
"Jemput aku sore ini ya mas," ucap Ardina seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Iya. Tapi kalau aku lambat datang karena acaranya lama kamu bisa minta David menjemput kamu atau naik taksi saja ke rumah," balas Praja tersenyum lalu mencium kening dan berakhir dibibir sang istri.
"David juga suka sibuk mas. Entah kapan anak itu ada waktu untuk dirinya sendiri."
"Gak apa-apa. Biarkan saja sayang. Usianya masih muda juga. Kalau lagi kejar karir ya gitu. Dipuas-puasin. Nanti juga akan lelah sendiri."
"Ih gak gitu juga mas. Masak udah Doktor tapi belum kepikiran untuk mempunyai calon istri." sela Ardina tak rela dengan jawab sang suami.
"Gimana kalau sampai jadi Professor ubanan dan gak berpikir untuk menikah? Bisa-bisa keturunan Wijaya habis dong."
"Hahaha gak akan seperti itu. David itu pria normal. Pasti ada dong hasrat untuk mempunyai pasangan. Jadi kamu sabar saja. Nanti kalau dia kebelet kawin kamu yang repot."
Ardina mendengus pelan kemudian tersenyum karena mempunyai ide hebat di kepalanya.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja sama anaknya Selfina, pasti cocok tuh. Mereka berdua 'kan akrab sewaktu masih kecil." Ardina berucap dengan sangat bersemangat. Ia sampai lupa kalau suaminya itu akan menghadiri sebuah acara.
"Anak zaman sekarang mana mau dijodoh-jodohkan sayang," ucap Praja tersenyum.
"Dan kamu jadi lupa untuk turun deh, hahaha," lanjut pria itu tertawa. Ardina langsung tersadar kalau ia sudah berpamitan pada sang suami dan tidak jadi turun dari mobil itu.
"Iya deh, nanti kita bicarakan lagi, Assalamualaikum mas," ucap perempuan cantik itu kemudian segera turun dari mobil.
"Waalaikumussalam." Praja menjawab kemudian melajukan mobilnya menuju sebuah hotel tempat acara pertemuan para pengusaha di negara itu.
Ardina melambaikan tangannya mengiringi kepergian suaminya. Ia yang sengaja ikut ke ibukota bukan untuk mendampingi pria itu tapi untuk mampir ke rumah Selfina dan juga ke apartemen sang putra.
Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan orang-orang yang pernah sangat dekat dengannya itu.
Terakhir ia bertemu dengan Selfina sekitar 10 tahun yang lalu sewaktu Reza baru lahir. Itu pun di kampung. Sedangkan David, putranya itu sudah hampir enam bulan ini tak pernah pulang dengan alasan sibuk dengan pekerjaan.
Ardina pun memasuki rumah baru Selfina dengan perasaan yang sangat bahagia. Rindunya sebentar lagi akan terobati dengan perempuan beranak tiga itu.
"Assalamualaikum!" ucapnya memberi salam. Untungnya ia sudah meminta alamat ini sebelumnya hingga ia tidak perlu ke rumah lama mereka yang ditempati oleh Merry, ibunya Yudha.
"Waalaikumussalam!" Seorang Art datang membukakan pintu untuknya.
"Ibu Selfina ada di rumah gak mbak?" tanyanya pada seorang perempuan muda yang berpakaian seragam pelayan.
"Iya Bu. Silahkan masuk. Ibu Sel udah lihat di layar monitor CCTV dan minta ibu langsung masuk saja," ucap perempuan itu dengan ramah.
Ardina pun langsung memasuki ruangan yang ditunjukkan asisten rumah tangga itu. Dan sesampainya ia di ditempat itu ia melihat Selfina sedang menangis.
"Sel," panggil Ardina kemudian langsung memeluk perempuan cantik berhijab itu.
__ADS_1
"Mbak Ar," balas Selfina dengan tangis yang semakin pecah.
"Ada masalah apa Sel. Coba ceritakan padaku."
"Revalda udah tiga hari ini gak pulang ke rumah. Ia marah sama aku," lapor Selfina seraya menyusut airmatanya.
"Lho kok bisa sih?"
"Aku yang salah mungkin. Aku terlalu keras sama dia. Dan sekarang ia ngambek dan tak mau pulang."
Ardina menghembuskan nafasnya pelan. Ia tahu bagaimana perasaan seorang ibu berada pada posisi seperti ini.
"Memangnya sekarang Valda ada dimana?"
"Kata Fariz, Valda ada di rumah Yundha. Aku sudah minta pulang tapi anak itu bahkan tak ingin berbicara denganku mbak. Aku sangat sedih."
"Valda itu anak baik kok. Ia pasti pulang dan menyadari kesalahannya. Mungkin ia lagi sibuk sama tugas di kampusnya Sel. Kamu yang sabar ya."
"Tapi mbak, aku gak pernah tak bertemu dengan anak itu sampai selama ini. Gak enak banget rasanya."
"Kamu yang sabar ya, anak-anak zaman sekarang memang gampang marah melebihi orangtuanya. Tapi tenang saja. Yundha dan suaminya pasti membujuk kok supaya Valda cepat balik dan meminta maaf padamu."
