
Dewa merasakan ada yang berubah pada Yundha sejak kepulangan mereka dari rumah kediaman Wicaksono.
Perempuan cantik itu sudah mulai menanggapi dengan baik apa yang ia katakan atau lakukan.
Sepertinya ada udara yang sangat segar nih, ucap Dewa dalam hati. Ia pun tersenyum-senyum sendiri dengan dada berdebar. Ia berharap malam ini perahunya bisa berlayar dengan baik.
Sesampainya mereka di rumah. Yundha sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar putra mereka untuk menidurkannya. Ia sendiri jadi mempunyai waktu untuk membuat sebuah kejutan romantis di dalam kamar mereka sendiri.
Lampu pun ia matikan agar suasana jadi semakin romantis. Hanya sebuah lampu kecil yang menyala dan menampilkan suasana remang-remang.
Sebuah musik slow ia siapkan untuk menjemput Yundha dan akan diajaknya perempuan cantik itu untuk berdansa. Tapi sampai ia terkantuk-kantuk, istrinya itu tidak datang juga.
Perasaan kesal pun muncul di dalam hatinya. Ia merasa sangat dipermainkan oleh perempuan yang sangat dicintainya itu. Dengan perasaan kecewa ia pun akhirnya naik ke tempat tidur dan berusaha untuk tidur meskipun matanya sangat sulit untuk dibujuk untuk tidur.
Sementara itu, Yundha sedang berdandan di dalam kamar sang putra dengan pakaian yang sangat terbuka. Ia juga sudah menyiapkan kejutan untuk suaminya yang sangat dicintainya itu.
Sungguh, ia sudah sangat rindu untuk memadu kasih dengan pria tampan yang sangat perkasa itu.
Akan tetapi sampai ia terkantuk-kantuk juga Dewa pun tak kunjung datang. Perasaan kesal nya kembali menyeruak ke permukaan. Ia berjanji akan marah dan tak akan merespon lagi apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
Ia pun jatuh tertidur karena menunggu sang suami datang menjemputnya.
Dewa gelisah, ia sungguh tak bisa tidur. Suasana kamar yang sangat romantis malam itu terasa sangat menggangunya. Ia pun akhirnya bangun dari tempat tidurnya dengan perasaan tersiksa.
Tanpa sadar ia keluar dari kamar itu dan melangkahkan kakinya menuju kamar Zacky. Ia membuka pintu kamar itu dengan senyum yang tiba-tiba terbit diwajahnya.
Yundha tertidur di samping putra mereka dengan pakaian yang tersibak ke atas. Ia pun merasa bahwa Yundha pasti sedang mengundangnya untuk datang berkunjung.
Pria itu pun mengangkat tubuh istrinya dengan sangat pelan kemudian membawanya ke kamar mereka berdua.
Yundha membuka matanya karena merasakan tubuhnya melayang.
"Mas?"
"Hum?"
Dewa tersenyum kemudian mengecup bibir istrinya itu. Yundha tak menolak tapi malah mengalungkan tangannya pada leher kuat sang suami.
Dewa bersorak dalam hati.
"Bersiaplah sayang, aku sudah sangat ingin mendengar rintihanmu," bisik pria itu dengan suara bergetar penuh hasrat.
Yundha tersenyum kemudian menjawab dengan sangat sensual," Aku menantikan lenguhanmu juga mas."
Skip
Skip
Hehehe
__ADS_1
🌹
"Sah!"
"Sah!"
"Tidaaaaaaak!"
Nafas Tiara ngos-ngosan dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia terbangun dengan wajah yang sangat takut.
Jaka si Bandot tua rupanya memburunya sampai ke alam mimpinya. Ia pun turun dari ranjang dan mencari air minum untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
"Ya Allah. Kenapa aku jadi sangat takut menikah dengan pria tua itu?" ucapnya dengan dada yang berdebar kencang. Ia pun mengibaskan tangannya di udara berusaha mengusir bayang-bayang calon suaminya itu.
Setelah perasaannya kembali lebih baik. Ia pun menuju ranjangnya lagi. Tangannya segera meraih handphonenya yang ia simpan di atas nakas. Ia ingin mengintip akun media sosialnya untuk menghibur dirinya yang sedang galau karena pernikahannya.
Ia pikir, ia bisa tenang dengan bermain gawai atau berseluncur di dunia Maya tapi ternyata itu tidak terjadi. Ia malah semakin galau karena beberapa chat yang masuk ke dalam benda pipih elektronik yang sedang dipegangnya.
Yudhi, mantan pacarnya baru saja mengiriminya pesan permintaan maaf bertubi-tubi sampai puluhan. Dengan isi kalimat yang sama.
