Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 263 Ardina Bertanduk


__ADS_3

"Gimana? Aku pemenangnya 'kan?" ucap David tersenyum tipis seraya menyerahkan hadiah tropi dan juga sebuah cek yang ia dapatkan dari panitia lomba.


Revalda meraih hadiah itu dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Ia hanya mendengus pelan dan tidak tampak bahagia samasekali. Seharusnya ia yang jadi pemenangnya tapi pria itu yang menggantikannya, begitu kata hatinya.


"Hadiahnya kamu ambil saja semuanya tapi janji kamu tak akan ikut balapan lagi."


"Makasih ya pak. Tapi aku tetap akan ikut balapan lagi nanti," senyum Revalda seraya memakai helmnya. Wajah David langsung mengeras.


"Bukankah kamu hanya butuh uang?"


"Gak pak. Uang adalah yang kesekian. Aku suka ikut acara kayak gini karena ada tantangan. Jadi bapak gak usah ngelarang aku karena kita juga tak sedekat itu."


"Aku perhatian sama kamu karena kamu itu perempuan. Gimana kalau kamu jatuh dan jadi cacat? apa orangtuamu tidak akan menderita dengan apa yang terjadi padamu?"


"Anda siapa? Hanya seorang dosen di kampus ya pak. Jadi gak perlu mencampuri urusan aku lagi."


David tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman dengan perkataan gadis itu. Ia tiba-tiba sadar kalau mereka memang tidak ada hubungan khusus jadi seharusnya ia tidak banyak Ikut campur pada gadis yang baru dikenalnya beberapa hari itu.


"Baiklah, terserah saja apa maumu. Lakukan apa yang menurutmu baik. Dan ya, aku cuma ingin mengingatkan saja kalau tempat seperti ini tidak cocok untukmu!" ucap David kemudian segera menaiki motor sport itu dan melajukannya meninggalkan sirkuit.


Ia tak lagi bicara tapi kecepatan laju motor itu menunjukkan kalau hatinya sangat tak baik-baik saja. Revalda pun tak bicara lagi. Tapi ia dengan malu-malu memeluk pria itu dari belakang karena takut terjatuh.


David merasakan dadanya berdebar diantara rasa kesalnya yang sedang sang menggangu perasaannya. Punggungnya bisa merasakan sesuatu yang sangat lembut dan kenyal menempel padanya. Dan ia yakin sekali kalau itu adalah milik Revalda yang memang cukup montok dan berisi seperti yang pernah ia lihat malam itu.


Oh Tuhan cobaan apa ini? Ucapnya membatin.


Dan...


Ciiit!


Tiba-tiba saja ia menghentikan motor itu dengan cepat hingga helm Revalda terantuk dengan sangat keras pada helmnya sendiri sedangkan tubuh gadis itu semakin merapat pada tubuhnya.


"Kenapa sih pak? Mau berhenti harusnya ngomong dulu dong!" gerutu gadis itu dengan kesal.


"Maaf, aku lupa kalau mobil aku ada di jalan X. Dan kita kayaknya salah ambil jalan deh. Harusnya aku belok di belokan jalanan itu," balas David seraya memutar arah.


"Itu sih karena bapak gak konsen. Mikirin apa sih pak?!"


"Mikirin kamu. Kalau duduk jangan terlalu rapat. Punggung aku 'kan bukan tempat penitipan barang."

__ADS_1


"ish! barang apaan coba! Ngarang aja!"


Gadis itu kembali menggerutu kesal. Setelah itu Ia baru menyadari kalau tubuhnya memang terlalu rapat pada pria itu. Akan tetapi ia tidak merasa bersalah karena pria itu lah yang mengendarai motor dengan sang kencang seperti ketika ia berada di dalam sirkuit sehingga ia jadi seperti itu.


David pun melajukan motor itu kembali dengan kecepatan sedang menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Setelah itu ia turun dan meminta handphonenya yang ia simpan di dalam tas ransel gadis itu.


"Eh maaf lupa pak. Tadi ada papa yang menelpon ke nomor bapak," ucap Revalda saat menyerahkan handphone itu kepada pria itu.


"Papa?" tanya David seraya membuka daftar riwayat panggilan pada benda pipih elektronik miliknya itu. Dan ternyata benar adanya, ada banyak panggilan masuk dari pria yang sangat ia hormati itu.


"Iya pak. Nama kontaknya adalah papa. Maaf lupa kasih tahu tadi." Revalda tersenyum meringis.


