Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 168 Pemandangan Indah


__ADS_3

Pagi itu, suasana yang cukup istimewa di rumah kediaman Merry begitu terasa. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan dengan perasaan yang sangat bahagia.


Canda tawa terdengar menghiasi ruangan itu setelah selesainya acara pesta pernikahan dua orang anak dari almarhum Maher Abdullah. Pesta yang terbilang cukup sukses meskipun persiapan hanya dilakukan selama 3 hari saja.


Semua itu karena dua tokoh utama yaitu Yudha dan Dewa yang telah turun tangan mengurus segala sesuatunya agar sukses dan sempurna.


Dewa yang merupakan seorang anggota baru rupanya cukup membuat ruangan itu jadi bertambah menarik. Ia adalah seorang pria tampan yang merupakan pengusaha muda sukses dan selalu mendapat perhatian banyak wanita dan juga loyal menjadi teman yang sang enak untuk diajak ngobrol.


Yudhistira, Dony, dan Daren sejak tadi sudah sibuk membahas urusan otomotif dengan pria itu sedangkan Denia sibuk membuat sebuah wawancara khusus dengan Yundha yang berada di seberang meja para pria.


Mereka sibuk dengan pembicaraan mereka tetapi mata dan hati sang tokoh utama tak pernah lepas dari wajah cantik sang istri. Sering-sering mencuri pandang pada Yundha yang sedang sibuk ngobrol dengan Denia itu yang dilakukannya.


"Kak Yundha kok santai saja jadi pengantin baru," ucap Denia sembari memandang wajah kakaknya itu.


"Santai gimana sih dari tadi kamu tanya-tanya tentang itu terus," ketus Yundha seraya memasukkan sesendok bubur ayam kedalam mulutnya.


"Pengantin baru tuh menurut yang aku tahu pagi-pagi udah seger, rambut basah, dan bersemangat gitu, lha kakak. Sedari tadi cemberut mulu. Beda banget sama kak Dewa."


"Heh, makan aja tuh bubur kamu gak usah mikirin aku. Bentar aku juga mandi dan seger." Yundha tidak peduli dengan maksud dari pertanyaan Denisa. Bibirnya hanya mencibir ketika suaminya itu menatapnya dan melemparkan senyuman ke arahnya.


"Jutek amat jadi pengantin baru. Kalau aku jadi kakak, beuh..." Denisa berusaha memancing.


"Beuh apa? Jangan asal ngomong ya kamu. Ingat usia." Yundha cepat-cepat menegur. Ia tidak mau adiknya yang cuma beda beberapa bulan itu mengatakan hal yang tak ingin ia dengar.


"Kak Dewa itu tampan banget lho kak. Emangnya kamu gak rugi tuh," bisik Denia memanas-manasi lagi. Ia melirik Dewa yang sedang mengangkat jempol padanya.


Tenang kak, yang penting aku dapat bonus besar. Aku akan rela membantumu mendapatkan hati kak Yundha. Ucap gadis itu membatin.


"Aku gak akan rugi. Jadi jangan lagi ngomongin dia."


Denia menghela nafasnya. Ia terus berpikir dan mencari ide bagaimana caranya membuat hubungan pengantin baru itu baik-baik saja.


"Kak Dewa itu tampan lho. Dan jangan bilang bagaimana royalnya dia membiayai semua urusan pernikahan kakak. Masak kamu gak ada rasa sedikitpun sih?"


Yundha menyimpan sendoknya kemudian menatap Denia.

__ADS_1


"Dia itu penjahat. Jadi untuk menebus kesalahannya, ia akan melakukan hal itu. Itu wajar dan bahkan yang lebih dari itu pun seharusnya ia lakukan karena telah membuat aku menderita."


Setelah berkata seperti itu, Yundha langsung meninggalkan meja makan dengan wajah kesal. Sedangkan Denia menatap Dewa dengan senyum meringis.


"Sepertinya kamu masih harus bersabar kak," ucap gadis itu kemudian segera menghabiskan bubur ayamnya. Ia ingin ke kampus pagi ini karena ada urusan dengan teman-temannya.


Dewa hanya tersenyum. Ia berterimakasih pada Denia dan semua orang yang sudah membantunya. Ia pun menyelesaikan sarapannya dan berpamitan akan kembali ke kamar.


