
"Papa? Hole...Papa datang..." David langsung menubruk pria tinggi bertubuh atletis itu di depan pintu. Nampak sekali kalau ia sangat gembira dengan kedatangan papanya.
Ia langsung melompat ke atas gendongan pria itu dan menciumi pipi kiri dan kanan pria tampan yang sudah menjadi idolanya itu.
"Papa ndak ucah pelgi-pelgi lagi ya, mama kan jadi catit," ucap David dengan wajahnya yang sangat menggemaskan.
Praja tersenyum. Ia juga sangat ingin tinggal bersama tapi apa boleh buat karena mereka berdua masih memiliki pekerjaan yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja jadi akhirnya beginilah yang terjadi.
"Mama dimana sayang?" tanyanya.
"Mama di kamal, lagi bobok."
"Kalau gitu kita ke kamar ya," ucap Praja dengan langkah cepat ke arah kamar mereka. Langkahnya terhenti sejenak karena berpapasan dengan Asna di dalam ruangan bagian dalam.
"Assalamualaikum ibu," sapanya.
"Waalaikumussalam. Ardina sedang tidak enak badan. Masuklah," ucap perempuan paruh baya itu tersenyum.
"David ikut nenek ya sayang, kan tadi mau maem," lanjutnya seraya mengarahkan tangannya kepada sang cucu. Ia tidak ingin anak itu mengganggu kedua orangtuanya yang akan bertemu.
"Oh iya, caya mau maem cama nenek nanti kita main ya papa?" ucap David memberikan penawaran. Praja tersenyum dan mengangguk.
"Iya, papa mau lihat mama dulu ya, nanti kita main kok," ucap Praja seraya menurunkan tubuh sang putra dari gendongannya.
"Terimakasih banyak Bu. Saya akan ke dalam." Praja pun melanjutkan langkahnya ke dalam kamarnya.
Pandangannya langsung ke arah tempat tidur dimana istrinya sedang berbaring diatas ranjangnya.
Ia pun menghampiri ranjang itu dan langsung duduk di pinggirnya. Ardina yang memang tidak tidur langsung memandangnya dengan tersenyum.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Praja seraya mengecup lembut kening sang istri.
"Udah deh, gak usah kerja. Kalau kayak gini 'kan aku yang tidak tenang sayang," ucapnya lagi dengan perasaan khawatir.
"Insyaallah aku bisa menafkahi kamu dan ibu sayang," lanjutnya dengan tangan mengelus lembut wajah pucat istrinya. Ardina tersenyum diantara wajah lemasnya.
"Aku baik-baik saja kak, cuma agak pusing saja sih," jawab Ardina seraya mengambil tangan besar suaminya dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecupnya dengan penuh perasaan.
"Iya, pusing sampai pingsan. Mana ada baik-baik saja jika seperti itu. Untungnya bosmu itu yang memberitahu aku kalau tidak? Kamu pasti akan menutupi keadaanmu ini."
"Oh, jadi pak Yudha yang ngasih tahu?"
__ADS_1
"Iya. Handphonemu aku hubungi pun tidak aktif bagaimana aku bisa tenang sayang." Praja mengeluh tapi dengan tatapan sayang pada sang istri.
"Maaf kak. Aku pikir aku hanya lemas dan pusing biasa aja sih makanya aku gak mau bilang. Kak Praja pasti akan khawatir. Mana jarak kita juga jauh."
"Nah tuh 'kan kamu ngomongnya kayak gitu, aku tuh mau kamu ceritakan semua kegiatan kamu, keadaan kamu padaku sayang, jadi biarpun kita berpisah jauh kita tetap terasa dekat."
"Iya kak Maaf."
"Aku khawatir banget tahu gak, tapi kemarin itu gak bisa langsung datang karena ada banyak agenda yang harus aku hadiri." Praja kembali mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Ia mengecup bibir Ardina singkat.
"Iya kak maaf. Aku sebenarnya mau buat kejutan untuk kamu," ucap Ardina saat pria itu membiarkan bibir mereka terpisah.
"Apa?" tanya Praja penasaran. Ia menatap wajah sang istri lekat-lekat. Wajah mereka pun masih sangat dekat tak berjarak hingga deru nafas keduanya bisa mereka saling rasakan.
"David bentar lagi punya adik sayang ku," jawab Ardina dengan wajah berubah sangat cerah. Pipinya menghangat bahagia.
"Apakah kamu hamil?"
Ardina mengangguk.
