
Dewa menghentikan mobilnya di depan sebuah pub. Sebuah tempat hiburan malam dimana pria yang bernama Toby itu sering mangkal. Ia baru saja mendapatkan informasi kalau pria itu baru saja masuk ke tempat itu.
Pria itu turun dari mobilnya setelah melepaskan kopiahnya yang ternyata masih ikut di atas kepalanya. Setelah sholat magrib tadi ia langsung pergi karena mendengar informasi tentang Yundha.
Dan sekarang, ia pun baru menyadari kalau ia sedang memakai sarung.
Masuk pub dengan penampilan seperti ini apa tidak akan membuat sebagian orang mengatakan ini adalah pelecehan?
"Aaarg brengsek! Pria itu harus aku pancing untuk keluar!" ucapnya dengan tangan mengepal.
Antara mau masuk dan tidak, akhirnya ia menghubungi informannya agar memancing pria itu keluar.
Sembari menunggu entah kenapa ia jadi penasaran dengan pesan-pesan yang dikirim oleh Jessica.
Siapa tahu perempuan itu mempunyai informasi tentang Yundha, ucapnya membatin.
Jarinya pun bergerak membuka pesan suara dari perempuan itu. Tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah emosi.
"Sialan kamu Jess!" ucapnya seraya menggenggam erat handphonenya dengan sang kuat.
"Ternyata Yundha ada bersamamu brengsek! Dan apa katamu? Kamu memaksa istriku menyerahkan aku padamu? Jangan mimpi!"
"Meskipun Yundha berkata seperti itu aku tak akan pernah mau melepaskannya dariku. Dia adalah jodohku dan akan aku pertahankan sampai mati!"
Pria itu pun menyimpan handphonenya dan langsung melihat ke arah pintu pub yang terbuka. Pria yang bernama Toby pun keluar dari tempat itu.
Dan sayangnya setelah pria itu melihat Dewa, ia langsung lari terbirit-birit ke arah motornya yang sedang ia parkir tak jauh dari pria itu.
"Hey berhenti kamu!" teriak Dewa saat melihat pria itu lari. Ia memburunya dengan cepat. Meskipun pakai sarung ternyata kecepatan larinya tak bisa dianggap enteng.
"Bugh!" Satu pukulan mendarat pas pada wajah pria itu karena ia sibuk membunyikan motornya yang tidak bisa jalan.
"Aaargh!"
__ADS_1
"Bugh!"
Sekali lagi satu pukulan keras mengenai Hingga ia terjatuh bersama dengan motornya.
"Dimana istriku hah?!" teriak Dewa seraya menginjak tubuh pria itu dengan kakinya.
"Dia bersama dengan Jessica pak!" jawab pria itu dengan wajah bibir pecah mengeluarkan darah.
"Dimana?!"
"Di jalan Xxx. Gedung tua bioskop."
"Bugh!" Satu lagi pukulan mendarat pada wajah pria itu sebelum Dewa pergi.
"Bawa dia ke kantor polisi!" titahnya pada orang-orangnya yang sudah tiba di tempat itu. Sementara dirinya menuju ke sebuah alamat yang disebutkan oleh pria itu.
"Alamat itu 'kan dekat sekali dengan rumah mama Rania. Ngapain Jessica membawa Yundha ke sana," gumamnya seraya meningkatkan kecepatan mobilnya. Hatinya sudah sangat takut membayangkan perempuan itu akan menyakiti istrinya yang sedang hamil.
Dalam hati ia terus berdoa semoga Yundha tidak kenapa-napa.
Sepi dan juga gelap. Hanya cahaya bulan yang samar memberi penerangan pada gedung tua yang sudah lama tak digunakan itu.
Dan hatinya tiba-tiba mencelos karena ia melihat ada mobil polisi yang terparkir di depan gedung tua itu.
Tubuhnya sedikit gemetar. Ia sangat takut membayangkan ada berita buruk yang akan ia dapatkan tentang istrinya.
Langkahnya ia percepat dan begitu kagetnya ia karena dua orang polisi yang keluar dari tempat itu membawa tubuh Jessica yang dalam keadaan pingsan.
"Pak. Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanyanya bingung.
"Lalu, dimana istriku?"
"Kami tidak tahu. Tapi seseorang telah menelpon kami dan memberi tahu kalau ada kejahatan yang dilakukan di tempat ini. Dan setelah kami sampai di sini. Kami menemukan perempuan ini sendiri.
__ADS_1
"Oh ya Allah, lalu siapa yang telah membawa istriku. Kenapa ia tidak ada di tempat ini?" tanyanya dengan suara rendah bagaikan gumaman.
"Kami akan mencari tahu setelah perempuan ini sadar. Rupanya ia telah dipukul dengan sangat keras dibagian belakangnya. Jadi bapak bisa ikut ke kantor polisi jika ingin tahu informasi selengkapnya.
"Ah iya baiklah pak." Dewa setuju. Ia harus mendapatkan informasi dimana Yundha berada saat ini.
🌹
Beberapa jam yang lalu.
Jessica menyeringai dan menghampiri Yundha yang masih duduk di kursi pesakitan itu.
Perempuan itu ingin memberikan sebuah siksaan fisik dan mental untuk Yundha sampai ia benar-benar menghindar Dewa dan bahkan meniggalkannya.
"Aaaaargh!" teriaknya karena merasakan sakit yang luar biasa pada tengkuknya.
"Mama?!" Yundha ikut berteriak saat tubuh Jessica jatuh terkapar di lantai. Ia menatap seorang perempuan paruh baya yang berdiri dihadapannya dengan wajah kaget luar biasa.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya perempuan itu dengan wajah khawatir.
"Iya ma. Makasih banyak. Tapi kenapa bisa?" Yundha masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sudah, jangan banyak bicara dulu. Mama akan jelaskan nanti tapi kita harus segera pergi dari tempat ini. Mama udah nelpon polisi juga," ucap Rania seraya membantu sang menantu melepaskan ikatan tangannya.
"Ayok. Mobil mama ada di depan," ucap Rania seraya menggenggam tangan sang menantu dan membawanya ke arah mobilnya.
"Makasih banyak lho ma. Kalau gak ada mama, aku tak bisa bayangkan bagaimana perempuan gila itu akan melukaiku."
Rania hanya tersenyum kemudian melajukan mobilnya ke arah rumahnya yang tak jauh dari tempat itu. Diam-diam ia berniat akan membuat kejutan untuk Dewa.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
__ADS_1
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