
Revalda menggeliat pelan kemudian membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat berat karena sebuah tangan besar sedang memeluknya erat.
"Ya Allah, ini tangan siapa?" tanya perempuan cantik itu seraya mengarahkan pandangannya ke arah samping. Matanya terpaku pada wajah tampan suaminya yang ternyata sedang menatapnya.
"Selamat pagi istriku yang sangat cantik," ucap David tersenyum.
Revalda langsung mencibir dan berusaha melepaskan tangan suaminya yang sedang merengkuhnya.
"Aku mau pipis," ucap perempuan itu karena sang suami tak ingin melepaskannya.
"Cium dulu," ucap David tak mau.
"Aku pipis disini bapak mau?!" balas Revalda menolak dengan tatapan tajam pada sang suami.
David tersenyum meringis dan segera melepaskan tubuh sang istri dengan helaan nafas berat.
Ia pikir setelah tidur, marahnya Revalda sudah surut. Tapi ternyata tidak, perempuan ini benar-benar sangat keras kepala.
Revalda pun turun dari ranjang dan langsung berlari ke kamar mandi. Air dingin ia cari untuk mendinginkan wajahnya yang terasa panas hanya karena mendengar suaminya meminta cium. Ia langsung membersikan dirinya dengan mandi. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan mendapati suaminya berdiri di depan pintu.
"Tunggu aku. Kita sholat bersama," ucap David memberikan perintah. Revalda tak menjawab dan langsung pergi dari sana untuk mencari mukena.
Ia duduk di atas sajadahnya menunggu sampai suaminya datang untuk menjadi imam. Dua rakaat pagi itu mereka laksanakan secara berjamaah.
David membaca doa kemudian setelah itu ia memandang istrinya yang sedang duduk menikmati doa-doa yang ia lantunkan.
"Val, aku minta maaf sayang," ucapnya pelan seraya meraih tangan sang istri dan mengecupnya lembut.
Revalda tak sanggup menjawab karena dadanya sungguh berdebar sangat kencang. Ia pun mengangkat wajahnya dan menatap wajah sang pria tampan di hadapannya kemudian memasang wajah cemberut.
"Kenapa minta maaf pak? Udah merasa bersalah?" tanya perempuan itu setelah lama terdiam.
"Sangat. Aku pikir, kamu tidak akan semarah ini sayang," ucap David tersenyum kemudian meraih tubuh istrinya dan memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku ya, aku tak bisa tenang kalau kamu tak memaafkan aku Val. Aku tersiksa tahu gak?"
"Ish. Tersiksa apaan. Semalam aja bapak gak peduli sama aku. Aku dicuekin kayak orang bodoh."
"Valda. Aku semalam lagi kerja tugas sayang. Semua harus selesai sebelum aku berangkat dan ikut seminar itu sayang."
"Maafkan aku ya," lanjut pria itu kemudian meraih dagu sang istri agar mau menatapnya.
Revalda terdiam dan David menganggap bahwa permintaan maafnya sudah diterima. Ia pun mengikis jarak diantara mereka berdua. Bibirnya segera menyentuh bibir sang istri dan melumattnya pelan dan lembut.
Revalda merasakan tubuhnya membeku. Dadanya berdebar sangat kencang. Ia tak tahu harus melakukan apa karena ini adalah ciuman pertamanya.
"Bibirmu manis dan legit Val," ucap David dengan suara pelan. Setelah itu ia mengulangi kembali menyentuhkan bibirnya pada daging kenyal tanpa tulang itu. Tangannya menekan tengkuk istrinya agar ia bisa memperdalam ciumannya.
Revalda terbuai meskipun ia tak bisa membalas. Ia masih malu dan juga tak tahu cara berciuman.
"Balas aku Val," ucap David dengan suara bergetar penuh hasrat.
Setelah itu ia meraih bibir Valda lagi dan memberikan tutorial cara berciuman seolah-olah ia adalah ahlinya. Padahal ia juga baru melakukan hal seperti ini dalam hidupnya.
Revalda dengan pelan melakukan hal yang sama. Dengan malu-malu ia meniru apa yang dilakukan suaminya meskipun masih sangat canggung. Mereka saling berbagi saliva sampai mereka berdua kehabisan nafas.
"Aku mencintaimu sayang. Sekarang kita sarapan dulu trus kita pulang ke rumah untuk bersiap. Jadwal penerbangan ke Tokyo sekitar pukul 14.30."
"Iya pak," jawab Revalda tersenyum malu.
"Jangan panggil aku seperti itu Val, aku kan suami kamu," ucap David seraya menyentuh bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"Lalu? Aku panggil apa?"
"Panggil aku sayang atau apa gitu yang enak didengar."
"Hum, iya. Nanti aku pikirkan deh," senyum Revalda kemudian segera berdiri dari posisinya. Ia tidak boleh berlama-lama di kamar itu karena ia belum mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
__ADS_1
Perempuan cantik itu membuka mukenanya dan tak sengaja menampilkan pakaian yang sangat tipis yang ia gunakan di dalamnya. David terlongo takjub. Matanya begitu cerah saat melihat pemandangan yang sangat indah dihadapannya.
Tangannya langsung meraih pinggang Revalda dari belakang dan memeluk sang istri.
Revalda tersentak kaget dan tak sadar memekik kecil.
"Kenapa Val?" tanya sang suami dengan suara rendah bagaikan bisikan.
Revalda sekali lagi tak bisa menjawab karena berubah jadi sangat gugup apalagi tangan suaminya itu bergerak ke arah bagian depannya dan meremass dua aset tanpa bra dengan sangat lembut.
"Val, ini kok pas banget ditangan aku sayang," bisik David tanpa menghentikan remasan tangannya.
"Kayaknya sudah diukur pas dengan tangan aku sayang," lanjut pria itu lagi seraya menyusuri leher jenjang sang istri kemudian mengecupnya dengan sangat lembut.
Revalda merasakan tubuhnya gemetar. Sebuah aliran listrik dengan kekuatan yang sangat tinggi kini merambat di seluruh pembuluh darahnya.
"Val, aku sangat menginginkanmu sayang," bisik David dengan suara bergetar. Ia sangat terbakar sampai ia merasa akan hangus kalau ia tak melakukan hal lebih pada sang istri.
"Kita akan berangkat pak, aku belum mempersiapkan segala hal yang akan aku bawa. Dan kurasa kita tak ingin ketinggalan pesawat bukan?"
David tersentak kaget dan akhirnya tersadar. Ia pun melepaskan rengkuhan tangannya dan membiarkan istrinya itu memakai pakaian yang benar.
"Baiklah Val, kita akan mempunyai banyak waktu di Tokyo nantinya," ucap pria itu tersenyum penuh makna.
Mereka berdua pun keluar dari kamar dan akan bergabung dengan keluarga lainnya di Restoran.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1