Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 76 Kenapa?


__ADS_3

"Selamat pagi pak!" sapa Selfina dengan badan membungkuk sedikit. Wajahnya ia tundukkan tanpa mau melihat sosok presiden direktur yang sedang berdiri dihadapannya.


"Selamat pagi." Yudha menjawab dengan suara datar kemudian berlalu ke dalam ruangannya.


Selfina menghela nafas panjang kemudian segera kembali duduk di kursinya. Dadanya masih sangat sesak karena kejadian semalam. Dan pria itu pun tak menegurnya untuk berbasa-basi.


Pekerjaannya ia lanjutkan dengan berusaha menguat-nguatkan dirinya. Sekali lagi ia bertekad untuk profesional. Ia tak akan bawa perasaan dan harus lebih serius dalam bekerja.


Kedua orangtuanya mengharapkannya jadi seorang wanita karir yang sukses dan ia akan membuang jauh-jauh harapannya pada pria itu.


Semua sudah berakhir. Perhatian pria itu yang sangat manis semalam hanya akan ia jadikan sebagai kenangan manis yang tak akan pernah terlupakan.


"Halo mbak sekretaris! Selamat pagi!" sapa seorang gadis dengan sangat riang. Selfina mendongak dan melihat bahwa Maya sedang berdiri dihadapannya dengan menggunakan seragam karyawan magang.


"Ha-halo mbak Maya, selamat pagi," ucap Selfina dengan wajah tak percaya.


"Saya baru saja melapor di bagian HRD dan mereka menunjukkan kalau tempat aku magang adalah di ruangan ini bersama denganmu. Jadi tolong berikan aku meja kosong, okey?"


"A-apa? Apa saya tidak salah dengar? Sejak kapan karyawan magang bisa sampai di ruangan ini?" tanya Selfina dengan wajah yang masih sangat kaget.


"Ini kartu magang aku di sini mbak sekretaris yang terhormat," ucap Maya seraya menunjukkan sebuah id card berlogo perusahaan kepada Selfina.


"Kamu sepertinya tidak mau percaya aturan perusahaan ya?" cibir Maya. Selfina hanya memejamkan matanya beberapa detik untuk menenangkan hatinya.


"Ini adalah permintaan mas Yudha semalam agar aku magang dan bisa lebih dekat dengannya. Jadi sekarang aku sudah bebas berada di sini tanpa harus izin padamu, mengerti?" ucap Maya dengan bibir mencibir.


Selfina merasakan dadanya semakin sesak saja. Ia masih ingin bicara tapi pesawat teleponnya berbunyi di line 1, itu artinya Yudha Abdullah, sang presdir sedang memanggilnya.


Gadis itu pun mengangkat pesawat telepon itu dan menjawab panggilan dari sang pimpinan.


"Iya pak."


"Masuk ke ruangan aku sekarang!"

__ADS_1


"Baik pak."


Ia meletakkan gagang telepon itu kemudian memandang gadis sombong yang sedang berdiri angkuh di hadapannya.


"Mbak Maya silahkan cari kursi sendiri. Minta sama OB. Saya sedang ada urusan dengan pak Presdir," ucap Selfina kemudian segera meninggalkan gadis itu.


"Aku gak mau. Aku mau duduk di kursi kamu!" teriak Maya yang langsung membuat Selfina menghentikan langkahnya.


"Karyawan baru magang aja belagu! Emangnya kamu pikir kamu siapa?" tantang Selfina tak mau kalah. Sejak ia masuk bekerja di perusahaan ini, tak pernah ada seorang pun ingin mengambil kursinya. Dan sekarang gadis itu malah berani padanya.


Sungguh, ia tak ingin mengalah kalau itu adalah hak dan juga miliknya. Beda dengan Yudha, ia lemah dan tak punya ikatan yang kuat atas hubungan mereka.


"Eh, kamu lupa ya kalau aku ini siapa, Sekedar mengingatkan ya, aku adalah-," belum juga gadis itu menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan Presiden direktur langsung terbuka dan menampilkan sosok Yudha disana.


"Lama banget. Aku gak suka menunggu!" ucap Yudha dan langsung menarik tangan gadis itu ke dalam ruangannya.


"Mas, aku sudah datang," ucap Maya seraya melambaikan id card nya. Yudha tersenyum. Untungnya ia tidak langsung menutup pintu itu jadi ia masih bisa melihat Maya.


