
Yudhi menegakkan punggungnya seraya menatap perempuan cantik yang selama ini sangat disukai dan dikaguminya.
Ia terpaku sakit. Dadanya sesak bagaikan sedang mendapatkan tikaman telak di jantungnya. Sungguh perih meskipun tak berdarah.
"Mbak Selfina ada di dalam kamar kak Yudha?" tanyanya dengan tenggorokan tercekat.
Selfina hanya mengangguk seraya meremas ujung hijabnya. Yudhi semakin merasa sangat sakit.
Berhari-hari ia menunggu perempuan cantik itu di perusahaan dengan rantang yang berisi hasil masakannya ternyata perempuan itu ada disini, di apartemen ini dan bahkan dari dalam kamar sang kakak. Sungguh, ia merasa dikhianati oleh mereka berdua.
Yudhi merasakan tubuhnya gemetar. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal kuat di sisi kiri kanan tubuhnya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Yudha dengan tatapan tak terbaca. Nampak sekali kalau ia sangat kecewa dengan kenyataan dihadapannya.
Kakaknya telah mengkhianatinya dengan sangat kejam bersama seorang perempuan yang sangat ia kagumi karena kesempurnaan fisik dan perilakunya.
"Kak Yudha jahat!" teriak Yudhi dengan suara kerasnya. Ia memukul dadanya sendiri kemudian menjambak rambutnya. Setelah itu ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding. Ia kembali menampakkan dirinya yang tidak bisa mengontrol emosi.
"Mas Yudhi! Jangan seperti ini!" teriak Selfina tak tega dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Ia merasa sangat kasihan pada sang adik ipar. Ia pun melangkahkan kakinya ingin membantu dan menenangkan pria itu tetapi Yudha langsung menahan tubuhnya.
"Biarkan ia seperti itu!" titah Yudha dan langsung membuat sang istri tak bergerak dan hanya bisa berdiri mematung. Pria itu berusaha untuk tidak peduli meskipun ia sendiri merasa sangat kasihan.
Akan tetapi perasaan emosinya pada kelakuan Yudhi memaksanya untuk tega.
"Kamu sudah tahu kalau aku sangat menginginkan mbak Selfina kak. Tapi kenapa? Kenapa kamu lakukan ini padaku kak!" teriak Yudhi lagi dengan tatapan mata nyalang. Ia bahkan ingin menyakiti Yudha sang kakak.
"Stop Di. Hentikan kegilaanmu!" tegas Yudha.
"Aku yang lebih dahulu bertemu dengan Selfina daripada kamu. Dan sekarang ia adalah istriku. Kami sudah menikah karena kami saling mencintai dan itulah kenyataan yang harus kamu terima!" tegas Yudha tanpa mau memperdulikan wajah kaget Yudhi.
"Jadi mulai sekarang, berhentilah mengharapkan yang bukan milikmu!" lanjut pria itu dengan tatapan tajam pada sang adik. Yudhi mengepalkan kedua tangannya kemudian menatap sang kakak dengan tatapan tajam.
"Diam! Aku tak ingin mendengarnya! Kamu jahat kak! Kamu rakus dan menginginkan semuanya. Semua kasih sayang mama dan papa telah kamu dapatkan dengan sempurna! Dan sekarang mbak Selfina, Rea, Maya, Sendy! Semuanya ingin kamu ambil juga? Hebat banget hidupmu!" Yudhi menepuk tangannya dengan tatapan mencemooh.
"Ngomong apa kamu Di?!" Yudha semakin bingung dan tidak mengerti tentang apa yang dikatakan oleh Yudhi.
__ADS_1
"Aku berkata benar, semuanya ingin kamu miliki untuk dirimu sendiri. Dan setelah itu kamu akan menyakiti mereka semua!" teriak Yudhi lagi dengan airmata yang sudah siap tumpah dari kelopak matanya.
"Aku tidak akan memaafkanmu kak Yudha!" lanjutnya dengan emosi tertahan.
Selfina kaget dan bingung. Untuk beberapa detik ia hanya bisa melongo dengan apa yang terjadi dihadapannya. Ia tidak bisa berkata apa-apa sampai Yudhi pergi dari apartemen itu dengan menghentakkan kakinya marah.
Eh, kok pergi sih? Rencananya aku baru ingin belajar banyak hal.
