
Revalda tampak berpikir. Kalau ia menceritakan apa yang ia alami dengan pria itu di jalan tadi pagi, pasti semua temannya akan menyalahkan dirinya. Apalagi mereka semua telah mengidolakan pria itu, bisa-bisa ia yang dianggap tak bisa bertanggung jawab.
"Hey, gak usah bahas pak doktor itu lagi. Bagaimana kalau aku traktir kalian saja. Masih minat gak?" ucapnya mengalihkan perhatian semua temannya.
"Nah itu bagus banget. Tentu saja kami mau," ucap temannya yang lain dengan sangat heboh.
Revalda tersenyum senang. Ia pun segera mengajak teman-temannya ke kantin dan mempersilahkan semuanya untuk makan apapun yang mereka inginkan.
"Boleh gak sih kamu ulangtahun setiap hari saja," ucap Doni seraya mendudukkan tubuhnya di samping Revalda.
"Kenapa?" tanya gadis itu pura-pura bingung.
"Supaya kamu bisa traktir kami setiap hari Val, hehehe." Doni tertawa cengengesan.
"Huuuu! Suka anugrah gak gitu juga kali!" sahut Morin mencibir.
"Tapi aku suka juga sih kalau ada yang kayak gitu hahahaha!" Ikhsan, sang ketua tingkat pun ikut menimpali seraya tertawa terbahak-bahak.
"Nah itu betul banget. Setuju tuh. Uang jajan Revalda tidak akan habis kok, hehehe!" sahut yang lain memberi dukungan.
Yang lain pun ikut mengangkat jempolnya dan tertawa. Alhasil berhasil membuat suasana kantin semakin ramai. Mereka semua tampak sangat senang dan menikmati acara ulang tahun yang sangat dipaksakan itu.
Revalda hanya tersenyum saja. Ia tahu kalau teman-temannya suka bercanda dan menggodanya. Ia pun berucap dengan santai, "Boleh aja sih tapi kayaknya bukan ulang tahun lagi namanya tapi ulang hari hahahaha."
Semua orang tertawa lagi dan membuat ruangan kantin yang dikuasai oleh kelas C jurusan Hubungan Internasional itu ramai dan ribut.
Saat semua temannya sibuk menikmati makanan dan minuman yang ada, Revalda segera ke toilet dengan membawa ransel bututnya. Ia harus memeriksa isi dompetnya dan mengecek jumlah uang yang ia bawa.
Tadi pagi ia berangkat ke kampus dengan berdebat dengan sang mama terlebih dahulu hingga jajannya pun disunat. Dan ia pun tidak membawa kartu sakti yang bisa membantunya.
"Oh ya ampun, bagaimana ini?" ucapnya dengan perasaan tak nyaman.
"Mana mereka makan banyak sekali lagi," gerutunya dengan kepala yang langsung terasa pening.
Lama ia berada di dalam toilet, dengan memikirkan bagaimana caranya ia bisa membayar semuanya padahal ia hanya mempunyai selembar uang merah.
"Ish, ini gara-gara di dosen resek itu," gerutunya lagi seraya menyalahkan semua masalahnya pada David.
Setelah tak mempunyai cara selain menggadaikan barang berharga miliknya di kasir kantin, ia pun keluar dari toilet itu dan tak sengaja menabrak David, sang dosen idaman. Eh, idaman semua orang kecuali dirinya.
"Eh maaf pak, gak sengaja," ucapnya dengan wajah meringis. Ia pun melipat tangannya di depan wajahnya untuk meminta maaf.
"Kamu sudah bisa meminta maaf ya?" ucap David dengan tatapan tajam pada gadis itu. Revalda hanya menunduk dan tak bisa melawan atau nilainya nanti tak bisa diselamatkan.
"Iya pak maafkan aku," ucap gadis itu lagi dengan wajah tetap menunduk.
__ADS_1
"Maaf saja gak cukup. Kamu masih ada utang padaku, ngerti kamu?!"
"Eh?" Revalda mengangkat wajahnya dengan perasaan yang sangat kaget.
"Ini!"
David meraih tangan Revalda dan menyerahkan nota perbaikan mobilnya yang mencapai harga puluhan juta.
"Apa?! 20 juta? Yang benar saja pak. Cuma goresan sedikit aja juga. Bapak mau memeras aku ya?" Gadis itu langsung bertanduk. Ia lupa diri kalau ia sedang bicara dengan siapa.
