
Revalda tak bisa menjawab. Ia memang telah merusak mobil pria itu dengan spion motornya yang sengaja ia rancang tidak ramah lingkungan.
"Kenapa kamu diam hah?!" tanya David dengan tatapan tajam dari balik kacamata hitamnya.
"Apakah kamu tidak ingin mengakui kalau kamu sudah merusak milik orang lain dan tak ingin bertanggungjawab iyya?" tantang pria itu lagi.
Revalda masih diam. Ia tersudut. Ia akui ia yang telah merusak mobil itu tapi ia gengsi mengakuinya.
"Kamu tahu berapa harga yang harus kamu bayar untuk mobil baruku ini!" tanya David dengan emosi tertahan. Sungguh, ia benar-benar geram melihat mobil barunya sudah cacat seperti itu.
"Berapa harganya?" Revalda balik bertanya. Akhirnya gadis itu membuka mulutnya setelah lama terdiam. Ia mempunyai uang beberapa lembar di dalam tasnya tapi mungkin kurang karena itu hanya uang jajannya saja.
Di rumahnya ada banyak mobil tapi ia tak pernah tahu tentang biaya perawatan maupun perbaikan kendaraan-kendaraan itu.
Semuanya diurus oleh papanya sendiri.
"Oh, jadi kamu sudah mengaku kalau kamu yang menggores body mobil aku sampai sangat dalam dan panjang seperti itu?!"
"Aku tanya berapa?!" sentak Revalda kesal. Ia cukup lelah dengan pria sok hebat di hadapannya itu.
"Katakan saja supaya gak lama. Aku ada urusan penting ini!" lanjutnya tak mau kalah.
"Memangnya kamu bisa bayar?!" tanya David lagi dengan tatapan menghina. Ujung bibir pria itu terangkat.
Di depannya, Revalda hanya seorang gadis sederhana dengan pakaian sederhana pula. Tak ada yang istimewa yang menunjukkan kalau gadis itu adalah gadis yang mampu meskipun ia akui kalau gadis itu sangat cantik.
Sepatu gadis ini bagus dan nampak mahal serta bermerk tapi mungkin hanya merk KaWe, begitu kata hatinya menilai.
Revalda mendengus pelan, ia tahu kalau tatapan pria itu sangat membuat harga dirinya terinjak-injak. Ia pun membuka tas ranselnya dan mengeluarkan dua lembar uang merah dari jajannya hari ini.
"Nih ambil saja mas cerewet!" ucapnya seraya memberikan uang itu pada David. Setelah itu la langsung pergi dari tempat itu dengan melajukan motornya.
"Hey! Apa ini?!" David menatap uang dua ratus ribu di tangannya dengan rahang mengeras marah.
"Berapa ini? Mana bisa menggantikan biaya servicenya?!" ucapnya lagi kemudian segera naik ke atas mobilnya dan memburu gadis itu.
"Dasar gadis brengsek! Akan kukejar kau sampai kamu mau bertanggung jawab!" geram pria itu seraya mengikuti terus kemana laju kendaraan roda dua itu pergi.
"Enak saja cuma bayar segini!" omelnya dengan perasaan yang sangat kesal.
"Aargh sial" umpatnya lagi saat lampu lalu lintas berubah merah sedangkan motor gadis itu sudah berhasil pergi jauh.
🌹
Revalda berlari cukup kencang ke arah kelasnya setelah memarkirkan motornya di tempat parkir kampus. Hari ini ia tak boleh terlambat lagi atau ia benar-benar tidak akan lulus mata kuliah ini.
Huffft
Gadis itu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Ia lelah karena berlari dari parkiran sampai lantai 2 gedung tempat perkuliahannya ini.
Sepi.
__ADS_1
Ia menempelkan kupingnya pada pintu untuk mendengarkan aktivitas di dalam ruangan itu tapi tak ada suara yang bisa ia tangkap dari dalam ruang kelas. Dan ia yakin kalau ia benar-benar telah terlambat. Perkuliahan pasti sudah berlangsung dengan seorang dosen killer yang sangat terkenal sepanjang masa.
"Masuk gak ya?" ucapnya pada dirinya sendiri.
"Kalau aku gak masuk dan benar-benar gak lulus mama sama papa nanti bilang apa?" gumamnya lagi dengan wajah meringis. Sebagai anak tertua, ia harusnya jadi contoh untuk adik-adiknya.
"Baiklah, aku masuk saja, kalau di usir gak apa-apa yang penting udah usaha juga."
Tangannya pun memutar handle pintu setelah mengetuknya pelan.
Door!
"Selamat ulangtahun Revalda!" teriak semua orang yang ada di dalam ruangan itu saat kepalanya menyembul di depan pintu.
Gadis itu begitu kaget dengan apa yang terjadi. Ia pun melangkahkan kakinya masuk dengan perasaan campur aduk. Sungguh, ia sangat terharu dengan kejutan dari teman-temannya.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday
Happy birthday to you!