"Aku harap sih begitu mbak. Aduh maaf nih, aku bukannya menyambut mu dengan senyum eh malah seperti ini," ucap Selfina seraya menyusut airmatanya.
"Aku pun kadang seperti itu Sel, rasanya anak-anak kita terlalu cepat besar hingga kita belum siap jika mereka mempunyai jalan pikiran yang berbeda dengan keinginan kita."
Ardina tersenyum kemudian menepuk punggung tangan Selfina.
"Kamu enak mbak Ar. David sekarang udah lebih dewasa dan sudah membuatmu bangga. Sedangkan Valda? Dia anak gadis tapi kelakuannya kayak laki-laki mbak. Pakai motor sport yang seharusnya milik Fariz. Suka balapan dan masih banyak lagi kelakuannya yang bikin aku pusing."
Ardina tertawa. Ia jadi sangat ingin bertemu dengan putri pertama Selfina itu.
"Rasanya pingin aku nikahkan saja mbak supaya ada yang jaga. Pergaulan anak zaman sekarang sangat mengkhawatirkan. Suka bikin ngeri." Selfina bergidik membayangkan hal yang buruk menerpa sang putri.
Ardina kembali tertawa kemudian berucap," Gimana kalau kita jodohkan saja David dengan Revalda Sel, aku yakin putraku bisa menjaganya dengan baik."
Selfina melongo.
"Hah? Beneran Mbak mau sama Valda yang kelakuannya seperti itu?"
"Eh jangan berkata seperti itu Sel, setiap anak mempunyai kelebihan masing-masing. Revalda gak ninggalin sholat dan Istikomah menutup auratnya saja itu sudah poin penting lho."
Selfina meringis. Sekali lagi ia melakukan kesalahan dengan tidak bangga pada apa yang dimiliki oleh putrinya sendiri.
"Tapi mbak. Aku takut David yang pintar dan cerdas itu pasti gak mau sama Valda yang gak ada sifat feminimnya kayak gitu. Udah gak tahu apa-apa lagi. Masak pun ia tak bisa mbak."
__ADS_1
"Ya gak apa-apa. David pasti senang. Sejak dulu ia 'kan memang akrab dengan putrimu. Dan ya, kalau soal masak sih. Di YouTube sudah disediakan tutorial dari A sampai Z. Gak usah khawatir lah."
"Ah iya mbak. Aku jadi senang. Tapi emangnya David gak punya pacar atau calon istri gitu? Jangan dipaksa lah mbak nanti anak-anak jadi gak bahagia."
"Iya sih. Mas Praja juga ngomong kayak gitu. Tapi nanti deh, saat aku ketemu tuh anak aku akan tanyakan langsung. Usianya udah cocok nikah lho Sel, apalagi udah punya pekerjaan tetap."
"Iya mbak. Dan Revalda juga. Semoga mau mengikuti keinginan kita."
"Aamiin. Pokoknya sih mereka harus berkenalan dulu. Maklumlah udah lebih sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Pasti udah pada lupa wajah masing-masing."
Dua orang perempuan berusia kepala empat itu saling tertawa bahagia. Mereka sudah membayangkan akan menjadi besanan.
Akan tetapi tidak dengan David dan juga Revalda. Dua orang itu saling bertatapan dengan sengit. David sengaja menghadang motor gadis itu di tengah jalan sepi untuk ia berikan kuliah tujuh menit.
"Kamu sengaja menghindari aku ya!" ucap David dengan wajah kesalnya.
"Aku telpon tapi kamu selalu tolak. Mau lari dari utang kamu ya?!" lanjut pria itu dengan ekspresi yang sama.
Revalda mengepalkan tangannya tak kalah kesalnya. Baru kali ini ia dipermalukan hanya karena utang yang tidak begitu banyak itu. Akan tetapi ia berusaha untuk tenang.
Gadis itu pun menjawab dengan se sopan mungkin, "Tidak pak. Aku tidak pernah berpikir untuk lari dari tanggung jawab. Aku udah mau bayar kok. Tapi karena ATM aku kena blokir sama mama jadi lambat ngumpulin uangnya."
"Halah, alasan! Bilang saja kamu gak mau tanggung jawab!"
"Gak pak. Ini aku mau ke apartemen bapak. Uangnya aku bawa kok," balas Revalda seraya membuka tas ranselnya setelah itu ia mengambil sebuah amplop berwarna coklat yang berisi uang sekitar 25 juta dan memberikannya pada David.
"Kalau begitu kamu serahkan uangnya di apartemen aku saja," ucap David santai.
"Eh?" Wajah cantik Revalda melongo. Sedangkan David hanya tersenyum. Pria itu tiba-tiba mendapatkan ide untuk membuat gadis itu kembali ke apartemennya.
"Gak bisa pak. Aku ada balapan hari ini. Aku gak mau. Uang itu pun dari DP mereka yang minta aku jadi joki."
"Apa?!" David tampak sangat kaget dibuatnya. Ia tak menyangka kalau gadis cantik yang ada dihadapannya ini adalah seorang pembalap.
"Aku kembalikan uang ini dan utangmu lunas. Kamu tidak perlu ikut balapan!"
"Eh? Tapi kenapa?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1