
"Yundha sayangku, kenapa kamu menyiksaku seperti ini?" erang Dewa pelan menahan perasaan siksa yang ia rasakan. Reaksi yang ia dapatkan setelah mendapatkan serangan kedua dari istrinya itu kini berbanding terbalik dengan serangan yang pertama.
Saat ini ia merasa sangat bahagia sekaligus khawatir melihat perubahan yang sangat signifikan dari juniornya yang sejak dulu ia banggakan.
Ukurannya semakin bertambah layaknya pria bintang-bintang iklan untuk obat khusus vitalitas.
"Oh Yundha sayang, aaargh...Apakah menikahimu adalah anugrah atau musibah?" tanyanya dengan rasa siksa yang sangat membahagiakan hatinya.
"Oh tidak sayang," gumamnya lagi sembari membayangkan perempuan cantik itu membalas apa yang sangat diinginkannya.
Dewa pun menutup matanya membayangkan Yundha berada dalam kuasanya dan berteriak memanggil namanya dengan sangat indah.
"Yundha sayangku, uggghh."
Cukup lama ia di dalam sana berusaha menikmati pemberian Tuhan yang sangat luar biasa ini.
"Tuhan maha baik, aku yakin itu. Dan ia yang akan menuntunmu padaku, " ucapnya menghibur dirinya sendiri.
Setelah berucap seperti itu, ia pun segera menyiram dirinya dengan air dingin untuk meredakan dan mengobati perasaan siksa yang ia rasakan saat ini.
Untuk sementara ia akan menghindari berdekatan dengan Yundha, Ia merasa was-was pada serangan ketiga perempuan cantik itu. Ia khawatir kalau itu bisa saja membuat dirinya mendapatkan khasiat yang berlawanan dengan saat ini.
Pria itu akhirnya keluar dari kamar mandi setelah berhasil menidurkan senjata andalannya dengan susah payah.
"Dimana perempuan cantik itu?" tanyanya setelah berpakaian rapi dan mencari keberadaan sang istri tercinta.
Yundha tak ia temukan dan akhirnya ia memilih untuk keluar dari kamar itu. Merry ya sudah lama menunggunya langsung menghampirinya dengan senyum diwajahnya.
"Nak Dewa cari Yundha ya?" tanyanya berbasa-basi.
"Ah iya ma. Emangnya kemana Yundha ma. Aku gak lihat dia di dalam kamar."
"Ah ya. Yudhi belum nelpon ya?"
"Belum ma. Aku juga baru aktifkan handphone. Emangnya kenapa ya?"
__ADS_1
"Yudha lagi ngajak Dony dan Darren main di Time Zone. Kalau kamu mau nyusul aja nak. Mama khawatir lho, Yundha suka main kayak anak kecil dan jangan sampai ia lupa kalau ia sedang hamil muda."
"Ah iya ma. Aku ngerti. Aku nyusul mereka kalau gitu," ucap Dewa dengan cepat. Ia pun langsung pergi setelah mencium punggung tangan sang mertua.
Dewa jadi ikut khawatir pasalnya istrinya itu sangat membenci kehamilannya. Takutnya ia melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Dewa mau kemana ma?" tanya Yudha yang baru saja melakukan jalan-jalan pagi di halaman rumah bersama dengan Selfina. Ia cukup heran juga dengan langkah buru-buru adik iparnya itu.
"Mau nyusul Yundha. Anak itu ke Time Zone dan gak pamit sama suaminya," ucap Merry seraya memandang Selfina yang tampak kelelahan.
"Sel, hamil muda gini jangan terlalu banyak beraktivitas fisik sayang. Kamu sudah lelah bekerja lho hampir setiap hari sekarang waktunya kamu nyantai aja. Takut terjadi apa-apa kalau kamu lelah."
"Iya ma. Ini juga udah mau balik ke kamar kok," ucap Selfina seraya menggandeng tangan suaminya.
"Kami tinggal ya ma, mau nengokin dedek dulu," ucap Yudha seraya meraih pinggang sang istri yang masih tampak ramping.