"Alhamdulillah, makasih banyak Ardina sayangku. Terima kasih ya Allah," ucap Praja dengan sangat bahagia.
Ia pun membuka pakaian yang dipakai Ardina karena ingin melihat perut istrinya yang masih nampak rata itu. Ia mengelusnya lembut kemudian menciuminya dengan penuh perasaan sampai Ardina bergerak gelisah karena geli.
"Sayang, aku senang sekali karena Tuhan masih kasih aku kesempatan melihat dan mendampingi kamu nanti saat mengandung dan sampai melahirkan kelak," ucapnya tanpa memindahkan bibirnya dari seluruh permukaan perut sang istri.
"Iya kak. Kamu akan menjaga aku dengan sangat baik. Aku yakin itu," ucap Ardina seraya menutup kelopak matanya.
Ia betul-betul menikmati usapan tangan suaminya pada area perutnya. Ia merasa sangat dimanjakan oleh pria yang sangat dicintainya itu.
Perasaan mual dan lemas tak ia rasakan lagi. Ia merasa disayangi dan sangat dicintai oleh pria yang telah membuatnya mengandung Lagi.
"Aaakh hmmm," bibirnya tak sadar mendessah saat ia merasakan tangan suaminya mulai membuka pahanya dan memberikan sentuhan pada daerah intinya.
Praja tersenyum senang. Ia pun mendekatkan bibirnya pada bibir bawah sang istri. Dia mengecupnya lembut sampai Ardina menggelinjang kegelian.
Belum lagi ia membukanya dan mengeksplor nya dengan lidahnya dibawah sana. Ardina mencengkram selimutnya dengan kedua tangannya. Pria itu benar-benar selalu mampu membuatnya bahagia.
Praja melepaskan dirinya kemudian menatap wajah istrinya yang nampak sangat bahagia karena perbuatannya. Ia sangat senang karena Ardina tidak lagi tampak pucat.
"Kamu akan sehat lagi kalau aku sudah memberimu multivitamin sayangku," ucap Praja tersenyum.
__ADS_1
Pria itu segera melangkahkan kakinya ke arah pintu dan menguncinya. Ia takut kalau David akan datang mengganggu saat mereka berdua sedang menuju ke nirwana.
Ardina hanya tersenyum saja melihat suaminya yang baru datang dan langsung ingin melakukan sesuatu yang enak-enak dengannya.
Seketika tubuhnya jadi sehat kembali apalagi melihat tampilan suaminya yang begitu sangat menggoda dirinya. Hormon kehamilannya memaksa dirinya untuk merasakan lagi dan lagi kenikmatan dunia yang tak berujung ini.
Praja begitu sangat memanjakannya dan memperlakukannya dengan sangat lembut dan halus. Ia bagaikan sebuah perhiasan yang akan pecah jika diperlakukan kasar.
Semua permukaan kulitnya diberikan kecupan-kecupan lembut yang sangat memabukkan.
Ardina sangat bahagia begitupun dengan Praja Wijaya. Mereka mendayung dengan sangat nikmat malam itu untuk merayakan kehadiran calon anggota baru di keluarga mereka.
🌹
Pagi harinya, Praja harus segera kembali lagi ke perusahaannya. Ardina pun sudah bisa pergi bekerja karena sudah sehat. Ternyata suntikan multivitamin dari sang suami benar-benar memberikannya tenaga baru.
Ardina melangkahkan kakinya cepat-cepat ke arah ruang kerjanya. Hari ini ada seorang calon sektretaris yang katanya sudah mendaftarkan dirinya di bagian HRD.
Ia sungguh sangat senang dan berharap orang ini adalah yang ia inginkan. Setelah hampir 2 bulan ia menunggu, akhirnya ia mendapatkannya juga.
"Selamat pagi Bu," ucap seorang gadis cantik di hadapannya. Ardina langsung mengangkat alisnya sebelah dengan wajah kaget.
"Selfina? Kamu ada disini? Sama siapa?" Tiga pertanyaan ia ucapkan tanpa jedah.
"Saya yang ingin mendaftar sebagai sekretaris pak Yudha bu," jawab gadis itu dengan senyum diwajahnya.
"Hah? Bagaimana mungkin? Jadi pekerjaanmu pada Wijaya Group bagaimana?"
"Pak Praja yang mengirim saya ke tempat ini bu. Kata bapak saya bisa mendapatkan pengalaman yang lebih banyak jika bekerja di sini."
"...."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai selamat pagi semuanya, jangan lupa bahagia ya🤗
Like dan komentar ya gaess
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1