
"Kalau kamu mau janin ini tumbuh, lahir sehat dan selamat, jangan lagi menggangguku!" ucap Yundha memberi ultimatum. Tatapannya tajam setajam silet.
"Aku belum siap menikah tapi kamu memaksaku dengan menanam janin ini di dalam perutku."
"Aku ingin hidup normal seperti biasa. Bebas jalan dengan siapapun dan juga melakukan apa saja sendiri!" Suara perempuan itu tersengal karena emosi di dadanya.
Keberadaan Aril yang penuh perhatian dan perlakuan suaminya beberapa saat yang lalu menyulut kembali rasa marah dan bencinya pada pria tampan dan berbahaya yang ada di sampingnya itu.
Dewa menghela nafasnya kemudian tersenyum.
"Iya baiklah, tapi usahakan untuk tidak gampang emosi seperti itu. Janinnya nanti terganggu kalau perasaanmu kacau."
"Cih!" Yundha berdecih.
"Ingat untuk tidak lagi menyentuhku apalagi memperlakukan aku dengan sangat kasar seperti itu!"
"Sesuai keinginanmu sayang. Tapi aku akan tetap memperhatikan dirimu karena kamu adalah istriku. Ada janin yang harus aku jaga begitu pun dirimu," ucap Dewa dengan suara tenangnya.
"Terserah!" Yundha mengibaskan tangannya tak perduli. Ia pun turun dari mobil itu dan langsung meninggalkan Dewa tanpa berkata-kata lagi.
Sesuai kata dokter tadi, moodnya memang bak roller coaster. Selalu kacau jika berdekatan dengan pria itu. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia sangat membenci Dewa. Semua yang dilakukan pria itu selalu saja salah dimatanya.
Dewa pun ikut turun dari mobilnya kemudian menelepon mama Rania kalau mereka belum bisa menginap di sana malam ini. Yundha masih dalam keadaan mood yang sangat buruk.
Merry menyambut kedatangan mereka berdua dengan wajah bingung pasalnya Yundha masuk ke rumah dengan menghentakkan kakinya kesal.
"Ada apa sih? Kok Yundha pulang dengan marah-marah seperti itu?" tanya Merry pada Dewa, sang menantu.
"Gak apa-apa ma. Tadi aku ada kesalahan yang hampir membuatnya keguguran," ucap Dewa dengan perasaan tak nyaman di dalam hatinya.
"Astaghfirullah. Kok bisa sih nak?" Merry beristighfar berkali-kali karena begitu kaget dengan berita yang dibawa oleh sang menantu.
Dewa akhirnya menceritakan kronologis kejadian beberapa saat yang lalu dengan tak berhenti mengucapkan kata maaf pada setiap akhir kalimatnya.
"Kamu gak salah, cuman memang perlu berhati-hati aja sih kedepannya," ucap Merry seraya menepuk pundak Dewa.
__ADS_1
"Iya ma." Dewa menundukkan wajahnya.
"Dan maafkan istrimu. Ia masih belum bisa menerima keadaan ini. Kamu yang sabar ya. Insyaallah ia akan baik lagi kok, kamu hanya perlu memberinya perhatian yang sangat banyak."
"Iya ma. Makasih banyak."
"Perempuan itu gampang luluh jika kamu ikhlas memberinya kasih sayang."
Dewa tersenyum dan mengiyakan semua perkataan perempuan paruh baya itu. Ia tahu kalau ia belum maksimal menunjukkan cintanya pada istrinya yang sangat cantik itu.
"Aku ke kamar dulu ma. Siapa tahu Yundha butuh sesuatu," pamitnya.
"Iya."
🌹
Beberapa hari ini Yundha merasakan hal yang sangat aneh dan sedikit horor.
Sejak insiden itu terjadi Dewa tak lagi mau mengganggunya atau bahkan menyentuhnya secara ekstrim. Bicara pun hanya seadanya saja. Ia benar-benar sangat dingin. Tidur pun, pria itu tak mau lagi memaksa di atas ranjang seperti malam-malam sebelumnya.
