
Selfina yang baru saja ikut bergabung di ruangan itu langsung merasakan pipinya menghangat malu. Apalagi semua pasang mata langsung tertuju padanya tak terkecuali Yudha Abdullah yang sangat ia cintai.
Apa-apaan itu si papa bicara tentang hamil padahal mereka berdua belum menikah. Gadis itu menggerutu dalam hati.
Dadanya jadi berdebar tak karuan ketika Yudha malah mengedipkan mata padanya. Ia tersenyum malu dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja. Ia akan menunggu keputusan dari kedua belah pihak yang ia harapkan tidak merugikan mereka berdua.
"Ah itu urusan belakangan pak. Insyaallah kami berdua akan cari solusinya. Yang penting izinkan kami untuk menikah saat ini juga," jawab Yudha serius.
"Lho? Kami ini juga sudah ingin segera menimang cucu," ucap Gani dengan wajah mengkerut. Sepertinya ia belum merasa puas dengan jawaban Yudha tetapi sang istri langsung mengelus tangannya agar ia tenang.
"Mas, mereka berdua bisa menundanya dulu yang terpenting mereka tidak berhubungan yang justru mendekatkan pada zina," balas Shania tersenyum.
Ya, betul sekali kalau mereka sudah lama menginginkan cucu dari putri semata wayang mereka tapi mereka juga harus memikirkan pekerjaan dan juga karir Selfina. Dan yang paling penting adalah dua orang yang sedang dimabuk cinta itu tidak berada pada koridor yang salah.
"Hum baiklah. Saya terima lamaran kamu pak Yudha."
Semua orang langsung bernafas lega.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak pak. Insyaallah atas izin Allah, saya akan membahagiakan Selfina," ucap Yudha dengan wajah sumringah. Perasaannya sudah lebih lega sekarang.
"Jadi bolehkah saya meminta supaya pernikahan ini dilaksanakan saat ini juga Pak?" ucap Yudha dengan wajah tak sabar.
"Hahahaha!"
Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak. Yudha benar-benar sangat gigih untuk memperistri Selfina.
"Boleh, tapi kita harus tahu dulu, apakah Selfina setuju akan hal ini," ucap Gani tersenyum.
"Semoga saja pak. Karena kalau tidak, saya tetap akan memaksanya." Yudha berucap dengan wajah tak tahu malunya.
"Heh, kamu belum menikah saja sudah berani maksa-maksa. Bisa-bisa kita batalkan kesepakatan kita ini," canda Gani. Yudha hanya bisa menghela nafas beratnya. Sedangkan semua orang langsung tertawa lagi.
"Baiklah, Kita nikahkan kalian sekarang. Pekerjaan pak Yudha di Perusahaan pasti tak bisa ditinggal lama-lama," ucap Gani akhirnya.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Yudha lagi dengan wajah penuh syukur.
Acara pernikahan sederhana itu pun segera dilaksanakan. Syarat dan rukun nikah sudah terpenuhi jadi tak ada lagi yang menghalangi niat baik mereka.
"Saya terima nikahnya Selfina binti Gani Sanjaya dengan mahar satu milyar rupiah dibayar tunai karena Allah," ucap Yudha dengan lantang.
__ADS_1
"Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu kepada Alif dan Praja Wijaya sebagai saksi pada pernikahan yang sederhana dan sakral itu.
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah, Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii Khairin”."
"Semoga Allah memberkahimu dalam suka dan duka dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua di dalam kebaikan.” Penghulu itu membacakan doa setelah akad selesai.
"Aamiin ya Allah."
Semua orang yang hadir langsung mengaminkan doa dan harapan baik untuk kedua mempelai.
Sah sudah hubungan keduanya. Mereka telah terikat oleh sebuah ikatan yang diridhoi. Negara dan agama pun sudah mencatat keduanya sebagai pasangan suami istri yang sah.
Sementara itu di tempat lain, Yudhi merasa sangat gelisah. Di dalam kamarnya ia tak kunjung bisa tenang hingga akhirnya ia keluar dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain yang sedang menonton acara TV.
