
Ardina berhenti menangis. Ia menyusut air matanya dengan jari-jarinya. Rasanya percuma saja ia menangis dan meminta pria brengsek ini menghentikan mobilnya.
Ia harus meminta bantuan kepada siapa saja. lewat handphonenya. Dengan cepat ia membuka tasnya dan mencari handphonenya. Ia harus menghubungi orang terdekatnya.
Nama pertama yang ia dapat adalah Prilya, akak tirinya karena perempuan itu yang menanyakan keadaan David yang sedang demam tadi pagi.
Ia pun menghubungi Prilya tapi sayangnya tidak diangkat walaupun sudah tersambung.
Oh plis, tolong, angkat teleponnya, mohonnya dalam hati.
"Aaaaakh!" Ardina berteriak keras saat handphone yang ada ditangannya langsung ditarik paksa oleh Maher Abdullah dan dilemparkannya ke bangku belakang.
"Mau menelpon siapa? Kita hanya akan bekerja sambil berlibur. Jadi kamu tidak perlu merasa sedang diculik," ujar Maher menyeringai.
"Anda membawa saya pergi tanpa izin itu namanya menculik pak Maher!" teriak Ardina dengan wajah mengeras. Rasanya ia ingin memukul pria itu tapi ia masih sayang pada nyawanya.
Ia takut mereka jadi celaka kalau mengganggu pria itu mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti ini.
"Bisakah kamu mengerti perasaanku Ardina? Saya mencintaimu dan tidak tahan ingin menikahimu. Jadi tolong mengertilah."
"Anda sangat egois pak Maher. Dalam kepercayaan manapun, bagaimana mungkin seorang perempuan menikahi dua orang pria. Saya mempunyai suami!"
__ADS_1
"Suami yang mana? Yang menelantarkan kamu? Pria yang kaya dan mempunyai perusahaan besar tapi tak memberi perhatian dan cinta? Kamu bodoh! Lihatlah saya. Saya adil pada semua istriku. Saya menafkahi mereka lahir dan batin."
Ardina mengerang kesal. Tangannya mengepal kuat karena emosi. Akan tetapi sekali lagi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Mobil itu pun akhirnya melambat saat sudah berada pada gerbang tol. Maher membuka kaca mobilnya untuk menyentuhkan kartu elektronik tolnya.
Saat itu Ardina yang kebetulan melihat mobil yang ia kenal dari arah sisi kirinya langsung saja memukul-mukul kaca mobilnya agar orang itu melihatnya.
Ia meraih lipstiknya dari dalam tas dan menulis kata "TOLONG" pada kaca mobil. Mobil pun mulai berjalan lagi. Ardina berharap pria itu melihatnya dan mengerti kondisinya saat ini.
"Mbak Ardina?" ujar Yudha setelah selesai menempelkan kartu elektronik tolnya juga pada mesin yang tersedia pada gardu tol itu.
"Kenapa ia menulis kata TOLONG padahal ia 'kan sedang bersama dengan bosnya sendiri, yaitu papa," gumamnya dengan wajah bingung.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa mereka sepertinya memang butuh pertolongan," ucap Yudha seraya menambah kecepatannya.
Mobil mewah milik Papanya benar-benar kencang larinya sampai Yudha kewalahan memburunya.
Sementara itu,
Beberapa anggota kepolisian mulai mengumpulkan informasi tentang hilangnya Praja Wijaya, seorang CEO Wijaya Grup.
__ADS_1
Para penyidik meminta beberapa saksi yang melihat melihat pria muda itu untuk yang terakhir kalinya pada hari Praja dinyatakan hilang. Selfina adalah salah satu saksi yang dimintai keterangan.
Akan tetapi, ia hanya bisa mengatakan kalau ia berpisah dengan Praja sebelum pria itu masuk ke Perusahaan.
Setelah semua informasi terkumpul mereka pun mendatangi sebuah pabrik yang merupakan milik perusahaan besar milik Wijaya grup.
Akan tetapi kenyataan yang didapatkan mereka adalah. Sebuah kejahatan yang telah menghancurkan negara selama ini mereka temukan tak jauh dari pabrik itu.
Sebuah kebun ganja yang sangat luas ternyata ada di sana dan sudah beroperasi selama bertahun-tahun.
Polisi bagaikan sedang mendapatkan Jack pot atau promosi jabatan yang sangat besar untuk karir mereka.
Alif Wijaya yang ikut serta bersama dengan para polisi itu berharap bukan putranya pemilik ladang ganja itu. Ia sungguh ingin kehidupan keluarga mereka aman dari hal-hal yang berbau kriminal.
Lalu dimanakah Praja sekarang? Apakah ia masih hidup?
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