"Dasar kamu!" Merry langsung berlalu dari hadapan kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
"Hahaha, becanda ma." Yudha tertawa kemudian segera membawa sang istri untuk menuju kamarnya.
"Gak apa-apa. Mama pasti ngerti kok sayang," ucap Yudha seraya mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Selfina.
"Aku emang ingin nengokin dedek. Berapa hari ini kamu banyak alasan lho padahal kan aku kangen banget," rajuk Yudha seraya membuka satu-satu kancing baju sang istri.
"Ish. Ya iyalah mas. Semua orang sibuk dengan acara pernikahan ini jadi aku juga harus ikut bantuin lho, ummmm aaaaakh," dessah Selfina saat bibir Yudha sudah menyentuh daerah-daerah sensitifnya.
Selanjutnya, tak ada lagi pembahasan yang terjadi di antara keduanya, yang ada hanya suara-suara indah menguasai seisi kamar yang terasa sangat panas itu.
Tak berhenti mereka menjajal kenikmatan yang luar biasa indah yang diberikan oleh sang penguasa hati.
Kebahagiaan mereka berdua rupanya turut dirasakan oleh Dewa yang sudah sampai di Time Zone dan melihat Yundha dari jauh.
Perempuan cantik itu hanya duduk dan menyaksikan saudara-saudaranya memainkan banyak permainan. Rupanya ia masih sangat khawatir dengan keadaan suaminya di rumah.
Di tengah kebisingan musik di dalam tempat itu. Yundha termenung. Entah kenapa bayangan adegan-adegan yang dilakukan suaminya padanya beberapa saat yang lalu berkelebat dalam kepalanya.
__ADS_1
Rasa ciuman suaminya, sentuhannya pada seluruh permukaan kulitnya, dan yang terakhir adalah perlakuan istimewa yang dilakukan oleh pria itu pada dua asetnya.
Aaaa, kenapa aku jadi ingat apa yang dilakukan oleh pria brengsek itu!
"Ih sebel, jangan sampai aku terpengaruh. Aku tak akan mau lagi bersentuhan dengannya," gumamnya kesal.
"Tapi kenapa tadi ia diam saja? Apa mungkin tendangan aku tadi sangat sakit dan berbahaya?" ucapnya lagi dengan wajah yang tiba-tiba sangat takut.
Segera ia membuka handphonenya dan mencari petunjuk di laman pencarian tentang cedera pada daerah inti seorang pria.
Dan begitu kagetnya ia saat membaca jenis-jenis cedera yang bisa saja terjadi pada si terong tak berwarna itu.
Cedera terong, dapat terjadi karena disengaja atau tidak disengaja. Cedera terong yang disengaja biasanya merupakan akibat dari pertengkaran atau tindak kekerasan. Jenis-jenis trauma terong dianggap sebagai keadaan darurat urologi dan biasanya memerlukan intervensi bedah.
"Bedah? Oh tidak? Apakah akan disunat atau dipotong lagi?" Yundha menggelengkan kepalanya takut. Ia lebih pada rasa khawatir suaminya itu akan menaruh dendam padanya.
Tujuan pengobatan cedera terong adalah untuk memelihara benda yang sangat penting itu, mengembalikan fungsi ere*ksi, dan kemampuan untuk mengeluarkan air kencing ketika e*reksi.
Pengobatan sangat diperlukan karena trauma terong mungkin juga melibatkan uretra, tabung dalam terong yang digunakan untuk buang air kecil dan e*jakulasi.
Dada Yundha berdebar takut. Setelah membaca semua informasi penting tentang cedera terong yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup suaminya, ia jadi merasa sangat bersalah.
"Apa aku harus meminta maaf?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Ah tidak. Ngapain aku minta maaf, yang salah itu dia. Ngapain coba mau nyentuh- nyentuh aku padahal aku udah bilang ini cuma pernikahan terpaksa. Ih sebel kan jadinya."
Yundha terus mengoceh sendiri di depan layar handphonenya tanpa menyadari kalau seseorang sedang berdiri di hadapannya dengan senyum yang terpatri di wajahnya yang tampan.
"Hai Nda, selamat Pagi!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