
"Mas, aku pengen makan di rumah mertuanya Yundha," ucap Selfina pagi itu. Yudha yang baru saja selesai mandi menatap sang istri dengan wajah kaget. Ia pun mengelus kupingnya untuk memastikan pendengarannya.
"Ayo cepetan berpakaian, aku udah lapar banget nih," ucap perempuan itu lagi seraya memakai hijabnya.
"Kamu ngomong apa tadi? Aku gak salah dengar 'kan?" tanya Yudha dengan ekspresi yang masih sama.
"Gak mas, aku memang mau makan or sarapan di rumahnya mas Dewa atau di rumah mertuanya Yundha." Selfina sekali lagi menjelaskan dengan menekankan semua kata-katanya agar lebih jelas.
"Tapi kenapa?" Rupanya pria itu masih sangat bingung.
"Ya karena aku mau mas."
"Lho, kenapa gak cari warung saja."
"Ih, kamu kenapa sih? Aku kan maunya makan di sana titik!"
Yudha menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia semakin bingung saja. Masak mereka mau ke rumah orang untuk numpang makan doang. Gak lucu banget.
"Gak mau nih ceritanya?" ucap Selfina dengan bibir manyun.
"Ya mau lah. Tapi kita 'kan gak diundang sayang. Lagipula ini juga masih sangat pagi untuk bertamu." Yudha menjawab dengan memaparkan semua alasan-alasannya.
"Kalau gak mau gak usah. Aku pergi sama mas Yudhi saja!" Selfina menghentakkan kakinya kesal.
"Lho gak bisa kayak gitu dong. Aku kan suamimu sayang. Tunggu sebentar ya, aku pakai celana dulu," ucap Yudha dengan wajah khawatir.
Selfina langsung tersenyum kemudian duduk di tepi ranjang menyaksikan suaminya berpakaian dengan terburu-buru. Ada rasa puas tersendiri yang ia rasakan jika suaminya itu melakukan semua keinginannya.
"Sayang, papamu baik sekali ya," ucapnya seraya mengelus lembut perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Ayok. Aku sudah selesai," ucap Yudha setelah selesai berpakaian dengan hanya menggunakan kaos dan juga celana santai. Hari ini adalah hari libur jadi ia hanya berpakaian dengan style seperti itu.
"Ayok mas, udah laper banget nih." Selfina menyambut uluran tangan sang suami dan langsung membuatnya bergelayut manja di sana.
Mereka berdua pun keluar dari kamar dan bersiap untuk berangkat.
"Mau kemana pagi-pagi sekali?" tanya Merry dengan wajah penasaran.
"Mau ke rumah Tante Rania ma." Selfina yang menjawab karena suaminya sudah keluar terlebih dahulu untuk mengambil mobil.
"Tumben. Ini 'kan masih pagi sekali sayang. Apa gak ganggu?"
"Sengaja ma. Perjalanan sekitar 20 menit. Sampai sana pasti udah terang dan sarapan udah siap."
__ADS_1
"Eh, maksudnya kayak gimana?" tanya Merry masih agak bingung.
"Maksudnya aku ngidam mau makan di rumah mertuanya Yundha ma."
Mata Merry langsung melotot tak percaya. Mulutnya pun ikut membola.
"Oalah jadi karena ngidam? Mama sampai bingung. Eh, yang punya rumah udah tahu belum?"
"Gak tau ma. Aku mau bikin kejutan saja , hehehe," kekeh Selfina dengan wajah lucu.
"Astaghfirullah. Jangan kayak gitu ah. Nanti yang punya rumah kaget lagi."
"Apalagi sang pengantin baru yang kayaknya lagi ennak-ennak nih ma, xixixi" Selfina cekikikan sendiri membayangkan akan mengganggu Dewa dan Yundha pagi ini.
"Ah iya ya. Tapi jangan diganggu lah. Mereka mungkin baru saling berkenalan.
"Iya ma. Maaf." Selfina tersenyum seraya melipat tangannya sebagai permintaan maaf.
"Mama mau hubungi Rania dulu ya, supaya dia siap-siap."
"Iya ma."
"Tapi mama ikut juga, boleh?"
"Ya boleh dong ma. Ayok lah supaya ramai," ucap Selfina tersenyum.
Mereka bertiga pun keluar dari rumah diwaktu yang masih sangat gelap. Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya di ufuk timur.