"Ah ya gak apa-apa. Itu memang panggilan dari papa. Memangnya dia bilang apa?"


"Gak ada pak karena langsung terputus."


"Oh?' Kamu mau aku antar pulang?" ucap David dengan mata masih berada pada layar handphonenya.


"Gak usah pak terimakasih banyak. Aku cuma mau tanya aja sih apa utang aku beneran dah lunas?"' ucap Revalda dengan wajah harap-harap cemas.


"Kenapa? Kamu masih ingin membayarnya?" David balas bertanya.


"Utangmu lunas kalau kamu tak ikut balapan lagi!" jawab David tegas.


"Sudah aku bilang aku tak ingin berhenti balapan pak. "Kalau begitu, aku bayar semuanya sekarang. Silahkan ambil uang ini agar urusan kita selesai. Karena aku tak ingin berhenti mengikuti balapan itu sampai kapanpun," ujar Revalda seraya menyerahkan uang yang tadi ia berikan beserta uang hadiah kemenangan pria itu.


Wajah David kembali mengeras. Ia pikir gadis itu sudah berubah pikiran.


"Baiklah. Ternyata kamu adalah gadis yang sangat keras kepala juga ya," ucap David dengan tatapan tajam pada gadis itu kemudian meraih semua uang yang diberikan Revalda padanya.


"Pikirkan bahwa kamu adalah seorang gadis sedangkan kebanyakan dari mereka adalah para pria. Aku cuma mau bilang kalau kamu harus menjaga diri dengan baik," ucap David kemudian segera meninggalkan gadis itu dengan perasaan yang sangat kesal.


Revalda sendiri hanya mendengus kemudian segera menghidupkan mesin motornya dan juga segera pulang. Ia lega karena semua urusannya dengan pria itu sudah selesai.


David mencengkram kemudinya dengan sangat keras karena marah. Ia tak menyangka kalau ia bisa terlibat sangat jauh dengan gadis itu.


Huffft


Pria itu membuang nafasnya kasar. Ia berharap bisa melupakan gadis itu dan bisa kembali hidup dengan tenang. Tiga hari ini ia dibuat gila karena selalu memikirkannya dan sekarang apa balasannya? Gadis itu sama sekali tidak merasa kalau perasaannya sudah dibuat kacau.

__ADS_1


"Argh sial! Harusnya aku bisa melupakannya!" geramnya dengan perasaan yang sangat tak nyaman. Laju mobilnya ia percepat agar bisa sampai di apartemennya sebelum magrib.


Sesampainya di tempat tinggalnya yang tak jauh dari lokasi kampus tempat ia bekerja, ia pun langsung masuk dengan perasaan yang belum membaik.


Pintu ia buka dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari empat pasang mata yang sudah lama menunggunya. Dua orang yang disayangi dan dihormatinya itu seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Assalamualaikum ma, pa," sapanya pada Praja dan juga Ardina.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh!" jawab keduanya dengan sangat kompak. Wajah mereka datar se datar tembok.


"Udah lama ya ma?" ucapnya berusaha santai seraya mengecup pipi sang mama. Ia pun meraih tangan Praja dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu.


"Kok gak ngasih kabar kalau mau datang?" ucapnya lagi berbasa-basi untuk mencairkan suasana yang begitu terasa sangat dingin.


"Kami sengaja datang untuk memberikanmu kejutan dan ternyata kami lah yang terkejut," jawab Ardina dengan wajah yang tak bersahabat.


"Kenapa ma? Apa aku lupa mematikan kompor? Atau lupa menutup kran air?" tanya David dengan wajah penasaran.


"Bukan."


"Lalu apa ma?"


"Sana lihat sendiri di dalam kamar mandi tamu. Siapa yang punya segitiga pengaman itu hah?!"


David tidak menjawab dan segera berlari ke kamar mandi yang dimaksud oleh sang mama.


Di dalam sana, ia menemukan beberapa lembar Panty yang pernah ia belikan untuk Revalda sedang dijemur dengan sangat indah. Bibirnya langsung berkedut dan berakhir menampilkan senyum samar diwajahnya.


"Kenapa? Sudah lihat kamu?!" ucap Ardina yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya. David tersentak kaget dan kemudian menjawab dengan santai, "Nanti aku kembalikan sama yang punya ma."


"Apa?!" Ardina kembali bertanduk.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2