Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 177 Tak Peduli


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Merry mengetuk pintu kamar sang putri kemudian langsung membukanya sebelum sang pemilik mempersilahkannya.


"Nda, kamu udah minum susu sayang?' tanya Merry yang tiba-tiba menggangu lamunan perempuan cantik itu.


"Eh mama, silahkan masuk. Aku belum minum, nanti deh aku bikin sendiri." Yundha turun dari ranjangnya dan menghampiri sang mama.


Tumben, begitu pikirnya.


"Gak mau sekarang saja? Mama gak pernah lho lihat kamu minum. Padahal disaat hamil begini kamu harusnya banyak mengkonsumsi vitamin dan juga nutrisi yang baik untuk bayimu."


"Iya ma. Makasih. Aku akan minum kok."


"Um, baiklah. Mama hanya mengingatkan aja sih siapa tahu kamu lupa."


"Tidak kok ma. Terimakasih banyak."


"Dewa kemana? Kok gak keliatan?" tanya Merry dengan pandangan ia arahkan ke sekeliling kamar itu.


"Masih di kamar mandi ma. Mungkin lagi mandi."


"Ah iya. Mama keluar kalau begitu. Kamu ingat untuk melayani suamimu ya," ucap Merry mengingatkan. Perempuan itu malah mengedipkan matanya agar sang putri mengerti apa yang ia maksudkan.


"Iya ma." Yundha segera mengiyakan agar segala sesuatunya cepat beres.


"Baiklah, selamat malam sayang," ucap Merry kemudian keluar dari kamar itu yang langsung disambut oleh Selfina di depan pintu.


"Bagaimana mereka ma? Aman 'kan?" tanya sang menantu dengan suara berbisik.


"Aman kok. Ranjang masih rapih dan juga tak ada barang yang tidak berada di tempatnya, hihihi." Merry menjawab dengan cekikikan.

__ADS_1


"Artinya mereka baik-baik saja. Alhamdulillah." Selfina tersenyum.


Sebenarnya Merry masuk ke kamar sang putri karena laporan dari Selfina yang mendapatkan informasi dari orang terpercaya kalau terjadi sesuatu di Mall tadi.


Dua orang itu saling marah-marahan sampai tangis-tangisan, begitulah isi berita yang sepertinya sedang diberi permivan agar lebih mengembang.


Dan ia meminta kepada sang mama mertua untuk pura-pura mengecek ke dalam kamar Yundha siapa tahu mereka berdua bertengkar atau melakukan perang dingin lagi.


"Semoga mereka baik-baik saja. Ayok kita tidur, nanti Yundha curiga sama kita," ucap Merry dan langsung pergi dari tempat itu.


"Iya ma." Selfina mengikuti ajakan sang mama mertua dibawah tatapan Yudha.


"Dasar para perempuan kepo," ucapnya pelan seraya berdecak.


Sementara itu, di dalam kamar yang sedang dalam intaian, Dewa merendam dirinya dengan air hangat di dalam bathtub sampai ia merasa tubuhnya relax.


Setelah itu ia pun keluar dari kamar mandi. Sebuah handuk putih ia lilitkan pada pinggangnya yang kuat.


Ia berjalan keluar dengan rambut yang masih sedikit basah hingga tampak menetes turun ke dadanya yang bidang.


Dadanya berdebar tak karuan. Ia jadi merasakan tubuhnya yang lain merespon dengan sangat baik. Gelenyar aneh tiba-tiba merambat sangat cepat ke seluruh pembuluh darahnya.


Dada bidang dan perut kotak-kotak itu. Oh ya Allah. Kenapa bisa sebagus itu.


Belum lagi lengannya yang tampak sangat kuat, pantas saja ia sangat kuat mengangkat dan memeluk tubuhku.


Dan bagaimana dengan anggota tubuhnya yang lain?


Aaaa


Oh tidak!


Pasti lebih kuat dan juga indah.


Ya Allah, apa yang aku pikirkan?

__ADS_1


Tapi sayangnya Jessica juga pernah merasakannya.


Aaa kesal!


Dan aku sangat tak suka.


Berbagai macam pikiran-pikiran kotor pun muncul di benaknya. Ia jadi diam seribu bahasa dan tak mampu untuk marah karena kejadian tadi.


Dewa sendiri pura-pura tidak peduli pada sang istri. Ia berjalan dengan sangat santai di depan perempuan cantik itu tanpa menegur atau menyapa.


Di benaknya ia juga sangat ingin mengkonfirmasi kejadian tadi di Mall tapi ia sedang malas untuk berdebat atau bertengkar. Ia lelah dan ingin tidur. Besok pagi-pagi ia harus keluar kota bersama dengan Mr. Tanaka dan juga Yudha.


Untuk itu ia butuh istirahat yang cukup meskipun sebenarnya ia sangat ingin istrinya itu memijit tubuhnya dan mungkin melakukan hal yang menyenangkan.


Aaa, tiba-tiba saja senjatanya berdenyut hanya karena membayangkan Yundha mau menerima dirinya.


Ah, sudahlah. Ia bahkan dengan sengaja menemui Aril dan meninggalkan aku. Jadi aku seharusnya tidak berharap lebih, begitulah benaknya memberinya penghiburan.


Sebuah pakaian tidur ia ambil dari lemari kemudian memakainya di dalam tempat itu juga tanpa peduli kalau handuknya sedang melorot ke bawah.


Ia tampil polos di depan Yundha dengan santai. Yundha merasakan tubuhnya gemetar. Ia tak tahan berada di sana. Ia bagaikan seorang asing yang benar-benar hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh maha karya yang luar biasa dari zat pemilik alam itu.


Perempuan itu langsung pergi menuju kamar mandi. Ia betul-betul merutuki dirinya yang sangat haus belaian.


Di dalam sana ia tak sadar menangis. Ia merasa benar-benar dipermainkan oleh pria itu sedangkan hormon kehamilannya sedang sangat menginginkannya.


"Aaa brengsek!" Yundha mengumpat lagi seraya mencuci wajahnya dengan air dingin dari dalam kran. Ia ingin mendinginkan hatinya yang sedang tak baik-baik saja.


Ia benar-benar sangat tersiksa sekarang tapi kenapa suaminya seakan tak peduli lagi padanya?


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2