
Yudhistira terdiam dan tak mampu menjawab permintaan sang istri. Ia harus memikirkan matang-matang tentang niat mulia perempuan yang telah dinikahinya itu. Keinginannya itu tidak salah samasekali. Dan ia akui kalau Tiara benar-benar berbeda.
Perempuan itu polos tetapi mempunyai pribadi yang luar biasa. Dan rasanya ia tidak mungkin menolak permintaan perempuan yang sangat dicintainya itu untuk belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Belajar itu wajib bagi semua orang. Tak terkecuali untuk perempuan.
Seorang perempuan yang cerdas akan menjadi pendamping yang hebat bagi suaminya kelak, yang dapat mengantarkan pasangannya itu untuk memenuhi kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dengan kedalaman ilmu pula, ia akan dapat mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi baik dan berkualitas, terutama dalam hal yang berhubungan dengan akidah dan akhlak anak-anaknya.
Dan bagaimana dengan Tiara yang belum siap menjadi seorang ibu dan lebih memilih untuk belajar?
Ibu adalah sosok yang dikenal paling dekat dengan anak. Menjadi ibu adalah kodrat bagi setiap wanita. Namun tidak menghalangi seorang ibu untuk berkembang. Wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk berpendapat, mengenyam pendidikan tinggi, dan juga berkarir.
Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya adalah suatu pengorbanan mulia yang tidak bisa diukur oleh apapun. Sehari-hari mengurus anak dan rumah bukanlah hal yang ringan.
Seorang ibu mencurahkan segala tenaga dan pikiran demi suasana rumah yang nyaman bagi anak-anaknya. Namun dengan menjadi ibu rumah tangga tidak lantas berhenti belajar karena ilmu tidak hanya didapat dari sekolah.
Wanita yang memilih untuk mengenyam pendidikan tinggi juga tidak salah. Tidak ada salahnya bagi wanita yang memilih untuk mengenyam pendidikan tinggi, berkarir, atau pun menjadi seorang ahli di bidang tertentu.
Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu merupakan ujung tombak lahirnya generasi hebat. Seperti yang dikatakan Mohammad Hatta “Siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia, sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan berarti sedang mendidik satu generasi."
Ibu yang berpendidikan akan menularkan pengalaman pendidikannya pada anak-anaknya. Ibu yang berilmu akan mendidik anak-anaknya untuk mencintai ilmu.
Dilansir dari Halodoc, menurut penelitian ahli University of Washington, wanita cenderung mentransmisi gen kecerdasan ke anak yang terbentuk dari kromosom X. Wanita memiliki dua kromosom X, sedangkan pria hanya memiliki satu kromosom X. Artinya wanita memiliki peluang dua kali lebih besar mewariskan kecerdasan dibandingkan pria. Maka tak salah jika ada ungkapan “membangun generasi dimulai dari memilih calon istri”.
Ini menunjukkan pentingnya bagi seorang ibu atau calon ibu untuk belajar, mendalami ilmu baik ilmu agama, pengetahuan, ataupun ketrampilan untuk menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.
Apapun yang menjadi pilihan bagi seorang wanita, apakah menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya ataupun berkarir tidaklah jadi masalah.
Keduanya harus sama-sama berilmu untuk mendidik anak-anak, generasi masa depan yang hebat. Berawal dari seorang ibu yang berilmu lahirlah generasi tangguh yang akan menjawab tantangan jaman.
@sumber Pipiet Palestin Amurwani
"Mas, kok diam saja?" tanya Tiara. Yudhis lalu meraih tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya kemudian menjawab," Menuntut ilmu itu bagus banget sayang. Aku sih setuju saja. Tapi ada syaratnya."
"Syarat?" Tiara mengangkat kepalanya kemudian menatap sang suami.
__ADS_1
"Iya. Harus ada syaratnya. Pertama kamu harus meluruskan niatmu dulu. Untuk apa kamu ingin belajar di universitas."
