Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 201 Ingin Juga


__ADS_3

"Oeeek!"


"Oeeek!"


"Selamat! Bayinya udah lahir dengan sehat dan selamat!" ucap seorang dokter kandungan di depan pintu ruang bersalin.


"Alhamdulillah ya Allah!" Semua orang mengucap syukur karena bayi yang ditunggu-tunggu kelahirannya kini sudah lahir setelah perjuangan yang cukup menyakitkan dari seorang ibu seperti Selfina.


Yudha menyapu wajahnya penuh syukur. Semua anggota keluarga datang memeluknya memberikan selamat karena sudah menjadi seorang papa tak terkecuali Yudhi yang juga ada di tempat itu.


"Masuklah Yudh. Kumandangkan azan di telinga kanan dan iqomah di telinga putrimu nak," ucap Gani sang papa mertua.


"Iya pa. Aku akan masuk. Terimakasih banyak atas doanya hingga Selfina melahirkan dengan selamat," balas Yudha kemudian segera masuk ke ruangan bersalin untuk menemui sang istri tercinta.


Pria itu ada di luar ruangan karena tak tega melihat penderitaan sang istri yang merasa kesakitan meskipun itu hanya beberapa jam saja.


"Mas," ucap Selfina saat melihat suaminya menemuinya. Ia merasa sangat bahagia karena sudah melakukan tugas dengan baik.


"Iya sayang. Alhamdulillah dan makasih banyak karena kamu sangat kuat," balas Yudha dengan airmata haru dan bahagia yang keluar dari kelopak matanya. Ada banyak rasa yang tak bisa ia ungkapkan melihat Selfina baik-baik saja.


Pria itu pun mencium kening sang istri dengan penuh cinta seraya menggenggam tangannya.


"Wah selamat ya pak. Istrinya melahirkan termasuk cepat lho. Pembukaannya sangat cepat dan lancar. Apa sih rahasianya?" tanya sang bidan seraya menyerahkan sang baby girl yang baru lahir ke pelukan Selfina.


"Terimakasih banyak dokter," ucap Yudha.


Suami istri itupun saling bertatapan kemudian melempar senyum. Mereka tidak mungkin mengatakan kalau mereka punya cara sendiri hingga bisa melahirkan dengan cepat seperti ini. Selain berdoa pada Tuhan Yudha juga terlalu rajin berkomunikasi dengan sang bayi dan membantunya menunjukkan jalan keluar lewat gaya favorit mereka.


"Aku azani baby kita dulu ya sayang," ucap Yudha meminta izin untuk meraih sang bayi ke dalam gendongannya.


"Iya mas." Selfina menjawab dengan tatapan penuh cinta pada sang buah hati yang sangat cantik itu.


"Allahu Akbar Allahu Akbar!"


"Allahu Akbar Allahu Akbar!"


...


Setelah Yudha selesai mengazani sang putri. Selfina pun langsung diminta oleh dokter untuk menyusui bayi itu.

__ADS_1


"Tapi aku belum ada air susu dokter," ucap perempuan itu menolak dengan langsung menyebutkan masalahnya.


"Gak apa-apa bu. Mulai sekarang harus dibiasakan. Bayinya akan belajar menghisap dan memancing air susu untuk keluar," ucap sang dokter seraya mencoba mengarahkan mulut kecil bayi yang baru lahir itu ke arah pu*Ting Selfina.


Selfina meringis antara perih dan sakit yang ia rasakan ketika putrinya sangat antusias menghisapnya.


"Aaakh, mass," keluhnya tak nyaman.


"Sakit ya sayang?" tanya Yudha dengan tatapan khawatir. Selfina hanya mengangguk saja dengan mata berkaca-kaca.


"Duh kok bisa sih? Biasanya gak sakit lho dokter kalau aku yang melakukannya," ucap Yudha tak sadar. Ia keceplosan hingga membuat dokter dan para bidan langsung menatapnya.


Selfina tak bisa berkata-kata. Suaminya memang kadang-kadang terlalu percaya diri.


"Gak apa-apa pak. Lama-lama nanti gak akan sakit lagi kok. Yang penting udah harus dibiasakan. Nanti air susunya akan segera keluar kalau bayinya selalu dilatih seperti itu."


