
Sesampainya di kantor. Dewa turun dari mobilnya dengan rencana yang sangat matang untuk istrinya. Otaknya sudah dipenuhi oleh fantasi indah bersama dengan Yundha di dalam ruangan kerjanya.
Pria itu pun melangkahkan kakinya ke arah ruangan kerjanya dengan tangan tetap menggenggam tangan sang istri tercinta. Menyapa semua karyawan dengan ramah kemudian langsung menuju ruang kerjanya.
Sementara itu, di belakang mereka, para karyawan perempuan benar-benar sangat iri dengan keromantisan sang bos pada istrinya. Mereka juga berharap para pasangan mereka bisa seperti itu juga.
"Gak usah iri. Orang kaya enak romantis-romantisan kayak gitu karena mereka gak pusing dengan kebutuhan hidup sehari-hari, " ucap salah satu karyawan berniat mengalihkan perhatian mereka semua.
"Eh iya ya. Tapi kita juga bisa kok selama suami bisa seperti pak Dewa," timpal yang lain.
"Iya. Maunya sih gitu. Tapi stok seperti pak Dewa itu sangat limited edition," ucap yang lain menimpali.
Mereka terus kasak-kusuk bergosip pagi itu sampai terdengar ke telinga Yundha. Perempuan itu jadi semakin bangga dan bersyukur mempunyai seorang suami seperti Sadewa Pranawijaya, suaminya.
Ia pun semakin takut jika suaminya ada yang melirik dan berniat untuk memilikinya. Untuk itu ia ingin selalu memenuhi kebutuhan suaminya agar tidak berpikir untuk mendua.
"Hey, lagi mikirin apa sih?" tanya Dewa seraya meraih pinggang sang istri ke dalam rengkuhannya.
"Aku gak mau ada perempuan manapun menginginkan kamu mas, cukup aku aja," jawab Yundha dengan wajah merajuk manja. ibu jarinya dengan sangat pelan menyentuh bibir suaminya yang merupakan salah satu anggota tubuh favoritnya.
"Aku juga. Aku gak mau ada laki-laki lain yang memikirkan dirimu selain aku Nda. Aku gak kuat sayang," balas Dewa kemudian menyentuhkan bibirnya pada bibir sang istri tercinta.
Setelah itu mereka berdua saling mengekspresikan perasaan cinta mereka yang menggebu-gebu dengan sentuhan-sentuhan yang cukup memadu adrenalin.
Dewa tanpa permisi membuka pakaian istrinya dan membuatnya langsung polos di depan matanya.
"Mas, ini masih pagi lho. Kamu belum kerja juga," ucap Yundha dengan gaya yang sangat menggoda sang suami.
"Aku mau kerjakan yang ini dulu sayang. Ini darurat soalnya," ucap pria itu seraya memeriksa lahan yang akan digarapnya pagi itu dengan jari-jarinya.
Yundha tersenyum, ia tahu akan berakhir apa pekerjaan suaminya yang punya hasrat tinggi itu. Untungnya ia juga memilki hasrat yang sama hingga keduanya kadang tak ingat waktu dan tempat.
Skip
Aja
Yah
Kita tinggalkan mereka berdua yang sedang bekerja.
🌹
Tiara menghentikan sepeda motor yang ia kendarai di depan sebuah Mart tak jauh dari rumah suaminya. Ada beberapa barang yang ingin ia beli sebelum ia pulang.
Setelah ia menyimpan helm yang ia gunakan, ia pun memasuki toko serba ada itu dengan langkah cepat. Ia tidak boleh berlama-lama karena suaminya pasti masih menunggunya di rumah.
__ADS_1
Ya, pria itu tidak ingin berangkat bekerja sebelum memasak untuknya meskipun sebenarnya ia sudah seringkali menolak karena ia tipe pemakan makanan instan.
Akan tetapi pria itu selalu saja rewel dan memaksanya. Akhirnya ia jadi ketagihan dan lebih suka makan makanan rumahan.
Roti, mi instan, dan telur ia masukkan ke dalam keranjang belanjaannya. Minyak goreng, bumbu dapur, dan makanan ringan lainnya pun tak lupa ia tambahkan sebagai daftar belanjaan yang rutin ia beli setiap bulan.
Setelah semua ia rasa sudah lengkap, ia pun membayar di kasir kemudian keluar dari Mart itu. Ia melajukan sepeda motornya ke sebuah daerah yang sering ia kunjungi selama ini.
Anak-anak yatim langsung menjemputnya saat ia sampai.
"Kak Tiara!" teriak anak-anak itu dengan suara yang cukup ramai.
"Halo sayang!" Perempuan muda itu menjawab seraya mematikan mesin motornya. Ia membuka helmnya dan turun dari kendaraan roda dua itu. Anak-anak itu langsung memeluknya karena sangat rindu.
"Kak Tiara kok baru datang sih. Kami udah lama nunggu lho." Salah satu satu mereka yang paling kecil kira-kira berusia 7 tahun langsung menegurnya dengan wajah merajuk.
"Maafkan kakak ya. Kakak ada urusan penting jadi gak sempat datang, ayo cepat kita masuk. Bunda Tere ada gak di dalam?"
"Ada kak. Kak Yudhi juga ada di dalam," ucap mereka serentak.
Deg.
