
"Gimana masakan aku mbak?" tanya Yudhi dengan wajah harap-harap cemas.
"Enak dan nendang rasanya mas."
"Wah makasih banyak lho mbak. Besok aku akan bawa makanan lagi ke sini."
"Eh? Gak perlu mas. Nanti repot lho," ucap Selfina tak nyaman.
"Gak repot kok, yang penting 'kan mbak suka. Aku akan datang setiap hari," ucap Yudhi dengan wajah berbinar. Selfina langsung merasa ngeri sendiri. Tiba-tiba ia merasa takut.
"Aku tanya pak presdir dulu ya mas. Boleh Ais kagak nih, dia 'kan yang punya perusahaan ini," ucap Selfina tersenyum. Yudhi ikut tersenyum.
Selfina langsung berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah kursi suaminya.
"Pak, mas Yudhi ingin bawa makanan setiap hari kemari. Boleh gak sih?" tanya Selfina. Yudha tidak menjawab. Sedari tadi ia diam saja menahan rasa kesal di hatinya melihat keakraban sang istri dan adiknya sendiri.
"Pak, boleh gak?" tanya Selfina lagi dengan suara manja. Yudha menghela nafasnya kemudian menjawab, "Tidak boleh."
"Kenapa?" tanya Yudhi.
"Ini tempat kerja dan bukan tempat makan. Kalau kamu mau bawa makanan boleh saja tapi simpan di pantry. Setelah itu Selfina mungkin akan memakannya di sana jadi kamu gak perlu nungguin di sekitar ruangan ini."
"Oh gitu kak? Baiklah. Itu artinya aku bisa datang setiap hari sekaligus ikut bekerja 'kan Kak?"
"Maksud kamu apa?" tanya Yudha seraya menegakkan punggungnya.
"Aku ingin bekerja disini di perusahaan ini agar bisa seperti kamu."
Mata Yudha membola untuk beberapa detik. Tapi kemudian ia tersenyum.
"Kamu 'kan punya pekerjaan sendiri. Usaha Cafe milik aku dan juga Yudha enterprise udah aku berikan padamu agar kamu yang menghendelnya lalu kenapa malah mau bekerja di sini juga?"
"Aku ingin tampil seperti eksekutif muda seperti dirimu. Cafe itu akan aku berikan pada Yundha agar ia juga belajar berusaha."
Yudha menghela nafasnya. Ia tidak suka mendengar keinginan dari adiknya itu. Dan ia sangat yakin kalau niatnya ke perusahaan ini hanya untuk mendekati istrinya.
__ADS_1
"Kamu sudah jadi eksekutif sejak menjadi pimpinan Yudha Enterprise dan Cafe itu Di. Apa kamu tidak menyadarinya?"
"Tidak. Aku ingin berada di sebuah perusahaan yang berlevel internasional seperti ini."
"Tapi kamu hanya akan menjadi bawahan Di. Memulai karir dari nol. Apa itu yang kamu mau?"
"Tidak masalah yang penting bisa selalu bersama dengan kakak dan juga mbak Selfina."
"Eh?" Selfina langsung mengernyit bingung. Sedangkan Yudha langsung meraup wajahnya kasar. Pria itu semakin yakin kalau sang adik datang ke sini untuk merecoki hubungannya dengan sang istri.
"Kalau kamu mau bekerja, daftarkan dirimu di bagian HRD. Setelah itu kamu akan ikut tes. Kalau lulus kamu akan bekerja tapi tidak di dalam ruangan ini."
"Baiklah, aku setuju. Aku akan mendaftarkan diriku sekarang juga. Aku permisi ya. Mbak Sel aku pergi," ucap Yudhi bersemangat. Ia pun langsung keluar dari ruangan itu dan segera menuju ke divisi HRD yang berada di lantai 1.
Yudha menghela nafasnya. Ia merasa hari-harinya ke depan akan sangat berat jika Yudhi malah ingin bekerja di tempat ini juga.
"Mas Yudhi ternyata sangat bersemangat ya Pak," ucap Selfina tersenyum.
