Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 184 Saling Berkenalan


__ADS_3

"Kok gak masuk? Yundha udah tidur ya?" tanya Rania pada sang putra yang hanya berdiri saja di depan pintu.


"Dia baru mau tidur. Kasihan, aku gak mau ganggu ma." Dewa menjawab kemudian menutup kembali pintu kamarnya.


Rania tersenyum. Ia bisa melihat begitu besar cinta putranya pada perempuan cantik itu.


"Kamu mau makan dulu atau bagaimana?"


"Gak lapar ma. Aku cuma ingin mendengar bagaimana caranya mama bisa menemukan Yundha," ucap Dewa seraya berjalan menjauh dari kamarnya itu. Ia tak ingin Yundha tahu kalau ia sudah datang.


"Duduklah, sapa tahu kamu mau minum sesuatu dulu," ucap Rania tersenyum. Ia sudah menyiapkan satu minuman khusus untuk putranya agar bisa rileks.


"Makasih ma," ucapnya kemudian menghabiskan minuman racikan perempuan itu sendiri. Dewa tersenyum. Minuman itu selalu membuat dirinya lebih nyaman dan "Bertenaga!"


Rania pun ikut duduk di samping sang putra kemudian mulai menjelaskan kronologi kejadian itu dengan runtut.


"Jessica benar-benar gila. Aku gak nyangka ia mempunyai ide seperti itu ma."


"Hum, ya. Mama juga bersyukur karena bisa menolong menantu mama sendiri. Mereka memang gila sayang. Mama lihat sendiri bagaimana mereka memperlakukan istrimu."


"Makasih banyak ma. Aku hampir ikutan gila kalau Yundha tidak ditemukan. Bayiku ada di di dalam kandungannya ma." Dewa pun meraih tangan sang mama lalu menciumnya.


"Apa hanya karena bayi itu Wa'?" tanya Rania menelisik. Ia menatap sang putra dengan tatapan lurus ke dalam mata elang pria tampan itu.


"Gak lah ma. Aku sudah sangat suka dengan Yundha makanya aku memaksa agar ia hamil hehehe," kekeh Dewa dan langsung mendapatkan cubitan dari sang mama.


"Kalau gitu datangi istrimu. Tunjukkan kalau kamu benar-benar sayang dan cinta padanya. Ibu hamil itu butuh perhatian lebih agar ia tidak merasa sendiri membawa seorang janin di dalam perutnya."


"Iya ma. Aku juga sudah sangat merindukannya ma," ucap Dewa kemudian segera pergi ke kamarnya. Ia ingin memeluk dan mencium perempuan cantik itu dan membawanya ke tempat yang sangat indah.


Rania hanya tersenyum kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun kembali ke kamarnya dan akan mengobrol dengan Merry sahabatnya. Ia berharap pasangan itu lebih dekat lagi seperti umumnya pasangan suami istri normal lainnya.


Bibir Dewa berkedut melihat perempuan cantik yang sangat ia cintai itu sedang berada di bawah selimutnya. Nampak sekali kalau perempuan itu sedang tertidur dengan nyenyak.


Pria itu pun mengganti pakaiannya dengan piyama saja dan kemudian ikut naik ke atas ranjang. Ia membuka selimut dan ikut masuk ke dalamnya.


Matanya tak lepas menatap wajah cantik Yundha yang terasa semakin cantik saja dari hari ke hari. Anak-anak rambut yang menghalangi pandangannya menikmati wajah cantik itu ia singkirkan.


Yundha samasekali tak bereaksi.


Pantas saja, aku selalu bebas menyicip-nyicip tubuhmu setiap malam karena kalau tidur kamu benar-benar sangat nyenyak sayang.


Hatinya menghangat bahagia. Ia tak menyangka karena insiden Jessica itu malah membuat perempuan cantik itu bisa tidur di atas ranjangnya.

__ADS_1


Dewa tersenyum melihat gaya tidur istrinya yang seperti seorang bayi. Tatapan matanya kini berpindah ke arah bibir merah perempuan itu yang terbuka sedikit.


Rasanya kelopak bibir Yundha memancing pria itu untuk datang berkunjung.


Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mengecupnya pelan dan singkat takut perempuan itu terbangun.


Bibirmu kenapa jadi sangat manis seperti ini sayang, ucapnya membatin dan akhirnya mengulanginya lagi dan lagi. Kali ini ia lebih lama dan bahkan memperdalam ciumannya.


Hatinya sangat senang karena perempuan itu seakan membalasnya. Mereka berdua pun saling mengulumm dan melumatt dalam rasa yang tak terbayangkan nikmatnya.


"Hey, apa kamu merindukan aku sayang?" tanyanya berbisik saat tautan bibir mereka terlepas. Yundha tidak menjawab tetapi malah membuka matanya perlahan. Ia menatap wajah suaminya yang begitu dekat dengan dirinya.


