Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 87 Sampai Titik Terakhir


__ADS_3

Yudha merasakan dadanya lebih sesak lagi dari hal kematian sang papa. Melihat cairan bening yang sudah menganak sungai di pipi Selfina, ia tak sanggup untuk berkata-kata.


Apalagi dari arah pintu, ia melihat kedua mertuanya beserta Praja Wijaya dan istrinya juga sudah tiba di tempat. Ia yakin kalau mereka pun pastinya mendengar semua yang dikatakan oleh adik kandung dari papanya.


Pria itu menghela nafas beratnya seraya meminta pada Tuhan agar ia diberikan kemudahan untuk menjawab keinginan salah satu kerabatnya itu.


Ardina dan Shania saling berpandangan. Begitupun Praja Wijaya dan juga Gani Sanjaya yang baru saja tiba di tempat itu. Mereka semua merasakan ketegangan yang teramat sangat saat mendengar pengakuan dari seorang saudara almarhum Maher Abdullah.


Shania bahkan sudah merasa pandangannya kabur oleh airmata yang siap tumpah. Sebagai seorang ibu yang telah mengandung dan membesarkan Selfina, ia tahu betul bagaimana perasaan sang putri saat ini.


Ia dan Ardina langsung mencari Selfina untuk memberinya kekuatan sedangkan Gani dan Praja segera mengambil tempat di kursi paling depan yang berhadapan dengan Yudha Abdullah. Mereka ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh pria muda itu atas permasalahan ini.


"Saya ucapkan terimakasih banyak pada Om Maher karena sudah mau menyampaikan keinginan papa yang sangat mulia itu," ucap Yudha berusaha untuk tersenyum.


"Saya yakin papa pasti ingin lebih memperdekat hubungan kekeluargaan diantara kita yang sempat merenggang karena masalah intern," lanjut Yudha dengan wajah tenangnya.


"Saya sungguh sangat gembira mendengar hal ini karena itu berarti hubungan om dan papa sudah baik. Akan tetapi menurut saya wasiat almarhum papa itu belum dikatakan valid jika tidak dalam bentuk hitam di atas putih om."


Terdengar kasak-kusuk lagi di halaman rumah yang sangat luas itu. Rupanya semua pelayat cukup tertarik dengan permasalahan yang terjadi pada almarhum dan keluarganya.


Mereka seperti mendapatkan tontonan gratis dari peristiwa duka yang cukup menarik perhatian khalayak ramai ini. Ya, setelah mati pun Maher Abdullah masih menyisakan permasalahan bagi anak keturunannya.


Mirwan langsung menunjukkan wajah masam. Ia pikir dengan mengatakan wasiat dari almarhum, maka keinginannya untuk mendapatkan sebagian harta kekayaan sang kakak bisa dengan mudah ia raih.


"Kamu tidak percaya pada om dan papamu Yud? Sampai-sampai untuk wasiat penting seperti itu kamu ingin bukti hitam di atas putih?" ucap Mirwan dengan nada sarkas.


"Om pikir kamu adalah putranya yang sangat menyayanginya. Om pikir kamu berdiri di depan semua orang karena tidak ingin papamu tidak damai dalam kepergiannya ke alam keabadian jika masih meninggalkan janji yang belum terbayar," lanjut Mirwan menyindir.


Yudha hanya tersenyum kemudian menjawab, "Betul kata om Mirwan. Saya dan semua anak papa yang ada di sini yang merupakan pewarisnya memang tak pernah rela jika papa pergi meninggalkan utang dan maaf dari semua orang. Akan tetapi saya juga harus logis om, jika itu utang dalam bentuk materi pun saya harus memeriksa keasliannya. Dan begitu pun dengan wasiat. Haruslah ada bukti, hitam di atas putih. Ada surat pernyataan dari papa yang disaksikan oleh dua orang saksi pria dewasa."


Mirwan tersenyum miring. Ia kecewa dan malu karena Yudha sepertinya sangat jelas menolak keinginannya.

__ADS_1


"Dan mohon maafkan saya Om. Keinginan papa adalah ingin menjadikan Sendy sebagai menantunya, iyyakan?"


Mirwan menganggukkan kepalanya pelan.