"Heh, mau kemana? Aku dan Selfina baru datang lho," ucap Yudha yang baru saja bergabung dengan semua orang pagi itu. Mereka tampak sangat cerah karena sudah sangat segar habis mandi.


"Aku ada urusan sedikit kak. Aku tinggal ya," ucap Dewa merasa tak nyaman.


"Udah sarapan?" tanya Yudha lagi. Dewa tersenyum kemudian menjawab, "Iya."


"Okey, silahkan."


"Makasih."


"Eh Wa' tunggu dulu."


"Iya. Ada apa kak?"


"Aku cuma mau bilang, kamu harus sabar menghadapi Yundha. Ia masih belum bisa menerima keadaan yang seperti ini."


Dewa tersenyum. Ia juga sudah tahu hal itu.


"Beri ia perhatian yang banyak. Perempuan yang sedang hamil itu kadang rewel karena pengen disayang-sayang, hehehe." Yudha terkekeh diakhir kalimatnya karena mendapatkan pelototan tajam dari Selfina.


"Iya kak. Makasih banyak," ucap Dewa kemudian segera pergi meninggalkan ruang makan itu. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju kamar sang istri yang tidak jauh dari ruangan makan itu.


Pelan ia mengetuk pintu itu kemudian masuk. Ia bersyukur karena pintu itu tidak terkunci jadi ia masih diberi kesempatan untuk menghirup udara yang sama dengan perempuan yang sangat ia cintai itu.


Sepi.


Tak ada orang di dalam kamar yang cukup luas itu.

__ADS_1


"Mungkin Yundha sedang di dalam kamar mandi," ucapnya kemudian mendudukkan dirinya diatas ranjang yang ternyata sudah dirapikan oleh sang istri.


Ia pun meraih handphonenya dan mulai mengaktifkan benda pipih itu. Karena sibuk dengan pernikahan yang cukup dadakan ini ia jadi baru sempat melihat alat komunikasinya itu.


Klotok


Klotok


Klotok


Bunyi pesan masuk secara beruntun membuatnya tersenyum. Rata-rata pesan itu berisi ucapan selamat atas pernikahannya. Ada yang tidak sempat hadir dan hanya mengirim ucapan selamat dan juga hadiah lewat parsel dan tak sedikit yang mengirim angpao lewat transferan rekening.


"Ah, kalian semua terlalu repot-repot," gumamnya sembari membalas pesan-pesan itu dengan ucapan terimakasih.


Hanya satu pesan yang ada didalam benda itu yang tidak dibukanya, yaitu pesan dari Jessica. Kekasih terakhir sebelum ia menikahi Yundha Abdullah. Ia yakin perempuan itu sudah mencak-mencak karena marah telah ia tinggalkan.


"Ah peduli amat dengan orang yang tak tahu malu seperti itu," gumamnya seraya menyimpan kembali handphonenya di atas nakas. Hidungnya kini begitu terpancing oleh aroma sabun dan juga shampo yang sangat harum menguar dari arah kamar mandi.


Tatapannya terpusat pada satu titik yang sangat indah dan juga cantik. Yundha keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih sebatas pangkal pahanya yang sangat putih dan juga mulus.


Belahan dada perempuan cantik itu yang cukup menggoda semakin membuat inti tubuhnya berdenyut.


Dewa menelan salivanya kasar. Dadanya berdesir hebat melihat pemandangan yang sangat indah itu. Dan jangan tanyakan bagaimana keadaan senjatanya di di dalam boksernya. Ia menggeliat dan langsung berdiri tanpa aba-aba.


"Kamu lihat apa hah?!" tanya Yundha seraya melangkahkan kakinya yang jenjang ke arahnya. Ia bahkan berani membuka handuk kecil yang membungkus kepalanya hingga rambutnya yang panjang dan masih sedikit basah itu tergerai seksih.


"Aku melihat bidadari yang sangat cantik yang sangat aku inginkan," ucap Dewa seraya meraih tubuh Yundha dan membawanya ke dalam kuasanya.


"Lepaskan aku brengsek!" teriak Yundha dengan tatapan benci pada pria itu. Dewa menyeringai. Ia tak mungkin melakukan apa yang perempuan itu inginkan.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2