Kepala gadis itu yang berdenyut pusing memikirkan cara membayar tagihan di kantin itu kini malah bertambah sedangkan ATMnya pun diblokir oleh sang mama.
David menyeringai. Ia tampak tersinggung dengan kata-kata seorang mahasiswa yang tidak sopan padanya seperti itu.
"Terserah apa katamu. Yang jelasnya kamu harus membayar biaya bengkel ini. Mobilku masih ada disana. Aku saja ke kampus ini pakai ojek!"
Revalda mengangkat tangannya ke atas dan meremas udara karena sangat kesal.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu. Uang jajanku sedang disunat oleh mama. Jadi aku tidak akan bayar!" geram Revalda seraya menyerahkan nota itu pada David.
"Kamu tidak punya uang? Tapi berani mentraktir teman-temanmu seperti orang yang kaya??!" ucap David sarkas.
"Sombong!" lanjut pria itu dengan wajah mengeras.
Revalda mengeratkan rahangnya marah. Sungguh, ia sangat ingin menyumpal mulut pria itu dengan sepatunya.
"Budaya yang sangat bagus.Tapi sayangnya bertanggungjawab atas masalah yang sudah kamu perbuat itu wajib hukumnya. Kamu harus membayar ongkos bengkel itu!" balas David kekeh.
"Aku tidak punya uang pak. Kalau bapak mau menolongku, beri aku utang untuk membayar semua traktiran itu di kasir kantin."
"Apa?!"
Mata elang pria itu melotot tak percaya dengan ucapan gadis dihadapannya.
"Apa aku tidak salah dengar hah?! Utangmu saja belum kamu bayar dan sekarang kamu mau memeras aku ya?!"
"Tidak pak. Aku tidak akan berani memeras bapak yang merupakan seorang yang sangat cerdas. Tapi kumohon, tolong bantu aku pak. Aku janji akan membayar utangku itu dalam waktu dekat."
"Cih!" David berdecih tak percaya.
"Pak, Plis. Aku sedang berada di ujung tanduk pak. Aku sebentar lagi jatuh pak. Dan aku akan sangat malu kalau akan dijadikan sebagai tukang cuci piring di kantin ini karena tidak bisa membayar," ucap Revalda seraya melipat kedua tangannya di depan wajahnya memohon.
Mata indahnya menatap David bagaikan mata seekor anak kucing yang sangat manis dan butuh pertolongan.
David mencibir, ekspresi gadis itu nampak sangat berbeda dengan ekspresinya tadi yang sangat berani dan bahkan melawan. Revalda bagaikan seorang gadis lugu yang sangat butuh pertolongan.
__ADS_1
"Jadi kamu tidak ingin jadi tukang cuci piring di sini?" tanya David dengan sebuah ide di dalam kepalanya.
"Iya pak. Aku malu lah. Semua orang kenal siapa Revalda yang merupakan mahasiswi populer di kampus ini. Masak jadi Tukang cuci piring sih pak?!"
David kembali berdecih.
"Baiklah. Aku bantu kamu bayar. Akan tetapi utangmu itu harus kamu kembalikan dalam waktu tiga hari saja atau kamu akan menjadi pelayan di rumahku selama setahun."
"Baik pak. Terimakasih banyak." Revalda melompat kegirangan. Ia pun tak sadar langsung mencium tangan David karena senangnya.
"Eh?"
David tampak kaget. Pasalnya Revalda adalah gadis berhijab tapi kok berani menyentuh pria seperti ini.
Apa jangan-jangan gadis ini bukanlah gadis baik-baik? Dan hanya menggunakan hijabnya sebagai penutup saja tanpa tahu maknanya?
Pria itu menghela nafasnya kemudian memberikan kartu saktinya pada gadis itu.
"Pinnya pak?" tanya Revalda.
"151005."
"Eh?" Revalda tercekat kaget.
"Kenapa?"
"Coba ulangi sekali lagi pak."
"151005."
"Kok?"
"Kenapa?" tanya David dengan wajah penasaran.
"Itu tanggal lahir aku pak."
David terkekeh sinis. Ia yakin gadis itu pasti hanya modus saja untuk mengambil perhatiannya.
"Itu hanya kebetulan aja. Ayo cepat bayar dan kembalikan kartu itu di ruangan aku!" ucap pria itu dan segera berlalu dari tempat itu.
"Hum, adakah sesuatu yang kebetulan?" tanya Revalda dengan dahi mengernyit.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