Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 192 Makan Daging Mentah Atau?


__ADS_3

Nindi merasakan dadanya mendidih marah. Ia semakin kesal dan cemburu saja pada Yundha karena Dewa yang selama ini ia sukai kini ada di kampus dan menjemput perempuan itu.


"Kamu kenapa sih?" tanya Sella, temannya.


"Aku kesal. Kenapa sih anak itu selalu mendapatkan yang terbaik?" jawab gadis itu balas bertanya.


"Kamu kok terang-terangan banget sih kalo benci sama Yundha. Semua orang bisa lihat lho sikap kamu." Sella menatapnya dengan tatapan serius tapi Nindi hanya mencibir.


"Gak apa-apa. Aku memang sengaja supaya ia sadar diri. Aku gak suka dia semau-maunya saja masuk kampus. Ikut final saja dia lagaknya seperti orang yang paling bahagia di seluruh dunia."


"Hahaha, kamu lucu. Kamu lebih sok lagi seolah-olah kamu yang punya kampus atau ketua jurusan gitu."


"Maunya sih begitu hahahaha. Supaya orang-orang seperti Yundha bisa aku tekan kalau mau semau-maunya."


Sella menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia semakin bingung saja dengan temannya yang satu itu.


"Aku yakin pak prof juga tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu Nin. Gak baik lho sayang apalagi Yundha itu siapa. Semua orang tahu siapa Yundha Abdullah. Keluarganya adalah penyumbang terbesar di universitas ini.


"Emangnya aku pikirin? Bodo amat." Nindi tak peduli. Ia pun langsung melenggang santai dan meninggalkan Sella di tempat itu. Andai ia punya kesempatan, ia ingin sekali mendapatkan Dewa agar Yundha bisa ia sakiti.


🌹


"Mas, aku gak mau ikut dulu, aku masih ada final nih," ucap Yundha dengan wajah tak nyaman. Cukup pengalaman yang tadi saja ia sudah sangat malu apalagi sekarang kalau suaminya malah membawanya pergi.


"Gak apa-apa. Aku bilang kamu ujian saja sama aku." Dewa berucap dengan santai sembari menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Mas, aku gak enak beneran nih. Sama pak Prof aku malu banget. Aku sampai malu ketemu sama beliau."


Dewa tersenyum. Ia memang sengaja melakukannya untuk menunjukkan pada semua orang kalau ia sangat mencintai istrinya.


"Mas, yang tadi aja aku gak ada nilai masak ini gak masuk final lagi sih?" gerutu Yundha lagi dengan bibir manyun. Pria itu seperti tidak peduli padanya.


"Mas, jangan bawa aku pergi, aku mau ikut ujian mata kuliah berikutnya," rajuk Yundha dengan suara manja. Ia yakin kalau ia seperti itu, maka suaminya akan mendengarkannya.


"Gak apa-apa. Aku udah kasih tahu dosen kamu. Kalau kamu akan ikut ujian susulan saja. Soalnya aku udah gak tahan sayang. Aku pengen banget memakan kamu saat ini juga," jawab Dewa tanpa mau menghentikan mobilnya.


"Ish mas! Kamu kok gitu sih? Aku 'kan malu sama semua orang. Aku gak mau dibilang gak mengikuti aturan. Ayo turunkan aku." Yundha masih saja memaksa karena ia sangat tak enak hati. Ia takut kalau nanti nilai yang ia dapatkan bagus padahal ia tidak datang ke kampus.


"Yundha, kamu gak kasihan sama aku sayang?" tanya Dewa seraya meraih tangan istrinya dan membawanya ke antara dua pahanya untuk membuktikan kalau ia benar-benar menginginkan perempuan cantik itu saat ini.


"Mas, aku..." Yundha tak bisa berkata-kata. Ia merasakan perasaan aneh merambat dengan cepat ke seluruh pembuluh darahnya.


"Kamu bisa rasakan sendiri 'kan? Aku aja ninggalin kantor karena tak tahan jika berjauhan denganmu sayang," ucap Dewa dengan perasaan tak terbendung.


Mobilnya dengan cepat ia arahkan ke sebuah hotel bintang Lima yang mereka lewati. Ia sudah booking kamar terbaik di sana sebelum ke kampus tadi.


"Tapi aku lapar mas. Aku belum sarapan lho tadi," ucap Yundha diantara dua keinginannya yang sama-sama besar. Makan daging mentah atau makan daging bistik Jerman yang sangat ia idamkan sekarang ini.


"Gak apa-apa. Kamu makan dulu supaya kamu kuat sampai beronde-ronde sayang," ucap Dewa tersenyum. Ia mematikan mesin mobilnya dan memandang wajah Yundha yang tampak malu-malu mau.


"Kamu cantik sekali sayang," ucap Dewa lagi kemudian menarik tubuh istrinya dan mengulum bibirnya dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Mas, takut ada yang lihat," bisik Yundha semakin malu saja.


"Baiklah, nanti di kamar saja kita lanjutkan. Kita makan aja dulu," ucap Dewa tersenyum seraya mengelus bibir sang istri tercinta.


"Ini gak masalah mas?" goda Yundha seraya mengelus lembut si Otong yang sudah ia buka tadi.


Dewa kembali tersenyum.


"Ia sangat masalah kalau kamu melakukan itu sayangku. Tapi aku bisa tahan sedikit kok. Kamu makan aja dulu."


Yundha tersenyum kemudian memasukkan kembali si Otong ke dalam sarangnya dan merapikan celana suami nya.


Mereka pun turun dan langsung menuju restoran untuk mengisi perut mereka agar kuat berlaga di atas ranjang.


Hehehe 😂


Kayak apa?


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2