"Apa ada kabar dari kak Yudha gak ma?" tanyanya pada sang mama. Merry langsung memandangnya dengan wajah tanya.
"Kenapa? Bukannya ia sedang ada urusan pekerjaan di luar kota ya?"
Yudhi tidak menjawab. Ia tahu kalau kakaknya itu sedang ada urusan bisnis di luar kota tapi yang jadi masalah adalah pria itu sedang berada di sana bersama dengan Selfina.
"Kalian baik-baik saja 'kan? Tumben gak nanya orangnya langsung."
"Gak ah ma. Coba deh mama aja yang nelpon tanyakan dimana posisi mereka saat ini," ucap Yudhi berusaha untuk tersenyum santai padahal hatinya sangat was-was.
"Mereka? Memangnya kakak kamu pergi bersama dengan siapa?"
"Mbak Selfina ma. Ini udah dua hari lho mereka pergi, aku 'kan jadi sangat khawatir ma."
"Lho? Kamu kayaknya terlalu khawatir deh. Mereka adalah bos dan sekretaris. Jadi wajar kalau mereka bersama dalam rangka urusan bisnis." Merry berucap seraya tersenyum. Ia tahu kalau putranya itu sedang cemburu yang tidak jelas.
Yudhi menarik nafas berat. Entah kenapa ia begitu khawatir saat ini.
"Kenapa kamu gak hubungi Selfina aja sih, kamu kan bisa tanya dimana mereka saat ini. Daripada kamu khawatir kayak gitu."
"Ah iya ma. Seharusnya sih iya. Baiklah, aku akan hubungi mbak Selfina saja," ucap Yudhi seraya meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya. Ia harus mencari handphonenya untuk menghubungi Selfina.
__ADS_1
🌹
Di dalam kamar pengantin saat semua orang sedang menikmati hidangan di rumah keluarga Gani Sanjaya.
Yudha mencium kening Selfina dengan doa yang baru saja ia pelajari dari laman internet.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya, aamiin ya Allah," ucapnya dengan penuh perasaan.
Selfina mencium punggung tangan suaminya dengan perasaan yang mengharu biru. Ia bahagia dan teramat sangat bahagia. Pria yang selama ini selalu membuat hatinya kesal kini sudah sah menjadi suaminya.
"Jangan bikin aku kesal lagi ya pak," cicit Selfina dengan wajah yang sangat lucu dan menggemaskan. Yudha tersenyum kemudian mengecup bibir sang istri.
"Sepertinya kamu yang akan membuat aku kesal sayang," ucap pria itu dengan tatapan tak lekat dari wajah cantik Selfina.
"Ih kenapa?" tanya Selfina dengan bibir mengerucut.
"Karena aku tidak akan bebas menyentuhmu kalau aku mau," ucap Yudha seraya menempelkan keningnya pada kening Selfina. Bibirnya bahkan sudah mulai mengecup ujung hidung sang istri dan menghisapnya pelan.
"Kenapa?" tanya perempuan itu lagi saat Yudha melepaskan dirinya.
"Kita harus bisa menjaga rahasia dengan baik Sel. Hubungan kita harus disembunyikan dulu. Kamu gak apa-apa 'kan?"
Selfina mengangguk setuju. Ia tidak masalah kalau harus sembunyi-sembunyi asalkan pria itu sudah jelas perasaannya padanya.
"Terimakasih banyak sayangku, aku sangat mencintaimu Sel," bisik Yudha seraya meraih bibir perempuan cantik itu ke dalam kuasanya. Mengulumnya dengan sangat lembut dan menuntut.
Drrrt
Drrrt
Selfina melepaskan dirinya oleh bunyi handphonenya yang cukup menganggu kegiatan mereka berdua. Yudha menatap sang istri dengan wajah tak rela.
"Siapa?" tanyanya.
"Mas Yudhi," jawab Selfina seraya menerima panggilan itu.
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like, komentar, dan berikan hadiahnya dong 🤭