Ia seakan sedang bermimpi.


"Mas, kaukah itu?" lirih Yundha dengan suara bergetar.


"Ini aku sayang, aku suamimu," balas Dewa dengan suara yang hampir tenggelam karena hasratnya yang sudah sangat menyiksanya.


"Aku sangat menginginkanmu Yundha. Bolehkah aku menyentuhmu lebih dari ini," bisik Dewa dengan tangan sudah bergerak dengan ritme yang sangat indah di kedua asetnya yang sejak kapan sudah terpampang indah.


Yundha menutup matanya menikmati sensasi indah dari perlakukan suaminya.


Ini sungguh nyata, dan pria ini benar-benar datang dan menyentuhku.


"Sayang, ummm aku ingin lebih dari ini," bisik Dewa seraya mengulumm puncak merah muda milik sang istri secara bergantian. Tampak sekali kalau ia sangat rakus sekarang. Ia tak ingin melepaskan keduanya.


"Apakah aku punya pilihan lain mas?" tanyanya diantara cumbuan sang suami pada tubuhnya.


Dewa tak menjawab lagi. Ia pun semakin sibuk mendaki dua gunung kembar yang sudah resmi mendapatkan izin dari pemiliknya.


Aaa tanpa izin pun ia akan menguasainya, wkwkwkwk.


Dan sekarang ia sudah tak sabar untuk menuruni lembah yang sangat dalam dan juga gelap.


"Aaaaakh Massss!" Yundha berteriak tertahan ketika Dewa melakukan sesuatu yang sangat luar biasa pada daerah lembah miliknya.


Baiklah, kita tinggalkan mereka yang sedang sibuk mengarungi lautan asmara.


Di tempat lain.


Rania dan Merry sibuk berbalas pesan. Dua sahabat itu tak bisa tidur akhirnya saling mengirimkan pesan dan membicarakan hubungan anak-anak mereka.


[Gimana Yundha, jutek lagi gak sama suaminya?]

__ADS_1


[Gak tahu nih Mer. Soalnya, Dewa pulang Yundha udah tidur]


[Oh, semoga mereka cepat akur ya RAN]


[Aamiin. Yundha harusnya mulai sadar kalau perbuatannya selama ini gak baik]


[Ah iya gak apa-apa. Aku maklum kok. Dewa emang kadang suka ngeselin. Aku sering banget tarik kupingnya agar sadar hehehe]


[Tapi anakku juga kayak gitu lho Ran. Keras kepala banget.]


"Dewa itu cintanya sangat besar pada Yundha. Jadi aku rasa ego-nya pasti akan segera berkurang. Dan aku yakin malam ini akan jadi malam yang sangat panjang untuk mereka berdua.]


"Kok kamu yakin sekali sih RAN? Mereka satu kamar lebih sebulan aja setiap pagi malah pada musuhan dan diam-diaman.]


[Kali ini beda. Aku sudah bisa melihat bagaimana sikap mereka berdua tadi. Mereka nampak saling merindu dan juga mencinta]


[Hahaha. Kamu sekarang bisa jadi peramal ya]


[Ya pastilah. Anak sendiri sih. Aku tahu lho siapa Dewa.]


[Ya, udah jangan ngomongin mereka terus. Nanti mereka malah kembali kacau lagi hahaha]


Akhirnya mereka berdua pun menutup percakapan absurd emak-emak dengan pembahasan seputar calon cucu mereka yang akan lahir. Mereka sibuk memikirkan nama dan juga jenis kelaminnya.


Sementara itu, dua orang yang sedang mereka perbincangkan, masih berusaha untuk saling mengenal. Maklumlah, Yundha baru pertama kalinya merasakan hal ini di dalam dunia sadarnya.


Ia belum mengenal medan meskipun bukti dari semua itu sudah ada di dalam kandungannya.


Yundha hanya dalam posisi bertahan. Ia membuka dirinya sepenuhnya pada kedatangan seorang tamu yang sudah lama ingin ia rasakan.


"Mass," ucap perempuan cantik itu saat tangannya dibawa oleh Dewa untuk menyentuh senjata andalannya di bawah sana.


"Kenapa?" tanya Dewa tersenyum melihat ekspresi Yundha. Wajah perempuan cantik itu bersemu merah. Genggaman tangannya hampir tak muat hingga ia merasa ngeri sendiri.


"Apa yang kamu pikirkan Hem," ucap Dewa seraya menghentikan aksinya sementara.


"Ya ampun mas, aku takut," lirih Yundha dengan perasaan yang benar-benar khawatir . Ini adalah pertama kalinya ia melihat penampakan suaminya yang sangat tampan dan berbahaya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Sabar!!! Author mau ke dokter dulu, hehehe. belum fit untuk beradu tenaga sama mas Dewa UPS😉.


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2