[Ra, aku minta maaf]
[Aku menyesal telah menyakiti hatimu]
[Tolong maafkan aku Ra, yang kamu lihat waktu itu tidak seperti yang kamu bayangkan]
"Ah brengsek! Kamu pikir aku bodoh?!" teriaknya pada layar handphonenya. Setelah itu ia melempar alat elektronik itu ke sembarang arah karena kesalnya.
"Oh Tidaaaak!
Kembali ia berteriak keras seraya menjambak rambutnya yang sejak tadi memang sudah sangat acak-acakan.
"Aku gak rela menjadi istri bandot itu!" teriaknya lagi kali ini dengan sangat histeris sampai mengundang mamanya datang ke dalam kamarnya.
"Tiara! Ada apa sayang?" tanya Wana yang kebetulan masih belum tidur di tengah malam itu. Ia masih sibuk dengan urusan pernikahan sang putri yang akan dilaksanakan pada esok harinya.
"Mama?" Tiara langsung berlari ke dalam pelukan sang mama.
"Aku gak mau nikah ma," ucap perempuan muda itu dengan perasaan yang sangat sakit.
"Lho kok? Katanya kemarin kamu setuju dan menerima semua keputusan kami. Kok malah begini sih?"
Wana jadi berubah khawatir. Ia takut jiwa putrinya itu jadi terganggu dengan acara pernikahan dadakan ini.
"Pokoknya aku gak mau ma. Aku gak mau menikah, hiks. Aku masih mau bebas. Aku ini masih muda lho ma. Masih umur 18 tahun dua bulan lagi. Jadi tolong, beritahu papa untuk membatalkan acara ini ya plis," mohon Tiara dengan melipat kedua tangannya di depan wajahnya.
"Kamu ini gimana sih? Gimana membatalkannya coba kalau semua orang sudah pada sibuk seperti ini. Tolong jangan permalukan kami ya sayang." Wana mengelus lembut punggung sang putri menenangkan.
"Tapi aku nanti gak bahagia ma."
__ADS_1
"Eh, siapa bilang? Suamimu itu sangat mencintaimu sayang. Ia bahkan rela membayar semua utang papamu demi untuk menikah denganmu."
Tiara mendengus.
Tentu saja ia rela membayar mahal. Aku ini masih perawan dengan daging yang masih sangat segar.
Aku pun belum pernah berciuman jadi bibirku ini masih sangat segar dan juga manis, eh.
"Sekarang kamu tidur dan pastikan kamu nyenyak sayang. Besok pagi tim makeup akan mendandanimu dengan sangat cantik supaya suamimu pangling dan tak bisa berkedip melihat dirimu."
"Mama tega sama aku."
"Lho kok ngomongnya kayak gitu sih sayang. Gak ada lho orang tua yang mau melihat anaknya tidak bahagia."
"Ada ma. Papa orangnya. Ia tega memaksakan kehendaknya sama anak sendiri. Padahal aku masih ingin belajar di bangku kuliah agar bisa membahagiakan mama."
Wana tersenyum kemudian mengecup pipi sang putri.
"Sabar. Kamu insyaallah bahagia. Kamu juga bisa minta lanjut ke universitas setelah kamu menikah. Orangnya 'kan kaya."
Tiara menghela nafasnya berat. Sepertinya ia tak akan bisa lolos kali ini. Ia pun menatap wajah sang mama dengan wajah pasrah.
"Iya deh ma. Makasih banyak. Sekarang aku ingin tidur supaya besok lebih segar," ucap Tiara pada akhirnya. Ia mengalah. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Mau kabur, itu sudah tidak mungkin.
Wana tersenyum kemudian berucap, "selamat tidur sayangnya mama."
"Iya ma. Doakan aku kuat ma."
Wana kembali tersenyum, " Kamu pasti kuat dan bahagia sayang. Mama sangat suka sama calon suamimu."
Tiara memutar bola matanya. Andaikan ia adalah anak durhaka mungkin ia akan meminta mamanya saja yang menikahi Bandot tua itu, tapi untungnya ia adalah anak yang baik dan tidak sombong.
"Ma, bisa nawar gak sih?"
Langkah Wana yang sudah di depan pintu kamar langsung terhenti oleh ucapan sang putri.
"Apa?" tanyanya.
"Acara nikahan nanti aku gak mau duduk bersanding dengannya."
Mata Wana membola. Bagaimana mungkin ada pengantin yang tidak mau bersanding dengan pasangannya.
"Plis ma. Biarkan aku membujuk hatiku dulu."
Wana pun tersenyum setuju. Yang penting mereka sah. Itu sudah cukup membuat hatinya tenang.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