
"Stop! Hentikan! Pak Yudha, Pak Dewa! Biarkan semua ini jadi urusan polisi!" teriak petugas keamanan itu pada dua orang bersaudara yang sudah membuat Yudhi babak belur.
"Baik. Tapi berikan ia hukuman yang setimpal pak." Yudha menjawab seraya mendorong tubuh Yudhi sampai jatuh mencium tanah air.
Dua orang itu pun keluar dari rumah kecil itu dibawah tatapan lapar para perempuan penghibur yang sedang mejeng di depan teras rumah-rumah mereka.
Sungguh, mereka ingin sekali memberikan pelayanan pada pria-pria tampan yang tiba-tiba saja berkunjung ke komplek perumahan mereka.
Andaikan tak ada kasus yang membawa beberapa petugas keamanan atau polisi ke tempat itu, maka mereka pasti akan segera menangkap pria-pria tampan dan kaya itu.
"Aku gak nyangka akan memasuki tempat seperti ini kak," bisik Dewa dengan bulu kuduk merinding.
"Iya, aku juga," jawab Yudha dengan ekspresi yang sama. Ia pun merasakan hal yang sama. Seumur hidupnya ia baru berurusan dengan hal seperti ini di tempat yang sangat horor seperti ini pula.
Pria itu yakin kalau Selfina tahu ia mendatangi tempat seperti ini maka ia pasti akan diminta untuk mandi dengan air dicampur kembang tujuh rupa plus sabun antiseptik.
Dengan langkah cepat, dua orang itu pun kembali ke mobil mereka masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat terbengkalai karena kejadian ini.
Yudhistira sendiri sudah melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah. Hari ini ia tidak akan masuk bekerja dan akan memastikan istrinya tidak apa-apa dan belum disentuh oleh pria bajingan itu.
Sesampainya di rumah. Pria itu mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamarnya. Sepertinya obat bius yang diberikan oleh pria brengsek itu pada istrinya mempunyai dosis yang sangat tinggi hingga ia masih belum sadar juga sampai sekarang.
Merry dan Selfina yang ada di ruangan keluarga tampak sangat kaget dengan apa yang mereka lihat.
"Ada apa dengan Tiara Di?" tanya sang mama dengan wajah yang sangat khawatir.
"Tiara baru saja diculik ma," jawab Yudhis tanpa menghentikan langkahnya dan langsung menuju kamarnya sendiri. Merry dan Selfina saling bertatapan kemudian sama-sama mengikuti langkah Yudhis ke dalam kamar.
Pria itu meletakkan istrinya di atas ranjang kemudian mencoba membuka mulutnya untuk memeriksa lidahnya. Ia khawatir kalau lidah istrinya terlipat dan menggangu pernafasan sang istri.
"Ceritakan apa yang terjadi Di," pinta Merry penasaran. Ia begitu khawatir dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
__ADS_1
"Tiara diberikan obat bius trus diculik. Untungnya kami datang tepat waktu, jadi penculik itu tidak bisa berbuat banyak."
"Alhamdulillah. Tapi kok bisa ya?" Merry masih nampak bingung begitupun dengan Selfina.
"Ya bisa lah ma. Orangnya memang penjahat kok," balas Yudhis seraya menatap wajah sang istri yang sepertinya tampak bergerak. Tiara melenguh pelan kemudian membuka matanya.
"Alhamdulillah ya Allah. Kamu sudah sadar sayang," ucap Merry dengan wajah bahagianya. Yudhis pun tampak menghela nafasnya karena lega.
Tiara menatap satu-satu orang-orang di hadapannya dengan wajah bingung.
"Mama? Mas? Mba?" absennya.
"Iya," jawab tiga orang itu kompak.
"Valda siapa yang jemput di sekolah?" tanyanya masih dengan wajah bingung plus khawatir.
"Duh, jangan ingat itu dulu. Valda hari ini harus ikut les nari jadi pulangnya agak telat. Kamu udah baikan sekarang?" ucap Selfina tersenyum.
Setelah itu, ia membantu sang istri untuk bangun dan meminumkannya.
"Makasih mas," ucapnya dengan senyum tipis dibibirnya.
"Kamu kok bisa kayak gini sayang. Siapa yang nyulik kamu?" tanya Merry. Tiara langsung teringat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.
Yudhi. Apakah aku diculik oleh pria brengsek itu? Ucapnya membatin.
Ia menatap semua orang dengan perasaan yang tiba-tiba sangat takut. Tangannya pun bergerak memeriksa keadaan pada tubuhnya.
Apakah pria itu sudah melakukan sesuatu yang buruk padaku? Tanyanya lagi dengan dada yang tiba-tiba sesak. Ia takut kalau pria itu sudah mengambil keuntungan darinya sedangkan ia sendiri menjaganya dari suaminya sendiri.
Tiara tanpa sadar terisak. Ia khawatir pada semua orang terutama pada keluarga suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, tenangkan dirimu sayang, kami akan keluar. Suamimu akan menemanimu di sini," ucap Merry paham dengan keadaan sang menantu. Ia pun mengajak Selfina untuk keluar dari kamar itu dan meninggalkan Tiara dan Yudhis menyelesaikan urusan mereka berdua.
"Mas, maafkan aku hiks," lirih Tiara terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa kamu minta maaf Ra?" tanya Yudhis seraya membuka wajah sang istri.
"Aku,..."
"Kenapa sayang?" tanya Yudhis lagi dengan ibu jari mengangkat dagu sang istri tercinta agar mau menatapnya.
Airmata perempuan itu semakin mengalir saja dari kelopak mata indahnya. Ia sungguh sangat takut kalau suaminya akan marah padanya dan mungkin akan menceraikannya.
"Katakan kenapa kamu minta maaf Ra?" tanya Yudhis lagi seraya menghapus cairan bening yang meleleh pada pipi merona sang istri.
"Aku..."
"Kenapa sayang?"
"Aku takut mas," lirih perempuan itu lagi.
"Katakan Ra, aku sangat penasaran sayang," tuntut pria itu lagi dengan sabar. Ia tahu kalau istrinya pasti sedang terguncang dengan keadaan yang baru saja menimpanya.
"Aku takut sudah tidak perawan lagi mas, huaaaa!"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1