
"Pokoknya penting banget. Kak Yudha harus siapkan uangnya sekarang!" jawab Yudhis memaksa.
Yudha menegakkan punggungnya diseberang sana. Wajahnya sekarang berubah serius. Selfina yang terganggu langsung membuka wajahnya dari selimut yang menutupinya.
"Mas?"
"Gak apa-apa sayang. Tidur lagi aja," jawab Yudha kemudian menutup seluruh tubuh istrinya itu lagi dengan selimutnya. Ia tidak mungkin memperlihatkan istrinya yang sangat cantik itu pada sang adik.
Bisa-bisa Yudhi tak berkedip disana.
"Bisa 'kan?" tanya Yudhis dari seberang. Wajahnya mulai nampak tak sabar karena sedang diburu waktu.
"Eh, itu uang banyak lho Di. Kok darurat seperti ini sih? Kamu gak lagi main judi online 'kan?" tanya Yudha dengan tatapan serius.
"Gak lah kak. Mana pernah aku melakukan hal bodoh seperti itu."
"Bukan lagi kalah taruhan 'kan?" tanya Yudha lagi dengan segala pikiran buruknya.
"Gak kak. Kamu sebenarnya mau bantu gak sih? Nanti aku bayar kok kalo udah punya uang lagi."
"Bukan aku gak mau bantu Di. Tapi itu uang untuk apa sih? Aku gak mau ya kamu bermain-main dengan uang sebanyak ini!"
"Aku mau nikah!" teriak pria itu dengan wajah tak sabar.
Yudha melotot tak percaya mendengar kabar baik ini. Selfina saja langsung membuka kembali selimutnya karena penasaran.
"Beneran?" tanya Yudha.
"Iya kak. Makanya aku pengen uangnya sekarang."
"Hah? Siapa perempuan yang sangat mahal itu Di?"
"Tiara!"
"Tiara siapa? Eh, tunggu. Kamu gak lagi dihipnotis 'kan? Perempuan mana yang berhasil bikin kamu seperti ini?!"
__ADS_1
"Kak Yudha mau bantu gak? Atau kamu akan lihat adikmu ini digebukin di tempat ini?!" ancam Yudhi dengan wajah kesal. Rasanya ia sudah sangat tak sabar mendengarkan ocehan kakak kandungnya itu padahal semua orang pasti sedang menunggunya di luar.
"Hah?! Digebukin?!" Yudha kembali kaget dan melotot tak percaya lagi dengan kata-kata sang adik.
"Ayo jawab sekarang dan kirim uangnya ke rekening aku saat ini juga kak." Paksa Yudhistira lagi.
Yudha menghela nafasnya. Bukan ia tidak mau membantu tapi ia takut kalau adiknya itu terkena tipu.
Akhirnya ia pun menjawab setelah berpikir cepat, "Aku hanya punya 500 juta sekarang. Yang lainnya sedang di deposito. Gak bisa diambil sekarang Di. Tapi nanti aku hubungi Dewa. Dia pasti punya uangnya."
"Baiklah kak tapi sekarang ya. Dan datang ke alamat ini bersama keluarga yang lainnya!" putus Yudhis dengan perasaan yang sedikit lega. Meskipun uang itu masih belum cukup tapi ia yakin Dewa pasti punya lebih dari itu.
Panggilan video itu pun ditutup terlebih dahulu oleh Yudha karena ia harus menghubungi Dewa sang adik ipar.
"Mas, itu mas Yudhi beneran mau nikah?" tanya Selfina tertarik.
"Iya. Kamu denger sendiri 'kan?" jawab Yudha kemudian meletakkan handphonenya menempel di kupingnya saat nomor Dewa tersambung.
"Wa, kamu dimana?" tanyanya langsung pada inti. Ia tidak ada waktu untuk berbasa-basi.
"Ada di rumah kak. Ada apa?" tanya Dewa dari ujung sambungan telepon.
"Ada kak. Emangnya kenapa?"
"Yudhi kebelet nikah dan pengen uang itu sekarang."
"Humm, iya kak. Aku transfer kemana?"
"Ke rekeningnya Yudhi. Setelah itu kita ketemu di alamat yang aku kirimkan tiga puluh menit lagi."
"Ah iya kak."
"Makasih ya Wa."
"Sama-sama kak."
__ADS_1
Tuuut
Dewa menatap layar handphonenya kemudian menatap istrinya bergantian. Yundha yang sedang duduk di atas ranjang tanpa mau mengizinkannya mendekat itu langsung mencebikkan bibirnya.
Perempuan itu masih tampak ngambek dan marah padanya.
"Apa?!" tanya Yundha. Dewa hanya tersenyum tanpa mau menjawab.
Ia lebih memilih membuka mobile banking nya dan segera mentransfer uang yang diminta oleh Yudha kemudian segera bersiap untuk pergi.
Yundha melempar boneka yang sedang ia peluk karena kesal. Suaminya itu mau pergi lagi tapi tak menemaninya bicara.
"Kamu menyebalkan mas!" teriak Yundha dengan airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Dewa menghela nafasnya. Ia jadi serba salah. Bicara ia salah, diam pun ia salah.
Dewa mengehentikan langkahnya kemudian menatap sang istri. Ingin rasanya ia memeluk dan mencium perempuan cantik yang sangat dicintainya itu tapi apa daya ia tak punya akses untuk melakukannya.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanyanya dengan sabar.
"Kamu mau kemana mas?" jawab Yundha dengan balik bertanya. "Mau ninggalin aku sendiri, iyyaa?" lanjutnya dengan tangis yang sudah mulai pecah.
Dewa tersenyum. Ia sekarang sadar kalau istrinya itu sedang merajuk dan ingin bermanja-manja padanya. Ia pun mendekat dan langsung meraih perempuan yang sedang merajuk itu kedalam pelukannya.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu sayang. Aku hanya akan menghadiri acara lamaran Yudhi dengan seseorang."
"Hah? Lamaran?" tanya Yundha kemudian mendorong tubuh suaminya itu agar pelukannya terlepas.
"Iya. Kata kak Yudha, dia udah pengen banget nikah. Mau ikut gak ke rumah perempuan itu?"
Yundha tersenyum tipis kemudian mengangguk. Ia langsung melompat turun dari ranjangnya dan segera berdandan. Dewa sekali lagi menghela nafasnya.
Kapan aku dapat bagian yang menyenangkan ya?
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