Sementara itu, pemilik rumah yang akan mereka kunjungi yaitu Rania, langsung bergegas ke dapur dan meminta pelayan menyiapkan sarapan. Ia langsung sibuk menyiapkan ini dan itu karena akan kedatangan tamu.
Ia ingin memanggil Yundha dan Dewa tapi langkahnya ia urungkan karena tiba-tiba ingat kalau pasangan itu mungkin sedang berada di atas ranjang dan masih berpelukan dengan sangat nyaman di bawah selimut.
"Lho, aku kok mikir sampai kesitu ya?" ucap perempuan paruh baya itu seraya memukul kepalanya pelan.
"Gak apa-apa deh. Biarkan saja. Mau sampai besok pun yang penting mereka akur dan tidak diam-diaman lagi," ucapnya kemudian berbalik ke dapur.
Yundha mengerutkan keningnya. Ia tampak bingung. Bukankah ia sudah meminta maaf dengan benar. Lalu memangnya masih ada cara meminta maaf yang lainnya?
"Sudah ah mas. Yang penting aku dah minta maaf lho ya," ucap perempuan itu seraya membuka mukena yang sedang dipakainya dan melipatnya.
Dewa tersenyum dan hanya menatap perempuan cantik itu mondar-mandir dihadapannya dengan hanya menggunakan kemeja putih yang sering ia pakai ke kantor.
Seksih
__ADS_1
Pria itu bergumam dalam hati seraya merasakan inti dirinya berkedut dan kemudian menggeliat sangar.
Yundha sendiri masih sibuk berpikir sampai Dewa tak tahan lagi. Ia langsung mengangkat tubuh perempuan yang telah ia nikahi itu dan membawanya ke atas ranjang.
"Mass, aku takut jatuh!" Yundha berteriak tertahan seraya mengalungkan tangannya pada leher kuat sang suami.
"Kamu hanya akan jatuh cinta padaku, ngerti kamu sayang?" bisik Dewa dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.
"Ih apaan sih?" Yundha tersenyum malu. Ia merasakan pipinya menghangat.
"Kamu sudah jatuh cinta padaku 'kan?" tanya Dewa kemudian meraup bibir sang istri dengan penuh hasrat.
Yundha tak perlu menjawab dengan kata-kata. Meskipun dengan malu-malu, ia pun terpancing untuk membalas dan akhirnya bibir mereka tak terlepas. Mereka saling berbagi rasa cinta yang tak perlu diucapkan.
Dewa perlahan menurunkan tubuh sang istri dengan sangat pelan kemudian mulai membuka pakaiannya.
"Mas, kamu mau apa?" tanya perempuan itu dengan dada berdesir hebat. Ia kembali merasa sangat gugup melihat penampilan suaminya seperti semalam.
Garang dan berbahaya.
"Mas, ih kok bangunnya cepat banget sih?" tanya Yundha dengan tatapan takjub pada milik suaminya yang tampak sangat luar biasa.
"Pengen sapa dedek pagi-pagi sayang. Mau ngucapin good morning katanya." Dewa menjawab seraya menghampiri Yundha dan membuka kancing kemeja putih yang sedang digunakan oleh sang istri.
"Mas, aku pengen ke dapur bantuin mama masak," ucap Yundha berusaha untuk menolak meskipun sebenarnya ia sangat ingin merasakan kembali manuver-manuver benda tumpul itu.
"Gak usah sayang. Aku aja yang kamu masak di dalam gua panasmu hemm."
Yundha tersipu malu. Pria dihadapannya ini benar-benar sangat mesum dan tak mau melepaskan dirinya.
"Kamu harus meminta maaf dengan benar sayang," ucap Dewa dengan ibu jari mengelus bibir sang istri tercinta. Yundha menutup matanya dan tak sadar mengulum jari-jari sang suami ke dalam mulutnya.
"Aku ingin kamu melakukan hal yang sama sayang," bisik Dewa kemudian mengarahkan tangan istrinya itu pada senjatanya.
Yundha langsung membuka matanya. Wajahnya langsung berubah horor tapi Dewa tersenyum.
"Bentar aja sayang. Aku akan kasih tahu caranya, hemm," bisik Dewa dengan bibir mulai memberikan kecupan-kecupan ke seluruh permukaan kulit istrinya sebagai salam pembuka di pagi yang masih gelap itu.
"Uuggh masss..."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