
Yudha jadi sangat penasaran dengan sikap Dewa yang tampak sangat gelisah sejak mereka tiba di kota itu. Pria itu sebentar-sebentar menggulir-gulir layar handphonenya tapi tidak juga melakukan apa-apa.
"Rindu sama anak keras kepala itu ya?" tanya Yudha berusaha menebak-nebak. Dewa tersenyum. Ia pun mengangguk pelan. Entah apa yang dilakukan istrinya yang sedang berjarak dengannya itu sampai ia sangat merindukannya.
"Jangan khawatir. Kita sebentar lagi akan kembali kok. Aku juga gak bisa jauh-jauh dari Selfina. Apa ini karena istri kita itu sama-sama hamil ya. Kok terasa sangat lezat dan pengen anu aja hahaha!"
Dewa mendengus. Apalah dirinya yang hanya bisa menyicip-nyicip tubuh istrinya setiap malam tapi takut melakukan hal yang lebih.
Ia khawatir kalau Yundha nanti terbangun dan berakhir salah faham dan menolaknya lagi.
"Maafkan Yundha ya Wa. Kamu harus mempunyai stok sabar yang banyak untuk menghadapinya. Kami akui ia memang sangat keras kepala." Yudha berucap dengan wajah yang penuh simpati. Ia yakin hubungan rumah tangga sang adik belum bisa dikatakan baik.
Dan juga, ia tahu bagaimana cintanya Dewa pada Yundha. Tatapan pria itu pada adiknya sangat bisa ia lihat. Ada begitu banyak cinta di sana.
"Maafkan Yundha kalau selama ini belum bisa jadi istri yang baik," ucap pria itu lagi seraya menepuk bahu Dewa.
"Ah ya. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku belum juga bisa menaklukkan hatinya." Dewa tersenyum.
"Kamu baik sekali. Aku berharap kamu bisa mengajaknya untuk mengobrol baik-baik. Semua perempuan itu gampang luluh kok kalau kita berikan perhatian lebih. Kamu tak tahu saja bagaimana perjuangan aku mendapatkan Selfina. Beuh...Aku sampai menjadi gembel selama tiga hari tiga malam untuk meyakinkan dirinya dan keluarganya agar mau menerima aku."
"Benarkah? Aku pikir kamu Casanova sejati yang gampang mendapatkan perempuan hahaha."
"Untuk seorang yang sangat mahal dan spesial kita memang harus berjuang keras dan bahkan tak punya urat malu lagi yang penting kita bisa mendapatkan hatinya."
__ADS_1
Dewa tersenyum. Ia setuju dengan yang dikatakan oleh Yudha. Sungguh, ia belum berusaha keras untuk mendapatkan perempuan istimewa itu dan malah ingin menjadi pejuang pasif saja.
"Ah ya. Itu betul sekali. Kurasa aku belum berjuang maksimal selama ini." Dewa membenarkan perkataan sang kakak ipar. Ia memang akhir-akhir ini terlalu mengalah dengan memberikan perhatian dari jauh saja padahal perempuan pada dasarnya ingin bukti yang nampak di depan matanya.
"Mr. Tanaka sudah sangat puas melihat cara kerja karyawan pada pabrik itu. Dan ia sudah ingin kembali ke ibukota. Jadi kita bisa kembali sekarang. Aku lihat kamu sudah sangat merindukan anak manja dan keras kepala itu."
Dewa meremas tengkuknya sedikit malu. Ia memang sudah sangat merindukan Yundha. Dan ia jamin akan kembali menjadi seorang Sadewa Pranawijaya lagi. Ia akan membuat perempuan itu berada dalam kuasanya lagi. Mau atau tidak.
"Bagaimana pak Yudha dan pak Dewa, kita pulang sekarang?" ucap Mr. Tanaka saat mereka sudah kembali dari pabrik.
"Ah iya Mr. Kita akan kembali sekarang juga." Yudha menjawab dengan senyum diwajahnya.
"Baguslah. Saya suka cara kerja kalian. Dan saya rasa kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak dari kerjasama ini." Pria berkewarganegaraan Jepang itu tersenyum. Ia sangat puas bekerjasama dengan dua pengusaha muda yang sangat disiplin itu.
[Mau dibelikan oleh-oleh apa mamanya Dewa junior?]
Satu pesan terkirim setelah melalui seleksi dan penyaringan yang sangat ketat.
Apa pesan itu tidak terlalu lebay? Ucapnya membatin.
Aku kok jadi gugup begini sih, padahal tanpa berkata-kata pun aku pasti bisa mendapatkan hati perempuan cantik itu.
Sisi narsisnya tiba-tiba saja muncul kembali. Dan alhasil membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Um, kalau pengantin baru begitu ya?" ucap Mr. Tanaka sengaja menyindir.
Yudha dan Dewa langsung merasa tak nyaman dan berakhir tertawa garing.
Bukan hanya Dewa yang merasa tersindir tapi ia juga karena melupakan tata kesopanan pada lawan bicaranya gara-gara sesekali berbalas pesan pada Selfina.
"Maafkan kami Mr. Tanaka. Kami sudah sangat rindu pada istri kami, hehehe," kekeh Yudha dengan wajah yang sangat malu.
"Ya ya, saya sangat mengerti. Sewaktu masih muda dan baru menikah saya juga seperti itu. Tapi sekarang istri saya sudah tiada. jadi saya hanya sibuk bekerja untuk kepuasan diri sendiri.
"Maafkan kami Mr." ucap Dewa dengan perasaan simpati pada pria paruh baya itu.
"Tak apa. Itu sudah berlalu dan saya memang sangat kesepian saat ini. Jadi mumpung masih muda dan saling mencinta, manfaatkan waktu dan kesempatan itu sebaik-baiknya."
Dewa dan Yudha tersenyum. Mereka memang berniat untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya waktu yang diberikan Tuhan untuk saling membahagiakan.
Sayangnya di tempat lain, kebahagiaan dua orang itu sedang terancam. Yundha tiba-tiba saja disekap dan dibawa oleh seseorang ke sebuah tempat sepi.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊.