Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 56 Selfina Cemburu


__ADS_3

Merry benar-benar serius mengupayakan agar Yudha dan Maya berkenalan. Ia ingin putranya itu menikah dengan putri salah satu anggota direksi perusahaan agar posisi Yudha sebagai presiden direktur aman.


Di pagi menuju siang itu ia memaksa Yudha untuk makan siang di luar agar mereka lebih saling mengenal dan lebih akrab.


"Nikmati waktu kalian ya," ucap Merry saat Yudha dan Maya memasuki kendaraan roda empat milik putranya.


"Makasih tante, dadah!" ucap Maya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Yudha hanya tersenyum tipis dengan tarikan nafas beratnya. Ia pikir hari ini ia akan bersantai di rumah dan bekerja lewat online saja tapi kenyataannya ia harus menyenangkan hati sang mama dan berakhir dengan keluar rumah juga.


"Kamu kayaknya gak seneng ya, kita keluar bersama," ucap Maya karena Yudha sama sekali tidak bicara padanya.


"Seneng kok. Apa nampak sekali ya?" jawab Yudha dengan santai.


Maya memutar bola matanya malas. Ia tahu kalau Yudha tak pernah memberinya hati tapi ia akan tetap berusaha keras dengan itu.


"Gak asik lho jalan dengan pria tampan tapi wajahnya datar kayak tembok," ucap Maya menyindir. Yudha langsung tersenyum tipis. Ia juga tidak ingin dikatakan sebagai pria yang seperti itu.


"Baiklah, kamu mau makan dimana?" ucap Yudha dengan tatapan tak lepas dari jalanan di hadapannya.


"Di restoran dekat perusahaan aja deh. Setelah itu kamu bisa ajak aku ke tempat kamu bekerja mas Yud. Ya, sekalian memperkenalkan kalau aku ini calon istri presiden direktur gitu loh."


Percaya diri sekali. Gumam Yudha dalam hati.


"Gimana? Kok diam aja sih?" ucap Maya dengan bibir mengerucut.


"Iya. Kita makan di sana. Aku juga ada beberapa berkas yang harus di tandatangani sih," jawab Yudha memaksa dirinya untuk tersenyum.


Ia berusaha untuk berprasangka baik saja dan menikmati hari ini agar ia tidak menambah rasa kesalnya pada keadaan yang menimpa sang Papa.


"Nah gitu dong. Calon suami yang baik." Maya tersenyum lebar. Ia sangat bahagia karena keinginannya diikuti oleh Yudha.


"Gak usah bilang calon suami lah. Kita bahkan belum sampai sedekat itu juga. Dan lagipula, aku udah punya calon istri kok."

__ADS_1


Deg


Senyum Maya langsung sirna. Akan tetapi ia tidak peduli. Ia akan tetap menganggap kalau Yudha adalah calon suaminya. Ia tahu cara menaklukkan pria.


Semua pria di dunia ini sama saja. Jika dirayu dengan belahan dada dan juga **** * ia yakin mereka akan bertekuk lutut dihadapan perempuan.


"Gak apa-apa kok mas. Yang penting bagiku kamu adalah calon suamiku. Kita tidak tahu bagaimana jodoh bekerja 'kan?" ucap Maya kembali riang. Dalam hati ia mengerang kesal dan berharap bisa berjumpa dengan calon istri pria itu.


Yudha tak memberi tanggapan lagi. Ia fokus menyetir dan akhirnya sampai di sebuah Restoran yang berada tepat di seberang jalan Perusahaan tempat ia bekerja.


Setelah makan siang berdua yang cukup santai. Mereka pun menuju Perusahaan sesuai keinginan Maya. Berkas yang tadinya akan diperiksa oleh Yudha besok saja kini sudah harus siap di atas mejanya.


Pria muda dan tampan itu pun melangkahkan kakinya ke dalam gedung berlantai puluhan itu didampingi oleh Maya yang bertingkah seolah-olah adalah istri dari seorang Yudha Abdullah.


"Selamat siang Bu Ar," ucapnya menyapa sekretarisnya yang baru ia temui setelah beberapa hari ini kurang sehat.


"Selamat siang pak Yudha." Ardina membungkukkan tubuhnya sopan.