"Oh gitu ya?" ucap Yudha tersenyum. Selfina langsung menatapnya tajam.


"Oeeek Oeeek!"


"Wah babynya gak nyaman karena lapar ternyata. Nanti akan keluar kok sayang. Sabar ya. Yang penting kamu harus hisap terus ya," ucap sang dokter pada sang bayi yang ternyata tidak mendapatkan apapun hingga dia jadi tidak sabar.


"Apa aku saja yang pancing sayang. Kasihan dedeknya udah lapar tapi belum juga dapat," ucap Yudha dengan suara pelan.


"Mas. Kamu gimana sih? Kok malah mau gantikan putri sendiri!" balas Selfina berpura-pura marah. Yudha langsung tersenyum meringis.


"Maaf, aku kan kasihan sayang."


"Humm, dasar!"


🌹


Selama dua hari di Rumah sakit dan sudah tampak pulih. Selfina dan sang dedek bayi pun pulang ke rumah.


Semua orang bahagia dan menyambut kedatangan mereka dengan sangat antusias. Setelah sekian lamanya rumah itu akhirnya mendapatkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik.


"Mas, aku juga udah pengen lahiran," ucap Yundha pada sang suami.


"Lho kenapa? 'Kan belum waktunya sayang. Gak usah buru-buru. Nanti ada kok waktunya." Dewa menjawab seraya membawa sang istri ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Sekarang kamu nikmati saja dulu kehamilan kamu," ucap Dewa lagi seraya mendudukkan istrinya di atas ranjang mereka.


"Iya sih mas. Tapi aku kok cemburu sama mbak Selfina. Sekarang perutnya pasti udah ringan dan sudah bebas melakukan apa saja. Melahirkannya juga lancar banget padahal awalnya dibilang sungsang."


"Eits, jangan berkata seperti itu sayang. Allah tahu semua yang terbaik untuk hamba-Nya. Kamu juga sebentar lagi melahirkan kok. Dan insyaallah lancar dan juga selamat."


Yundha tidak menjawab tetapi hanya mengelus perutnya yang tiba-tiba saja mengencang dan kontraksi palsu.


"Mass, bayinya bergerak kuat sekali, ughhhh," ucap Yundha teralihkan. Dewa pun segera menyibak pakaian istrinya dan mengelus lembut bagian perut istrinya yang tampak menonjol ke depan karena tendangan kaki sang bayi di dalam sana.


Dewa pun mengecupnya lembut dan mengajaknya mengobrol sesuai kebiasaanya seperti ini. Ya, ia dan Yudha sering sekali berbagi cara atau kebiasaan baik pada sang bayi dalam kandungan agar kedua istri mereka melahirkan dengan lancar dan selamat.


"Tuh, bayi kita merespon sayang. Dia bilang akan membantu mamanya dan tidak menyulitkannya saat ingin lahir di dunia ini," ucap Dewa seraya mengelus perut buncit itu dengan penuh perasaan.


Yundha pun tersenyum penuh haru. Hatinya mengaminkan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


Dewa sendiri segera menutup pakaian istrinya karena takut tergoda. Ia segera mengambil air wudhu kemudian meraih sebuah mushaf dan membacakan surah Maryam untuk istri tercinta.


Ia berharap Yundha juga bisa melahirkan dengan mudah seperti bunda Maryam.


Sementara itu di luar sana, para anggota keluarga dan juga tamu yang datang masih sibuk membahas tentang bayi yang baru lahir di tengah-tengah mereka.


Orang-orang itu tampak sangat bahagia dan tak berhenti memberikan selamat pada Yudha dan Selfina.


Yudhi entah kenapa merasa sangat cemburu diantara rasa bahagianya menjadi seorang om.


Tiba-tiba saja ia juga ingin mempunyai seorang istri dan juga mempunyai seorang bayi yang lucu.


Tapi...


Belum ada seorang pun perempuan yang mampu membuat hatinya berdebar.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Adakah hadiah untuk baby girlnya? Ngarep dot com. Hehehe.

__ADS_1


__ADS_2