"Kayaknya dia emang tipe pekerja keras dan juga sportif. Dia 'kan seharusnya menggunakan kekuasaan kakaknya untuk langsung saja bekerja tanpa harus mendaftarkan diri apalagi harus ikut tes," lanjutnya dengan tatapan lurus ke dalam mata elang sang suami.
"Eh, mas Yudhi 'kan adik kamu sendiri sayang. Kamu kok kayaknya gak suka sih," ucap Selfina seraya menghampiri suaminya yang sejak tadi duduk di kursi kebesarannya.
"Aku gak suka kalau kamu memuji laki-laki lain selain diriku. Siapapun itu!" tegas Yudha tanpa senyum.
Selfina langsung merasakan perasaan tak nyaman di hatinya. Ia pun tersenyum dan berniat untuk menghibur pria yang sangat dicintainya itu.
"Mas Yudhi 'kan adikmu sendiri sayang. Dan itu berarti dia adik aku juga. Jadi gak apa-apa dong kalau aku muji dirinya."
"Sel, aku udah bilang untuk tidak memuji laki-laki lain selain aku, suamimu sendiri!" tegas Yudha tak terbantahkan. Selfina langsung berwajah cemberut.
"Ya udah, aku gak mau ngomong lagi," ucap perempuan itu merajuk.
"Selfina sayang, kamu gak merasa kalau Yudhi itu suka padamu hem?" ucap Yudha dengan intonasi yang mulai menurun. Ia jadi merasa bersalah karena berkata begitu keras pada istrinya itu.
Selfina langsung tertawa. Ia sudah berhasil membuat suaminya berubah-ubah ekspresi dalam hitungan menit.
__ADS_1
"Hahaha. Tentu saja aku tahu. Dia mau membawakan aku makanan yang enak itu berarti dia suka sama aku dan juga kamu. Dia ingin membantu kita yang belum sarapan."
"Dia suka kamu sebagai laki-laki. Dan aku tidak suka itu!" tegas Yudha lagi dengan wajah yang mulai kesal.
Selfina terdiam kemudian tersenyum dengan sangat manis.
"Duh, senangnya lihat kamu cemburu. Hatiku berdebar-debar sayang," ucapnya menggoda. Yudha tak sabar. Ia langsung meraih istrinya dan mendudukkannya ke atas pangkuannya.
"Kamu sengaja bikin aku tersiksa Selfina. Dan aku tidak suka itu sayang," ucap Yudha dan langsung meraih bibir istrinya dan mengulumnya dengan penuh perasaan. Selfina membalasnya dengan penuh kelembutan juga.
"Kamu harus berpindah ruangan ke dalam sini agar kita bebas melakukan ini sayang, aku sangat menginginkanmu Sel," bisik Yudha di depan wajah perempuan cantik itu.
Selfina tersenyum kemudian membingkai wajah tampan suaminya.
"Apapun akan aku lakukan untukmu," balas perempuan cantik itu kemudian mencium kedua kelopak mata suaminya bergantian. Yudha mengerang nikmat. Ia merasa sangat bahagia.
"Selfina, apa kamu bisa merasakan ini sayang? Junior sejak tadi belum bisa tidur juga, kamu sangat tega padaku," ucap Yudha dengan suara rendah. Ia benar-benar tampak sangat frustasi.
"Ssst." Selfina langsung membungkam mulut sang suami dengan bibirnya yang ranum. Kali ini ia yang semakin agresif memberikan servisnya pada pria itu.
Yudha semakin terbakar. Ia menginginkan lebih. Juniornya semakin memberontak dibawah sana tanpa terkendali apalagi tubuh Selfina malah menindihnya.
Yudha langsung mengangkat tubuh sang istri ke atas meja kerjanya kemudian menatap perempuan itu dengan hasrat tak tertahan.
"Sel, aku gak tahan lagi sayang. Tolong aku, aku ingin minum. Aku haus," bisiknya seraya menggerakkan jari-jarinya membuka kancing kemeja sang istri.
Selfina tersenyum penuh makna. Ia pun membantu suaminya agar pakaiannya bisa lebih cepat terbuka.
Perempuan itu mendesis nikmat saat bibir sang suami berhasil menyentuh kulitnya untuk pertama kalinya.
Ia meremass rambut Yudha tak tahan.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers, like dan komentar dong.