
Indy bernafas lega karena Bani, sang sopir ambulans bisa cepat datang di tempat kejadian perkara.
"Pakai kecepatan berapa pak? Kok datangnya cepat banget?" tanya Indy.
"Oooo jangan ditanya kalau soal kecepatan Bu. Saya selalu siap, gesit, dan juga cepat," ucap Bani dengan dada membusung. Ia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang ompong bagian depan.
"Ayo sekarang kita bawa pria itu ke rumah sakit pak," ucap Indy dengan pandangan ia arahkan ke dalam mobil mewah yang baru saja menabrak mobilnya.
"Ah iya bu," ucap Bani setuju. Pria itu pun berusaha mengeluarkan Yudhi dari mobilnya dengan susah payah kemudian membawanya ke atas mobil ambulansnya. Ia dan Indy menggunakan tandu yang sudah tersedia di dalam mobil itu.
"Trus bagaimana dengan kedua mobil ini Bu?" tanya Bani.
"Aku sudah menghubungi mobil derek agar membawa keduanya ke bengkel, pak."
"Apa tidak ingin melapor polisi saja Bu?"'
"Gak usah pak. Takutnya jadi ribet masalahnya. Aku juga akan menghubungi keluarganya secepatnya. Barang berharga pria itu udah aku amankan sih. Ayo cepetan pak." Indy segera naik ke atas ambulans itu untuk menuju ke rumah sakit.
"Siap Bu Indy!" Pak Bani tersenyum dengan tangan di kepalanya tanda hormat.
Mobil box berwarna putih berlogo sebuah rumah sakit di kota itu pun langsung melaju kencang menuju tempat tujuan.
Sementara itu, Selfina yang sibuk mencari suaminya dan tidak menemukannya di seluruh ruangan apartemen tampak bingung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia pun segera mandi dan berpakaian.
Baru saja ia ingin menghubungi Yudha bel di depan pintu apartemennya berbunyi. Ia pun melihat layar monitor untuk mengetahui siapa yang datang.
"Seorang perempuan?" tanyanya dengan dahi mengernyit.
"Siapa dia?" tanyanya lagi seraya berjalan ke arah pintu. Ia pun membuka pintu itu dengan senyum diwajahnya.
"Hai saya Rea," ucap perempuan itu dengan senyum tipis dibibirnya. Selfina balas tersenyum.
Oh jadi ini yang namanya Rea? Perempuan yang disebut-sebut oleh Yudhi itu?
"Saya tak perlu mintai izin untuk masuk bukan?" ucap perempuan itu lagi dengan sikap yang sangat percaya diri.
"Saya Selfina, pemilik apartemen ini. Dan tidak sembarang membiarkan orang masuk ke dalam daerah kekuasaanku." Selfina menjawab dengan dagu terangkat.
"Oh, kamu tidak tahu siapa saya?" ucap Rea dengan wajah berubah kecut.
"Tidak dan tidak perlu aku tahu. Jadi kalau gak ada urusan penting silahkan pergi dari sini!" tegas Selfina.
"Hey, aku ini yang sebenarnya pemilik apartemen ini ya, aku yang sengaja dibelikan oleh mas Yudha. Kamu gak lihat semua furniture di dalam tempat ini adalah semuanya kesukaan aku. Jadi kamu gak usah terlalu percaya diri!"
"Oh ya? Lalu kenapa? Kamu mau balik kesini begitu?" tanya Selfina mencibir.
__ADS_1
"Tentu saja karena mas Yudha sangat mencintai aku. Aku cinta pertamanya makanya aku itu spesial. Semua unit yang ada di lantai gedung Scandinavian Group ini untuk mahar aku!"
Selfina mengeratkan rahangnya marah. Dadanya sesak tiba-tiba. Ia tak menyangka suaminya mempunyai seseorang yang sangat istimewa seperti ini. Ia pun menghela nafasnya kemudian tersenyum.
"Terimakasih informasinya mbak Rea. Aku sangat senang mendengarnya. Tapi sayangnya aku lah yang menempatinya sekarang. Aku lebih spesial karena telah menikmati semua fasilitas yang ada disini bersama dengan mas Yudha."
Rea tercekat. Ia pikir perempuan berhijab ini adalah perempuan lemah dan gampang di hancurkan seperti dalam semua cerita novel atau sinetron.
"Terimakasih karena sudah menjadi tukang furniture. Aku suka sih tapi mungkin akan ubah mulai sekarang karena sudah tahu kalau itu adalah pilihanmu!"
Rea mengepalkan tangannya marah. Ia menatap Selfina dengan tajam.
"Apakah kamu adalah perempuan pemuas mas Yudha saja? Sayang sekali dengan hijabmu itu."
Selfina terkekeh geli kemudian menjawab dengan sangat tegas.
"Jangan singgung masalah hijab disini karena itu tak ada hubungannya. Aku adalah istrinya mas Yudha. Dan untuk calon pelakor seperti dirimu, silahkan angkat kaki dari sini karena aku tidak akan sudi ada seekor ulat bulu yang berani mengganggu kehidupan kami!"
