Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 253 Gadis Badung


__ADS_3

15 tahun kemudian.


Pagi itu Selfina dibuat repot lagi oleh Revalda. Anak itu memaksa ingin naik motor lagi ke kampus padahal ia baru saja terjatuh dan mendapatkan banyak luka memar pada tubuhnya.


Perempuan berhijab itu sampai mengurut dada saja dengan kelakuan putrinya yang akhir-akhir ini semakin tak bisa dikendalikan. Ia pun mendatangi suaminya yang sedang duduk di depan laptopnya karena urusan pekerjaan kemarin masih belum selesai juga.


"Mas, lihat tuh putrimu. Kelakuannya semakin tak bisa aku mengerti," lapor Selfina pada sang suami. Yudha hanya menatap sekilas istrinya itu kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Mas! Kamu dengar aku gak sih?" kesal Selfina.


"Kamu itu papanya harusnya bisa tegas padanya mas. Jangan aku saja yang memikirkan tentang Revalda dan anak-anak yang lain."


"Aku juga capek. Pekerjaan kayak gini tuh gak ada habisnya mas!"


"Lebih enak jadi sekretaris saja daripada kayak gini mas!"


Selfina jadi nyerocos tak jelas mengungkit ini dan itu sampai sepanjang rel kereta api. Gaya emak-emak yang sedang stress dengan urusan rumah setiap harinya.


Yudha menghela nafasnya pelan kemudian menutup laptopnya. Ia memandang istrinya yang masih sangat cantik itu diusianya yang hampir setengah abad dengan senyum diwajahnya.


"Aku minta maaf karena aku selalu saja sibuk sayang. Dan akhirnya kamu yang mengurusi semua urusan anak-anak dan juga aku," ucap Yudha merasa bersalah.


"Tapi kalau soal Revalda yang ingin naik motor ke kampus. Ya gak apa-apa kalau cuma naik motor sayang. Biarkan saja ia bebas melakukan apa yang dia inginkan yang penting gak mengganggu kenyamanan orang lain dan juga merusak dirinya sendiri."


"Tapi mas. Anak kita itu perempuan, harusnya bisa bersikap lembut dan manis. Tapi ya Allah, kelakuannya badung mas. Hijabnya saja dipakai tapi kelakuannya kayak anak laki. Bikin aku stres banget."


"Sel, kamu 'kan udah belajar ilmu parenting sayang. Jadi biarkan saja seperti itu, saat ini kita hanya bisa mengawasi dan menjaganya dari hal-hal yang merusak. Insyaallah ia akan semakin dewasa dan akan banyak tahu hal-hal di luar sana."


Selfina terdiam. Ia tahu kalau ia telah belajar ilmu parenting dari berbagai macam sumber tapi kalau lihat Revalda dengan sikapnya yang seperti itu maka bawaannya ia suka emosi.


"Sayang, coba untuk mengerti putrimu itu. Dulu aku juga pernah memaksakan apapun padanya. Menuntutnya melakukan sesuatu sesuai keinginan aku, tapi sekarang aku sadar kalau itu tidak benar."


Selfina masih saja terdiam. Ia mulai menyadari banyak hal tentang pola pengasuhannya yang mungkin masih salah selama ini.

__ADS_1


Seharusnya ia menghindari perilaku mendikte harapannya kepada anak-anaknya karena hal tersebut justru membuat mereka mungkin merasa terkekang dan tidak nyaman.


Akan tetapi, alih-alih mengontrol kehendaknya, ia malah suka memaksakan agar Revalda mengikuti semua keinginannya sendiri dan membuat anak itu jadi pemberontak.


"Kita hanya perlu menanamkan rasa tanggung jawab yang tinggi pada anak-anak kita sayang. Selain itu mereka juga harus mampu menerima kegagalan agar tidak menjadi seorang pengecut kedepannya."


"Aku tahu Revalda seperti apa Sel. Berikan ia kebebasan sayang. Motornya juga masih aman 'kan? Masih berbentuk motor hehehe."


Selfina mendengus. Meskipun ia sudah memikirkan banyak hal ia tetap saja tak puas dengan jawaban suaminya. Seingatnya pendisiplinan mama dan papanya dulu tidak seperti ini. Ia dulu adalah anak yang manis dan taat. Apa saja perkataan kedua orangtuanya ia ikuti. Tapi sekarang? Apa ia salah mengasuh?