Tiara langsung tercekat.
Yudhi ada di dalam juga? Sejak kapan? Dan ngapain lagi pria Brengsek itu datang ke tempat ini?
"Kakak gak bisa lama-lama ya sayang. Kakak sebenarnya cuma sebentar aja sih. Jadi gak perlu masuk ya," ucap Tiara memberi alasan tapi anak-anak itu tetap saja menarik tangannya sampai ke dalam kantor itu.
"Bunda! Kak Tiara datang nih!" Anak-anak itu berteriak lagi saat mereka sampai di depan pintu.
Bunda Tere dan Yudhi yang sedang mengobrol di dalam ruangan itu langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu.
"Selamat pagi bunda," ucap Tiara dengan senyum diwajahnya.
"Selamat pagi Tiara! Masuk sini sayang. Udah lama gak mampir nih." Bunda Tere menjawab seraya melambaikan tangannya agar perempuan itu ikut bergabung dengan mereka berdua di ruangan tamu sederhana itu.
Yudhi sendiri langsung berdiri dari duduknya dan menyambutnya juga.
"Ra, apa kabar?" sapa pria itu dengan tatapan rindu. Tiara tidak menjawab sapaan Yudhi tetapi langsung menghampiri bunda Tere untuk menyalaminya.
"Anak-anak bisa kembali membersihkan halaman ya, kak Tiara mau ngobrol-ngobrol dulu disini." Bunda Tere langsung memberikan perintah kepada anak-anak yang sedang berdiri di depan pintu itu untuk melanjutkan kegiatannya di halaman.
"Iya bunda. Dadah Kak Tiara!" ucap anak-anak itu lagi dengan kompak. Setelah itu mereka semua melakukan perintah bunda Tere. Ruangan itu pun berubah sepi karena Tiara dan Yudhi hanya diam-diaman.
"Tumben, kamu baru datang lagi sayang," ucap Bunda Tere pada Tiara.
__ADS_1
"Lagi ada urusan di rumah bunda. Ini juga cuma mampir untuk bawa makanan ringan untuk anak-anak. Aku gak bisa lama-lama soalnya." Tiara menjawab dengan perasaan gelisah. Ia tak nyaman ditatap seperti itu oleh Yudhi. Ia benci sekaligus jijik.
"Lho, kamu ini gimana sih? Baru datang kok mau pergi lagi. Kalian berdua memangnya gak janjian ketemu di sini?" Bunda Tere tampak bingung.
Biasanya Tiara dan Yudhi datang berdua dan perginya juga berdua. Sekarang malah seperti dua pasangan yang sedang marah-marahan.
Tiara tidak menjawab tetap hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kalian ini ada masalah ya?" tanya bunda Tere curiga.
"Aku ada salah sama Tiara bunda. Dan sekarang aku mau minta maaf padanya," ucap Yudhi menimpali.
"Bagus kalau kamu merasa bersalah. Dan selanjutnya jangan diulangi lagi ya."
"Iya bunda," ucap Yudhi dan segera berlutut di hadapan perempuan yang disayanginya itu.
"Maafkan aku ya Ra. Aku tak akan mengulang lagi kesalahanku waktu itu," ucap pria itu dengan perasaan bersalah. Ia akui ia benar-benar telah mengambil jalan yang salah dan tidak akan mengulanginya lagi.
Tiara tidak menjawab. Dadanya masih terasa sesak mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu padanya. Rasanya kejadian itu masih sangat segar di kepalanya dan itu sangat menyakitkan.
"Maaf bunda. Aku gak bisa lama-lama. Aku permisi ya, sampai jumpa lagi," ucap Tiara dan langsung berdiri dari duduknya. Ia benar-benar merasa sangat jijik pada pria di hadapannya ini.
Pria yang sok baik dengan memperkenalkan nya dengan beberapa panti asuhan dan mengajaknya untuk berdonasi setiap bulan tapi ternyata kelakuan pria itu di belakangnya sangat menjijikkan.
"Lho, Tiara?" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut perempuan paruh baya itu karena benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku akan ikut Tiara bunda." Yudhis langsung memburu perempuan itu keluar dari kantor panti asuhan itu. Bagaimanapun juga, ia ingin mendapatkan maaf dan menjalin hubungan lagi dengan perempuan itu.
"Tiara tunggu!" teriak Yudhi. Tiara tidak menggubrisnya. Ia terus saja melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
"Plis. Kita bisa bicara baik-baik. Aku minta maaf. Apa yang kamu lihat waktu itu tidak seperti yang kamu bayangkan Ra."
"Terserah! Aku tak peduli!" ucap perempuan itu seraya mengibaskan tangannya di udara. Helm segera ia pakai dan bersiap naik ke atas sepeda motornya.
"Tiara, kumohon maafkan aku. Kalau kamu tak percaya aku akan bawa Tante Yani untuk menjelaskan semuanya. Yang penting jangan sampai hubungan kita jadi putus Ra."
Tiara mencibir dan tidak mau mendengar kata-kata pria itu lagi. Ia pun menghidupkan mesin motornya kemudian langsung tancap gas dan meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin memberikan kesempatan untuk pria itu merayu dengan kata-katanya.
Yudhi tak tinggal diam. Ia pun mengambil motornya dan memburu Tiara.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😊