"Kamu, tunggu saya di dalam Sel," bisik Yudha pada sang sekertaris agar ia bisa bebas bicara dengan bebas.


"Oh, kamu sudah datang?" tanya Yudha pada Maya dan langsung membuat gadis itu tersenyum lebar. Ia sangat senang karena Yudha menyambutnya dengan sangat ramah. Tidak seperti biasanya. Ia yakin kalau ia bisa mendapatkan hati pria itu lebih cepat daripada yang ia perkirakan.


"Iya mas. Aku sudah tidak sabar untuk belajar dan bekerja di tempat ini."


"Baguslah."


"Dan aku minta agar duduk di sini di tempat duduk mbak Selfina, boleh gak mas?" ucap Maya dengan nada manjanya. Selfina sampai merasa mual mendengarnya.


"Boleh."


"Asyik! Mas Yudha memang baik banget, terimakasih banyak ya," ucap Maya seraya terpekik senang. Selfina yang ada di dalam ruangan hanya bisa mengepalkan tangannya dengan sangat kesal.


"Belajarlah dengan baik. Cari buku yang banyak atau kerjakan semua hal yang ada di hadapanmu. Aku ada urusan yang sangat penting dengan sektretaris aku," ucap Yudha seraya menutup pintu ruangannya.

__ADS_1


"Iya mas!" teriak Maya dengan sangat keras. Sungguh, ia sangat gembira saat ini. Ia pun menuju ke kursi Selfina dan duduk di sana. Beberapa file yang ada di meja itu ia baca dan pelajari.


Terkadang ia mengernyit bingung tapi ia berusaha terus untuk memaksakan otaknya agar cepat paham.


Sementara itu di dalam ruangan, Yudha tidak melakukan apapun. Ia hanya meminta Selfina untuk duduk tanpa ada hal yang perlu dibicarakan hingga gadis itu berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu.


"Mau kemana kamu?!" tanya Yudha dengan nada suara meninggi.


"Saya sudah lama duduk di sini dan tidak mengerjakan apapun. Permisi pak!" Selfina langsung melangkahkan kakinya keluar karena kesal. Ia seperti sedang dipermainkan oleh pria itu.


"Berhenti kamu!" titah Yudha tak terbantahkan. Selfina yang sudah hampir sampai di depan pintu langsung menghentikan langkahnya.


"Jadi kamu selama ini merasa sangat tidak nyaman bekerja dibawah perintah aku mbak Selfina?!" tanya Yudha dengan suara beratnya. Ia sedang mengeratkan rahangnya menahan emosi dari dalam dadanya. Perkataan Yudhi semalam tenyata membuatnya sangat terpengaruh.


Selfina merasakan kupingnya terganggu dengan panggilan mbak pada namanya. Ia merasa bahwa jarak mereka benar-benar sangat jauh sekarang. Ia seperti seorang asing begitu pula dengan pria itu baginya.


Gadis itu pun berbalik dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya pada pria yang sangat menyebalkan itu.


"Iya. Itu betul sekali pak presdir. Saya memang sangat tidak nyaman bekerja dengan anda. Apakah anda tahu kalau anda sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain?" ucap Selfina dengan suara tercekat. Air matanya tenyata sudah tak bisa lagi bertahan. Dan sekarang sedang membentuk sungai kecil di pipinya yang mulus.


Yudha mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan perasaannya saat ini. Ia tak suka melihat gadis cantik itu menangis.


Sungguh, ia baru merasa kalau selama ini ia benar-benar telah jahat dan menyisakan luka pada gadis itu.


"Andaikan aku tidak berada dibawah peraturan kontrak di sini. Saya sudah sangat ingin pergi dari sini hiks," ucap gadis itu seraya menyusut airmatanya.


"Kenapa?" tanya Yudha dengan suara yang tercekat pula.


Pria itu sudah memikirkan banyak hal semalaman. Kalau Selfina jujur lebih menyukai Yudhi daripada dirinya maka ia akan mengalah.


Selfina terdiam. Hanya bunyi susutan airmatanya saja yang kedengaran di dalam ruangan itu.


Yudha mendekat kemudian bertanya sekali lagi, " Kenapa Sel?"

__ADS_1


🌹🌹🌹


*Bersambung.


__ADS_2