"Anak papa laki-laki ada 3 om. Saya dan Yudhi dari mama Merry sedangkan Emran dari mama Hanum. Kira-kira siapa salah satu dari kami yang ditunjuk oleh papa?" tanya Yudha dengan tatapan lurus ke dalam wajah pria itu.


Mirwan nampak gugup. Ia baru merasakan kalau rencananya sangat tidak matang. Dan sekarang ia terpojok dan tak mampu lagi membalas Yudha.


"Mohon maaf dek Mirwan, kalau boleh kita bicarakan baik-baik tentang janji atau wasiat mas Maher setelah acara pemakaman selesai," ucap Merry menginterupsi. Sebagai istri dari Maher Abdullah, ia juga berhak untuk berpendapat.


Jadi saat ini, Ia berusaha menjadi penengah atas hal yang sangat mengandung kontroversi ini.


"Oh iya om. Kalau hal yang seperti ini kita harus membicarakannya baik-baik. Kita tidak boleh gegabah. Dan ya, tidak semua wasiat pun harus dilaksanakan jika itu memberatkan pewaris, betul 'kan om?" ucap Yudha dengan senyum tipis dibibirnya.


"Ah ya, itu betul sekali." Mirwan mengiyakan perkataan Yudha meskipun hatinya sangat tak rela. Ia merasa bahwa rencananya sudah kacau sebelum ia laksanakan.


Shania dan Ardina kembali saling berpandangan dengan pikiran yang bergolak pada kepala masing-masing. Dua perempuan itu mengakui cara Yudha keluar dari masalah itu sudah sangat baik untuk sementara waktu. Meskipun itu masih sangat cukup riskan.


Akan tetapi tidak bagi Sendy Magfirah, ia sangat kesal dan malu saat ini. Tadinya ia pikir bahwa pernyataan sang papa bisa mendekatkannya lagi pada Yudha yang sejak dulu ia cintai, tetapi ternyata semuanya kosong dan tak ada gunanya.


"Ih kesel banget sih!" gerutunya dengan wajah yang sangat kesal.


"Kalau aku sih bukan kesal tapi bersyukur," ucap seorang gadis yang tak lain adalah Maya.


Sendy langsung menatap gadis yang sok cantik itu.


"Kamu siapa?" tanyanya.


"Halo saya Maya Paris, dan saya adalah calon istri mas Yudha."


"Apa?" Mata Sendy membola tak percaya. Ia menatap Maya dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.

__ADS_1


"Cih! Modal segini aja berani mau mengambil mas Yudha dariku, jangan mimpi ya!" cibir Sendy.


"Kenapa memangnya? Kamu pikir kamu juga cantik dan mampu mendapatkan mas Yudha? Sudah berkaca belum?" tantang Maya dengan wajah sengit.


"Nih, aku kasih kamu kaca dan lihat wajahmu di dalam sana!" lanjut gadis itu seraya menyerahkan sebuah kaca kecil kepada Sendy.


Brak


Sendy melempar kaca itu dan menimbulkan bunyi pecah karena benda itu menabrak keramik.


"Jangan pernah merendahkan aku seperti itu gadis tak tahu malu!' ucapnya dengan telunjuk ia arahkan ke dahi Maya.


"Ya ampun kalian ini kenapa sih?" tanya Yundha pada mereka berdua.


"Gak kenapa-kenapa. Cuma uji nyali aja sih," canda Maya.


"Lho uji nyali kenapa?" Yundha penasaran.


"Uji nyali untuk mendapatkan mas Yudha!" jawab Maya dan Sendy bersamaan lalu mereka saling berpandangan kemudian sama-sama membuang wajah mereka ke samping.


"Mas Yudha udah punya kekasih hati lho. Jadi ada baiknya kalian berdua mundur alon-alon. Daripada kecewa lagi dan lagi." Yudha menjawab dengan wajah santainya.


"Tidak! Kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan!" jawab keduanya lagi dengan kompak.


Yundha hanya bisa menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Terserahlah. Kalau gak mau kecewa ya, lanjut aja!"


🌹🌹🌹


*Bersambung.

__ADS_1


Like dan komentar dong 🤭


__ADS_2