Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 48 Kekhawatiran Shinta


__ADS_3

"Om mau ikut main?" tanya David padanya. Yudha dan Selfina saling bertatapan kemudian tersenyum.


"Iya, Om mau main sama tante Fina, boleh gak?" jawab Yudha dengan senyum masih terpatri pada wajahnya yang tampan.


"Boleh, tapi caya ikut ya," ucap David ikut tersenyum dan berhasil memperlihatkan giginya yang kecil-kecil teratur rapih.


"Hum, mau main dimana?" tanya Yudha lagi. Meskipun sebenarnya ia sangat keberatan jika ada orang lain yang menggangu mereka berdua, tak apalah yang penting ia ada alasan untuk membawa Selfina keluar.


"Mau main bola aja."


Yudha tersenyum meringis. Bagaimana ia dan Selfina bisa berdua saja kalau anak itu ingin bermain biola.


"Mama sama papa dimana sayang?" tanya Yudha lagi seraya berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak itu.


"Mama cama papa lagi di Kamal, gak boleh ganggu kata tante Fina," jawab David seraya memandang Selfina yang sejak tadi diam saja.


"Emangnya mereka lagi ngapain sih Fin, kok kamu yang diminta jaga nih bocah." tanya Yudha pura-pura tidak mengerti. Ia hanya ingin menggoda Selfina agar mau bicara.


"Ish, gak tahu aku. Urusan suami istri juga," balas gadis itu dengan bibir mengerucut.


"Hahaha, kok gitu sih jawabnya. Bilang aja mereka lagi Em El. Making Love gitu," canda Yudha.


"Ish, udah tahu nanya," dengus Selfina. Yudha langsung menghampiri gadis itu kemudian tersenyum.


"Aku rindu padamu lho Fin," ucap pria itu.


"Rindu tapi gak pernah nelpon gak pernah kirim kabar apalagi tanya kabar," balas Selfina dengan wajah dibuat kesal.


"Maaf, aku kemarin tuh sibuk banget jadi gak sempat."


"Trus, sekarang gak sibuk?"


"Meskipun sibuk, aku akan ada disini."


Selfina tersenyum meremehkan.

__ADS_1


"Karena aku bahagia ketemu kamu Fin, beneran deh," ucap pria itu menegaskan. Pria itu semakin merangsek maju mengikis jarak dengan sang gadis.


"Ya kak Yudha duduk dulu deh, aku buatkan minum," ucap Selfina merasa tak nyaman. Mereka sedang berada di rumah orang lain. Dan lagi mereka berdua belum ada ikatan samasekali.


Yudha langsung tersadar. Ia jadi merasa malu sendiri karena telah tidak sopan sampai seperti itu.


"Ah iya maaf, aku lupa diri," ucap pria itu dan segera duduk. David segera menghampirinya membawa sebuah bola sepak.


"Om, ayok main bola," ucap David.


"Mau main di depan aja? Yang lebih luas?" tanyanya.


"Di lual om," jawab David dan segera berlari keluar pintu. Yudha mengikutinya keluar.


Sementara itu, Selfina yang sedang membuat minuman di dapur langsung di datangi oleh Shinta, sang mama.


"Bikinin minum untuk siapa!" tanya Shinta. Selfina tampak tersentak kaget. Ia pun menatap sang mama dengan senyum diwajahnya.


"Untuk tamu di depan ma."


"Teman ma."


"Hanya teman?"


"Iya ma."


"Kalau hanya teman, usahakan untuk menjaga jarak. Pertemanan antara laki dan perempuan dewasa bisa jadi fitnah sayang."


"Ah iya ma. Aku ngerti kok maksud mama." Selfina tersenyum kemudian mengangkat sebuah baki yang berisi dua gelas minuman diatasnya.


"Baguslah, karena mama lihat pria itu sangat ingin menyentuhmu."


Selfina tercekat. Ternyata mamanya melihat bagaimana gestur Yudha beberapa saat yang lalu.


"Jadi, karena kamu sudah cukup dewasa, tolong jaga dirimu baik-baik."

__ADS_1


"Iya ma, makasih banyak udah diingatkan."


"Kalau dia suka dan serius suruh temui mama."


"Iya ma, aku bawakan minumannya ke depan ya," ucap Selfina dengan langkah cepat. Ia merasa kalau mamanya sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya.


Gadis muda itu pun segera pergi dari hadapan mamanya menuju ruang tamu. Sedangkan Shinta kembali ke ruang keluarga bergabung dengan Asna dan juga orang tua Praja Wijaya.


"Yudha itu putra Pak Maher Abdullah bosnya Ardina Bu Shin," ucap Asna. Ia tahu apa yang sedang dirisaukan oleh ibu dari sekretaris menantunya itu.


"Ah iya Bu Asna. Dan saya sudah bisa melihat bagaimana keluarganya tadi." Shinta menjawab dengan pikiran kembali ke beberapa jam yang lalu.


Maher Abdullah yang telah ingin berbuat cabul pada Ardina padahal ia sudah memiliki 3 orang istri.


Dan sekarang putra pria cabul itu yang bernama Yudha sedang ingin mendekati putrinya. Sungguh, ia sangat khawatir.


"Yudha, anak yang baik kok Bu Shin. Yah, meskipun papanya seperti itu sih," ucap Asna berusaha mengerti kegalauan hati perempuan itu.


"Saya tidak tahu harus bilang apa Bu As. Semua orang tua ingin anaknya menikah dengan pria atau wanita baik-baik dan juga dari keluarga baik-baik."


"Santai saja Bu Shin. Kita awasi saja mereka. Dan kalau anak itu serius ya pasti akan meminta Selfina pada ibu."


"Ah iya Bu. Saya mungkin terlalu khawatir saja padahal belum tentu juga anak itu mau sama Selfina, hehehe," kekeh Shinta untuk menutupi rasa tak nyaman di hatinya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Maaf, kalau dikit.


Bentar disambung lagi 😊


Like dan komentarnya dong.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2