Tiara tampak berpikir. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia juga tidak begitu yakin sebenarnya dengan apa niatnya yang sesungguhnya.
"Bagaimana? Udah tahu apa niatmu sayang?" tanya Yudhis dengan tatapan lurus kedalam mata indah perempuan cantik itu.
Tiara mulai membuka mulutnya kemudian menjawab, "Aku sih maunya jadi sarjana mas seperti orang-orang yang kerja di perusahaan papa jadi aku 'kan bisa menjadi karyawan di sana juga."
"Oh gitu? Jadi kamu mau jadi karyawan?"
Tiara mengangguk dengan wajah yang sangat lucu. Di dalam otaknya ia adalah seorang pegawai kantoran yang sangat sibuk berangkat bekerja di pagi hari dan pulang saat sore tiba. Benar-benar berguna untuk banyak orang.
"Gak berniat jadi bos?" tanya Yudhis lagi. Tiara tampak berpikir dengan dahi mengernyit kemudian menjawab lagi," Gak ah mas, jadi bos itu ribet. Aku gak mau."
"Kenapa?"
"Kenapa ya?" Tiara tampak berpikir lagi.
"Karena aku mau jadi karyawan saja mas. Bisa lebih santai dan juga bisa berhenti kapan saja saat aku mau. Gak usah mikirin yang sulit-sulit. Yang penting bisa gajian setiap bulan. Itu saja sih mas."
"Bagus. Kalau begitu kamu gak usah belajar tinggi-tinggi. Kamu jadi karyawan aku saja di perusahaan. Dan jadi partner aku di rumah ini, gimana?"
"Bisa sayang. Di perusahaan keluarga kita sendiri."
"Hmmm, betul juga sih. Tapi..."
"Udah gak usah tapi-tapi. Yang penting kamu mau mengandung dan jadi seorang ibu, kamu bisa jadi apa saja yang kamu inginkan. Mau belajar di universitas atau di rumah saja juga boleh."
"Beneran mas?"
"Iya istriku sayang. Kalau belajar di rumah, kamu akan aku panggilkan guru yang akan mengajar kamu sampai pintar, terutama tentang ilmu parenting."
Tiara tersenyum senang. Ia memeluk suaminya itu dan mencium pipi kiri dan kanannya. Terakhir ia berhenti di bibir pria itu kemudian mengecupnya.
"Makasih mas. Aku siap hamil deh kalo gitu. Gak akan mual-mual kayak orang-orang 'kan mas?"
__ADS_1
"Insyaallah gak."
"Beneran?"
"Iya."
"Trus kalau aku mau jadi apa saja boleh juga dong?"
"Boleh. Kamu mau jadi bos atau mau jadi karyawan terserah. Mau di atas atau dibawah aku layani. Bagaimana? Mau coba gak sayang?"
"Hah? Coba apa mas?" tanya Tiara dengan wajah bingungnya.
"Mau coba diatas gak?"
"Di atas mana mas?"
Yudhistira tersenyum kemudian memperlihatkan sebuah gambar di dalam handphonenya dimana seorang istri menjadi atasan suaminya di atas ranjang.
"Aaaaaa!" Tiara menutup matanya dengan telapak tangannya karena kaget dengan apa yang lihat. Tubuhnya seketika merinding melihat model gambar seperti itu.
"Ih gimana caranya tuh mas?" tanya Tiara penasaran. Wajahnya ia tutup dengan telapak tangannya tapi ia mengintip lewat sela jari-jarinya.
Yudhistira tersenyum samar kemudian berbisik lembut ditelinga perempuan cantik itu.
"Mau aku ajarin gak?"
Tiara menggelengkan kepalanya kemudian mengangguk.
"Mau gak nih?"
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess. Maafkan othor nih karena telat updatenya. Insyaallah kedepannya lebih lancar lagi. Aamiin.
Oke, ada sedekah bunga gak nih? Hehehe ngarep 🤭🤗