"Oh, jadi Bu Ardina ini sektretaris kamu mas? Cantik banget." Maya langsung menyalami Ardina berbasa-basi. Ia ingin tampak seperti seorang istri presiden direktur yang sangat baik dan sopan pada karyawan.


"Padahal udah punya suami dan anak 'kan mbak. Salut banget."


"Ah terimakasih banyak lho mbak. Pujiannya udah sampai ke langit ke tujuh lho mbak. Mbak Maya juga cantik kok," ucap Ardina tersenyum.


"Ih aku muji itu karena faktanya kayak gitu. Mas Yudha pasti senang banget bekerja dengan sekretaris handal macam Bu Ar," ucap Maya kembali memuji setinggi langit.


"Saya sudah resmi hari ini resign kok mbak Maya, jadi bukan sekretaris pak Yudha lagi."


Yudha langsung menatap wajah Ardina dengan tatapan serius. Ia tak pernah diberi tahu soal itu sebelumnya oleh istri dari Praja Wijaya itu.


"Ah yang bener Bu Ar?" tanya Yudha kaget dengan perkataan Ardina. Maya pun sama kagetnya.


"Iya pak Yudha. Waktu itu saya sudah mengajukan surat pengunduran diri pada pimpinan yang lama yaitu pada pak Maher Abdullah tapi karena saya harus mencukupkan dua bulan lagi sesuai kontrak ya jadilah mundur sampai hari ini."

__ADS_1


Yudha tampak kecewa. Ia langsung meninggalkan perempuan itu dan memilih masuk ke dalam ruangannya.


Hanya Ardina yang mengerti ritme kerjanya di perusahaan ini dan bisa ia ajak diskusi banyak hal yang belum ia kuasa tentang pekerjaan ini. Dan sekarang perempuan handal itu langsung resign tanpa ia tahu sebelumnya.


Ardina tahu kalau preseden direktur itu sangat tak senang dengan keputusannya tapi ia juga harus memikirkan keinginan suaminya. Belum lagi kandungannya yang harus ia jaga dengan tidak bekerja terlalu keras seperti yang selama ini ia lakukan.


Ia pun masuk ke dalam ruangan Yudha Abdullah diikuti oleh Maya. Ia akan menjelaskan kalau ia sudah mempunyai pengganti dirinya.


"Pak Yudha," ucapnya saat sampai di dalam ruangan itu.


"Aku belum siap ditinggalkan Bu Ar. Aku masih butuh bantuanmu jadi kumohon untuk tidak pergi secepat ini. Tambahlah lagi sebulan sampai ada sekretaris baru yang handal seperti dirimu." Yudha berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas dihadapannya.


"Saya sudah punya pengganti pak. Selama beberapa hari ini saya sudah memberikan training dan pendampingan langsung sampai hasil nya sangat luar biasa," jelas Ardina dengan senyum diwajahnya.


"Benarkah?" tanya Yudha seraya mengangkat wajahnya. Di hadapannya kini telah berdiri 3 orang perempuan cantik. Tapi yang paling cantik adalah SELFINA.


Pria itu langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka semua.


"Selfina? Sejak kapan kamu ada disini?" tanyanya dengan mata berbinar bahagia. Maya sampai tidak nyaman melihatnya. Hatinya merasa kalau tatapan itu sangat berbahaya untuk masa depan perasaannya.


"Sejak beberapa hari yang lalu pak. Saya sudah diberikan banyak pelatihan dari Bu Ardina untuk menjadi sekretaris bapak."


"Oh ya?" Bibir Yudha tersenyum samar. Ia sangat senang dengan apa yang Tuhan gariskan padanya saat ini. Dadanya berdebar kencang seakan ingin meledak.


Ia perlu berterima kasih secara khusus untuk keluarga Praja Wijaya dan juga istrinya yang telah mengatur hadiah yang sangat istimewa seperti ini dalam hidupnya.


"Mas Yudha udah kenal ya?" tanya Maya cepat seraya memeluk lengan pria itu posesif. Mata Selfina langsung merasa sepet melihat adegan mesra dihadapannya. Dadanya berdebar cemburu.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2