dan menyisakan ia dan Yudhi di dalam kotak besi itu. Tapi ternyata tatapan Yudhi padanya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Apa ada yang perlu kamu jelaskan padaku Nda?"


"Tidak ada kak," jawabnya cepat.


"Siapa perempuan tadi. Apa kamu mengenalnya?"


"Tidak kak."


"Benarkah?"


"Aku hanya tahu kalau ia bernama Jessica dan juga sedikit aneh. Kamu tahu aneh 'kan kak?" ucap Yundha seraya meletakkan jari telunjuknya di keningnya.


"Siapa Dewa?" tanya Yudhi lagi dengan wajah yang masih penasaran.


"Ah sudahlah kak. Aku bilang perempuan itu sedikit aneh. Ia gila dan bicara sendiri. Aku rasa ia terlalu terobsesi dengan pria yang bernama Dewa jadi kakak tidak usah memikirkannya okey?" Yundha berusaha mengelak. Ia benar-benar tak ingin kakaknya itu bertambah kecurigaannya pada dirinya dan pria brengsek seperti Dewa.


Ruangan itu kembali sepi. Dua orang itu tak berbicara tapi kepala mereka sibuk memikirkan hal-hal yang sangat meresahkan.

__ADS_1


Tring.


Akhirnya mereka sampai di lantai terakhir bangunan berlantai ratusan itu. Yundha menghela nafas lega karena ia bisa terbebas dari Yudhi sang kakak.


"Aku tetap akan mengawasi kamu Nda. Kamu sangat mencurigakan," ucap Yudhi sebelum mereka keluar dari lift itu. Yundha hanya tersenyum meringis kemudian mengikuti langkah sang kakak menuju ke unit apartemen Yudha.


Ia pun mengetuk pintu unit karena Yudhi sedang membawa sebuah kotak besar berisi kue untuk yang sedang berbahagia menyambut kebahagiaan akan datangnya seorang calon bayi.


"Assalamualaikum!" Salam Yudhi dan Yundha bersamaan saat pintu terbuka.


"Waalaikumussalam." Semua orang yang ada di dalam sana langsung menjawab salam dengan kompak.


"Wah ini udah ramai banget. Udah pada lama ya?" tanya Yundha seraya melompat gembira karena di dalam ruangan keluarga yang sangat luas itu sudah terisi oleh banyak saudaranya dari pihak mama Hanum.


"Udah dong," jawab mereka kompak.


"Kamu aja yang sedari tadi gak jelas. Katanya pergi makan siang sama Aril eh, tahu-tahunya anak itu nelpon mama kalau kamu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkannya. Kamu itu gimana si?" Merry, sang mama langsung mengoceh menjemputnya dengan gerutuan.


"Kamu tega lho sama dia. Jauh-jauh dari luar negeri pulang-pulang malah ditinggalkan," gerutu Merry lagi. Yundha membuang nafas karena merasa sangat tak nyaman dan juga merasa bersalah pada pria itu. Akhirnya ia jadi ingat akan mamanya Dewa yang katanya adalah sahabat mamanya sendiri sewaktu masih SMP.


"Gini ma. Tadi tuh, ada seseorang yang katanya sakit dan pengen banget ketemu aku. Katanya udah lama gak ada nafsu makan gitu. Nah aku menemui orang itu. Dan ternyata dia adalah sahabat mama sewaktu masih SMP. Tante Rania namanya, ingat gak?" Terpaksa Yundha harus mengatakan alasan itu karena tak ingin disalahkan oleh sang mama.


"Rania? Rania yang istri pengusaha Pranawija itu ya?" ucap Merry mengingat-ingat. Yundha mengangguk.


"Oh ya Allah. Rania memang sahabat mama tapi udah lama gak ketemu muka. Cuma saling mendengar kabar dari teman-teman saja. Kok bisa sakit sih sayang? Dan gimana caranya kalian bisa bertemu?"


Yundha membuang nafas lagi. Ia pikir ia hanya akan memberikan informasi ini sebagai alasan agar mamanya tidak marah padanya sekarang malah dituntut untuk menceritakan kronologis pertemuannya dengan perempuan itu.


"Duh ma. Panjang ceritanya kayak Bekasi ke Jakarta. Jadi gak usah aku cerita ya, dia cuma titip salam sama mama. Udah gitu saja."

__ADS_1


"Lho, ada nomor hapenya gak sayang? Mama 'kan bisa mengobrol santai dengannya."


"Gak ada ma. Lupa. Soalnya aku buru-buru mau ketemu mbak Sel. Pengen ngasih selamat," jawab gadis itu dan langsung berdiri dari duduknya. Ia harus mencari kesibukan dan menghindari pertanyaan-pertanyaan dari sang mama.


"Yah kamu gimana sih? Bawa informasi kok sepotong-sepotong sih, gak asyik tahu gak?" Merry nampaknya masih sangat penasaran dengan cerita yang dibawa oleh Yundha.


"Maafkan Yundha ma. Tapi nanti deh kalau ketemu lagi akan Yundha minta nomor hapenya agar mama bebas ngobrol," ucap Yundha seraya meninggalkan perempuan itu dan melangkahkan kakinya ke arah kamar sang kakak tapi langkahnya dihadang oleh adik-adiknya dari mama Hanum. Mereka menagih janjinya membawa anak-anak itu ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli mainan.


Akhirnya ia pun harus meladeni mereka semua dan tidak jadi menuju kamar sang kakak.


Sementara itu, Yudha yang masih berada di dalam kamar sedang mandi besar bersama dengan istri tercinta. Maklumlah mereka telah melakukan ibadah sewaktu di rumah sakit beberapa jam yang lalu dan baru mempunyai kesempatan untuk mandi setelah mereka tiba di apartemen mereka sendiri.


"Pantas saja kamu semakin lezat akhir-akhir ini sayang. Ternyata kamu lagi mengandung anakku," ucap Yudha seraya mengecup perut sang istri yang masih rata itu.


"Aku juga gak tahu mas kalau aku lagi hamil, meskipun sebenarnya udah sempat nebak-nebak gitu," balas Selfina seraya menutup matanya. Ia begitu menikmati pergerakan bibir suaminya sudah bergerak tak terkendali dan menuju kemana saja yang ia sukai.


Yudha tidak sempat lagi berbicara. Ia sedang menikmati pucuk merah muda milik istrinya yang semakin menggoda saja dari waktu ke waktu.


Pria itu sepertinya masih ingin melanjutkan apa yang mereka lakukan di rumah sakit yang begitu sangat singkat tadi karena gangguan dari sang mama.


Dan ...


Semua readers sudah paham 'kan?


Okey kita skip saja.


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2