Ia selalu terbayang-bayang akan keusilan pria itu padanya. Belum lagi rasa ciuman dan sentuhan pria itu rasanya sangat ia inginkan tapi ia malu mengatakannya.
Dunia jadi terasa hampa dalam kehidupan pernikahannya.
Setiap hari ia hanya uring-uringan tak jelas tapi Dewa sama sekali hanya diam dan tak ingin merespon yang ia lakukan kecuali saat ia meminta mau makan ini dan itu barulah pria itu dengan diam-diam memesankannya lewat aplikasi tapi ia tetap tak bicara.
Ia jadi curiga kalau-kalau pria itu mendatangi Jessica yang sedang hamil karena selama ini ia tak pernah mau memberikan apa yang suaminya itu inginkan.
"Apa mungkin ia sudah tidak sayang padaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Atau ada sebuah kekuatan jahat yang memengaruhinya hingga ia tidak lagi berhasrat padaku?"
"Atau ia benar-benar sudah jadi pria impoten yang tak ada hasrat lagi pada perempuan?" Ia pun bergidik ngeri.
Pertanyaan-pertanyaan ini sering keluar dari benaknya hingga ia jadi stres sendiri. Hampir sebulan keadaan ini terjadi, awalnya ia sangat senang tapi lama kelamaan ia jadi merasa menjadi seorang perempuan yang tidak diinginkan dan tidak cantik lagi karena sedang hamil.
__ADS_1
"Apa aku coba memancingnya saja?" ucapnya lagi dengan senyum yang tiba-tiba muncul diwajahnya.
Yundha akhirnya berusaha untuk memancing pria itu dengan tidur hanya menggunakan lingerie seksi setiap malam. Tapi suaminya itu tidak pernah tertarik padanya dan melakukan sesuatu yang sangat ia inginkan.
"Apa mungkin dihatinya tak ada lagi namaku?" ucapnya dengan perasaan yang sangat sedih.
Ketakutan-ketakutan itu ia rasakan tapi tak ingin ia ceritakan pada orang lain meskipun pada mamanya sendiri. Dan juga beberapa hari ini ketakutannya semakin bertambah saja, yaitu, ketika setiap pagi, saat ia membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia selalu saja mendapati bagian leher dan dadanya tampak bercak merah keunguan.
Ia jadi mulai berprasangka yang tidak-tidak tentang keberadaan makhluk halus seperti vampir yang mungkin saja ada dan hidup di dalam kamarnya.
Sehingga pagi ini saat ia memandang dirinya di dalam cermin dan melihat tanda-tanda itu lagi dan bahkan sangat banyak, ia pun memberanikan dirinya berbicara pada suaminya yang sedang bersiap ke tempat kerjanya.
"Mas, aku mau kita nginap di rumah kamu," ucapnya dengan suara rendah.
Dewa tersentak kaget. Untuk pertama kalinya istrinya itu memanggilnya dengan panggilan Mas. Ia pun tersenyum samar.
"Mas, mau 'kan ajak aku ke rumah mama?" tanyanya lagi sembari menggigit bibir bawahnya dengan perasaan tak nyaman. Sungguh, ia sebenarnya sangat malu karena ia yang akhirnya meminta pada pria itu saat Dewa sudah tak ingin mengajaknya berdebat.
"Kenapa?" tanya Dewa dengan wajah santai. Tangannya sibuk memakai dasinya. Yundha jadi gelagapan sendiri. Ia pun sibuk memikirkan apa alasannya.
"Aku gak suka di kamar ini, gak nyaman banget mas. Kayaknya ada makhluk halus deh di sini."
"Bukannya kamu gak ingin ke rumah mama?" tanya Dewa lagi dengan senyum samar di bibirnya.
"Ya udah. Gak usah kalo begitu." Yundha menghentakkan kakinya karena kesal. Ia pun lari ke kamar mandi dengan airmata yang menggenang di pelupuk matanya.
Dewa pun segera pergi dari kamar itu karena ada meeting penting yang harus ia hadiri meskipun ia sangat ingin membujuk istrinya yang sedang ngambek.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1