"Kamu sudah lihat bagaimana sifat Yudhi Sel? Anak itu tidak bisa mengontrol emosinya dari dulu."
"Dan ya, inilah yang aku maksudkan padamu dan hubungan kita. Yudhi itu menyukaimu sebagai seorang pria dewasa. Dan aku berharap ia baik-baik saja setelah ini," ucap Yudha seraya meraup wajahnya kasar.
Selfina masih terdiam. Ia berusaha mencerna apa yang telah terjadi sampai suaminya pergi meninggalkannya untuk mencari minuman dingin.
Selfina tak tahu harus berkata apa. Ia hanya melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya dengan perasaan yang sedang tak baik-baik saja.
Apa aku yang salah disini?
Perempuan itu terus berdialog dengan dirinya sendiri. Sementara itu Yudha duduk terpekur di di depan meja bar nya. Ia belum juga menyentuh minuman soft drink nya karena pikirannya kacau.
Ya, Allah. Apa aku yang salah disini?
Kenapa Yudhi selalu saja menyalahkan aku di setiap hal yang membuatnya sedih?
Pria itu merasakan dadanya sesak. Ia menjambak rambutnya kasar. Ia tidak mengerti dengan perasaan yang sedang dirasakannya saat ini. Yang jelasnya ia merasa sangat bersalah pada semua orang.
"Ah Yudhi. Aku harus tahu kemana kamu pergi," ucapnya seraya meraih kunci mobilnya dan meninggalkan apartemennya. Ia lupa kalau Selfina juga merasa tidak baik-baik saja.
"Mas Yudha, hai! Lama tak berjumpa," ucap seorang perempuan cantik saat ia baru keluar dari lift.
"Rea? Maaf. Aku sedang buru-buru," ucap pria itu dan langsung melanjutkan langkahnya ke arah pintu utama lantai itu. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi dan hanya fokus untuk memburu mobil Yudhi.
Rea tersebut miring. Ia baru saja putus hubungan dengan sugar Daddy nya dan otomatis ingin mencari mangsa baru untuk melanjutkan hidup. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Yudha makanya ia harus mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.
__ADS_1
"Dasar pria bodoh! Aku tahu kalau kamu sedang bermain-main dengan seorang perempuan lain di unit kamu! Dan jangan panggil aku Rea kalau aku tidak bisa mengambil kembali unit itu menjadi milikku," ucapnya menyeringai. Ia pun memencet tombol dengan angka tertinggi pada gedung apartemen itu.
🌹
Brakk!
Mobil Yudhi menabrak sebuah mobil yang sedang berhenti di pinggir jalan karena tak fokus menyetir. Emosinya memuncak dan tak bisa ia kendalikan.
"Astaghfirullah. Aaaaaaakh!" teriak seorang pengemudi mobil yang sedang ditabrak utk. Kendaraan roda empat yang ia kendarai sampai tergeser jauh sampai menabrak sebuah pohon besar.
Perempuan itu cepat keluar dari mobilnya sebelum kendaraan itu meledak. Asap sudah nampak keluar dari bumper bagian depannya. Sedangkan si penabrak yaitu Yudhi langsung jatuh pingsan dengan darah yang mengucur dari beberapa bagian vital ditubuhnya.
"Hey! Keluar kamu!" teriaknya pada Yudhi yang sudah tak bergerak di dalam kendaraannya sendiri.
"Awas kamu kalau sedang mabuk! Akan aku perkarakan kamu di kantor polisi karena sudah mengemudi sembarangan." ucap gadis itu seraya mencoba menghubungi ambulan.
"Iya pak. Ayo cepetan. Orangnya mungkin sudah mati!" teriaknya pada sang sopir ambulans yang sedang dihubunginya agar segera datang dalam hitungan menit.
"Baik Bu. Saya akan kesana secepatnya."
Apa aku harus menghubungi polisi? Apakah tidak akan ribet dan malah membuat pusing?tanyanya dengan wajah meringis.
Ia pun mengetuk kaca mobil Yudhi agar pria itu bisa meresponnya.
"Apa mungkin ia mati?" gumamnya dengan perasaan yang tiba-tiba takut. Pasalnya pria itu tak bergerak sama sekali.
"Oh tidak. Jangan beri aku masalah baru ya Tuhan. Masalah aku yang lama saja belum beres."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Like dan komentar dong 🤭
__ADS_1