Oh Revalda, sangat berbeda dengan dirinya.


"Sayang, ada Fariz dan Reza, sebagai saudara laki-lakinya yang akan membantu kita mengawasi Valda. Jadi kamu gak usah stres seperti itu nanti cepat tua lho," ucap Yudha menghibur seraya meraih tubuh istrinya itu ke atas pangkuannya.


"Aku memang udah tua mas. Aku pasti udah gak cantik lagi," rajuk Selfina dengan bibir manyun.


"Eh, siapa bilang kamu gak cantik. Kamu gak berubah sayang. Meskipun anak-anak kita sudah besar tapi kamu tetap saja satu-satunya perempuan yang bertahta di dalam hatiku," bisik Yudha seraya mengendus leher istrinya.


Selfina tersenyum. Amarah dan kekesalannya pada Revalda kini sudah menguap sedikit demi sedikit apalagi tangan suaminya sudah mulai bergerak tak terkendali ke arah daerah sensitifnya. Ia yakin pagi ini mereka akan bercinta dengan cukup panas lagi.


Pria itu ingin rehat sejenak dari urusan pekerjaan dan urusan anak-anak yang membuat kepala pusing. Selfina pun sama ia ingin melakukan ritual bersama suaminya untuk menginstal ulang otaknya yang sedikit stres.


Mereka tak kenal usia. Mereka berdua tetap mengupayakan selalu mengakhiri masalah yang berat dengan berlaga di ranjang agar masalah itu tidak berlarut-larut mengganggu pikiran.


"Sel sayangku..." bisik Yudha saat ia berhasil melepaskan tembakan dahsyat pada benteng pertahanan sang istri. Selfina tersenyum kemudian mengecup bibir suaminya. Tubuh dan perasaannya jadi relaks sekarang.


Tapi ternyata tidak dengan putrinya di luar sana.


Revalda baru saja menabrak mobil mewah yang sedang parkir di depan sebuah toko alat tulis kantor yang sangat terkenal di kota itu.


"Aduh gawat nih," ucap gadis cantik itu dengan perasaan takut. Ia yakin akan ada masalah besar setelah ini. Untuk itu ia segera membuka tas ransel bututnya dan mengambil isolatif. Ia ingin menutup bekas goresan pada bodi mobil itu dengan benda itu.


"Hey! Apa yang kamu lakukan dengan mobil aku hah?!" geram seorang pria yang baru keluar dari toko itu dengan banyak barang ditangannya.

__ADS_1


Revalda tersentak kaget dan langsung menyembunyikan bekas goresan pada bodi mobil itu di belakang punggungnya.


"Kamu mau mencuri ya?!" tanya pria itu dengan tatapan menelisik gadis cantik dihadapannya. Revalda langsung tersinggung dengan kata-kata pria itu.


"Heh! Jangan sembarangan kalau ngomong ya! Kamu pikir aku ada tampang pencuri?!" balas gadis itu dengan tatapan sengit.


"Kalau tidak mau mencuri lalu apa namanya hah? Di daerah ini tuh kita parkir sebentar saja aksesoris kendaraan bisa langsung raib tak tahu kemana. Dan siapa tahu kamu itu salah satu pelakunya!"


"Apa?!"


Revalda melotot tak percaya dengan tuduhan yang sangat sadis seperti itu.


Brak!


Gadis cantik berhijab itu langsung memukul bodi mobil itu dengan tangannya.


Sakit!


Ya, ia merasakan tangannya sakit tapi ia pura-pura kuat.


"Berpikir untuk mencuri pun aku tak pernah. Jadi jangan pernah menuduhku sembarangan seperti itu, mengerti kamu!" geramnya seraya menunjuk wajah pria tinggi dan lumayan tampan dihadapannya.


Pria yang bernama David itu tersenyum miring lalu langsung menarik tangan Revalda dan menggenggamnya.


"Lalu apa yang kamu lakukan pada mobilku itu hah?! Kenapa bisa ada goresan yang sangat dalam yang coba kamu tutupi!"


Deg


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2