"Apa? Istri? Jangan buat aku tertawa ya. Hanya aku yang ingin diperistri oleh mas Yudha, mengerti kamu?!"
"Terserah!" Selfina mengibaskan tangannya di depan wajahnya kemudian membanting pintu dengan keras.
Bugh
Rea tersentak kaget. Ia benar-benar tak menyangka kalau perempuan berhijab ini sejenis perempuan kuat yang susah untuk dibabat.
Ia harus mencari cara untuk merusak hubungan mereka berdua. Rasanya ia sangat sayang pada unit apartemen ini kalau orang lain yang menikmatinya dan bukan dirinya.
"Buka pintunya brengsek!" teriak Rea lagi. Tangannya tak berhenti memukul daun pintu begitupun dengan kakinya yang ikut menendang.
"Cih! berteriaklah sampai puas. Aku tidak peduli!" ucap Selfina seraya meninggalkan tempat itu. Kupingnya bisa sakit mendengar seorang perempuan gila yang ingin mengganggu hubungannya dengan sang suami.
Ia pun melangkahkan kakinya ke arah bagian dalam apartemen. Akan tetapi tiba-tiba saja kata-kata perempuan bernama Rea itu berkelebat dalam kepalanya.
Ia memandangi keseluruhan ruangan karena terpengaruh dengan perkataan perempuan yang bernama Rea itu.
Apa benar semua furniture di dalam unit ini adalah pilihan perempuan itu?
"Awas saja kalau itu benar! Aku akan meminta untuk semuanya diganti!" ucap Selfina dengan perasaan kesal.
Perempuan itu pun segera menelpon Yudha untuk menanyakan hal ini akan tetapi nomor pria itu sedang sibuk dan sedang berada ldalam panggilan yang lain.
"Mas Yudha kemana sih?! Lagi menelpon siapa coba?!" ucapnya kesal.
Sementara itu, Yudha sedang sangat panik karena baru saja mendapatkan kabar dari seorang perempuan yang mengaku telah menemukan seorang pria bernama Yudhistira dalam keadaan gawat karena kecelakaan.
__ADS_1
"Terimakasih mbak atas infonya," ucap Yudha kemudian menutup panggilan video itu.
Ya, ia tidak bisa langsung percaya kepada si penelpon yang memberitakan tentang kecelakaan yang dialami oleh sang adik jika tidak melihatnya secara langsung. Saat ini, ada banyak modus yang sering kali dilakukan oleh beberapa oknum untuk menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan sendiri.
Pria itu pun melajukan mobilnya ke arah sebuah rumah sakit di kota itu.
Indy menjemputnya saat tiba di ruang IGD.
"Anda yang membawa adik saya ke sini?" tanya Yudha memastikan. Indy tersenyum kemudian mengangguk.
"Iya pak. Saya kebetulan adalah seorang psikiater di sini. Jadi saat melihat kejadian itu, saya langsung membawanya ke rumah sakit ini."
"Oh Alhamdulillah. Makasih banyak ya dokter. Tapi ngomong-ngomong bagaimana keadaannya?"
"Alhamdulillah, udah baik. Hanya luka kecil. Untuk pria pembalap seperti itu harusnya itu bukanlah luka yang serius sih."
"Oh jadi Yudhi sedang balapan dokter?"
"Boleh dikatakan seperti itu pak. Maksudnya, ia sedang balapan liar tapi tak punya lawan dan sengaja menabrak mobil saya yang sedang diam tak bersalah."
Yudha tak bisa menahan bibirnya untuk tertawa.
"Maafkan dia dokter. Anaknya sedang patah hati soalnya, hehehe," kekeh Yudha.
"Dan saya berharap dokter bisa mengobati patah hatinya. Ya, itung-itung berbuat baik pada pasien."
Indy mendengus tapi berusaha untuk tersenyum.
"Ongkos mobil saya di bengkel bagaimana?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Oh ya maaf. Kalau dokter tidak keberatan, akan saya bayar bersama dengan ongkos obat patah hati untuk adik saya. Bagaimana?" Yudha tersenyum memberikan penawaran.
Ia tahu kalau perempuan itu adalah seorang dokter spesialis yang menguasai ilmu kesehatan jiwa dan perilaku.
Psikiater menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan gangguan emosional, kejiwaan, dan perilaku pasien melalui konseling dan pengobatan. Dan ia yakin bisa menyembuhkan Yudhi dari penyakit autisme nya.
Indy tampak berpikir. Jiwa kemanusiaan dan profesinya sangat setuju dengan penawaran pria itu dan begitupun masalah ekonomi yang sedang melilit keluarganya.
Ini tidak salah, karena memang merupakan tugas utamanya menjadi seorang psikiater, tapi kalau menyembuhkan patah hati. Apa ia bisa?
Lama ia terdiam kemudian tersenyum, "Baiklah. Saya setuju pak."
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar dong 🤭