Revalda membungkukkan badannya sedikit di depan teman-temannya dengan wajah yang sangat bahagia.
"Emang. Kami juga tahu kok," sahut Morin sang sahabat.
"Lho?!" ucap Revalda bingung.
"Karena pak Prof Killer gak sempat masuk jadi kita mau rayakan kebahagiaan kita untuk memaksamu berulang tahun hari ini, hehehe." jawab Morin tertawa cengengesan.
"Ih kirain," ucap Revalda kesal. Ia pikir teman-temannya benar-benar perhatian padanya ternyata ia cuma kena prank dan buntutnya pasti harus traktir seluruh kelas.
"Makasih ya kejutan kalian. Aku cukup terkejut lho. Tapi aku sungguh sangat senang karena prof killer gak masuk jadi aku aman dan sangat bangga meskipun ini hanya prank aja hehehe," ucap Revalda dengan tawa bahagianya.
"Traktir dong!" balas yang lain dengan menampilkan wajah-wajah tukang palak dan premanisme.
"Iyaa pasti itu," jawabnya masih dengan wajah bahagianya. "Kapan maunya?"
"Sekarang lah. Kita udah haus banget nih," jawab Morin mewakili teman-teman nya.
"Baiklah. Sekarang kita ke kantin!"
"Horee!"
Semua orang di dalam kelas itu berteriak kegirangan dan bersiap mengambil tas mereka. Mereka sangat senang karena tidak jadi belajar dan malah mendapatkan traktiran dari Revalda yang memang terkenal baik hati dan suka berbagi.
"Selamat pagi!"
__ADS_1
Keadaan langsung sepi karena tiba-tiba seorang pria tampan berpakaian rapi masuk ke dalam kelas itu dan langsung menyapa dengan ramah.
"Selamat pagi pak!" jawab mereka kompak dan kembali ke kursi mereka masing-masing. Revalda pun sama. Ia yang tadinya berdiri di depan kelas segera mencari kursi kosong dan segera duduk.
"Perkenalkan, nama saya Dr. David Prajawijaya, saya baru mendapatkan tugas dari Prof. Hamzah Fansuri untuk mengisi mata kuliah ini sampai akhir semester."
"Hah?!"
Hampir semua mulut mahasiswa membola. Mereka kaget dan takjub dengan pria semuda itu sudah jadi seorang doktor dan catat! Ia yang akan menggantikan prof killer hari ini. Artinya mereka akan tetap belajar.
Keadaan kelas langsung hening. Yang terdengar hanya suara nafas tertahan karena kaget, takjub, dan juga khawatir.
Semua perasaan itu dirasakan oleh Revalda. Pria yang berdiri dihadapannya adalah seorang dosen yang akan mengajarnya selama satu semester ke depan sedangkan ia ada masalah pribadi dengan pria itu.
"Ada pertanyaan?" tanya David seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti pada sosok Revalda yang menatap nya tak berkedip.
"Kamu!" tunjuknya pada gadis itu. Revalda tersentak kaget.
"Iya pak," jawab Revalda dengan perasaan gugup dan juga khawatir.
"Nama kamu siapa?!" tanya David dengan tatapan tajam.
"Revalda pak."
"Revalda, nama yang bagus. Mulai hari ini, kamu yang harus jadi ketua tingkat khusus mata kuliah saya. Kamu yang harus berkomunikasi dengan saya tentang urusan jadwal dan materi yang akan saya sampaikan di kelas ini."
"Iya pak siap."
"Bagus. Sekarang maju ke depan sini dan berikan handphone kamu!"
"Eh?!" Revalda tampak sangat kaget tapi ia tetap berdiri dari duduknya dan membawakan handphonenya pada sang dosen yang sepertinya lebih killer daripada prof. Hamzah Fansuri.
David pun meraih handphone gadis itu dan menyimpan nomornya di dalam daftar kontak Revalda. Setelah itu ia menghubungi nomornya sendiri agar ia bisa menyimpan nomor gadis yang tidak bertanggungjawab.
"Kamu bisa duduk gadis nakal!" geram David dengan suara pelan tapi penuh penekanan. Revalda hanya bisa tersenyum meringis. Ia tahu kalau ia akan ada masalah dengan pria itu. Dan ia pasti harus bertanggung jawab.
"Hanya melalui Revalda kalian bisa berkomunikasi dengan saya dan itupun urusan perkuliahan!" ucap David dengan tatapan lurus ke arah Revalda yang sudah duduk di kursinya.
"Baik pak." Semua menjawab dengan kompak termasuk Revalda.
Apa hidupku akan baik-baik saja setelah hari ini?
Revalda.
Ternyata dunia ini sempit Valda. Dan aku pastikan kamu harus membayar mahal kekesalanku hari ini.
David Prajawijaya.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?