Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 275 Ciuman Di Bibir?


__ADS_3

Revalda langsung melompat dari tempat tidurnya saat menyadari kalau ia sudah kesiangan. Tak lagi mau memperhatikan penanda waktu di atas nakas samping tempat tidurnya, ia langsung berlari melempar selimut yang sejak tadi membungkus tubuhnya. Kamar mandi adalah tujuan utamanya saat ini.


Membuka pakaian yang menutupi tubuhnya ia pun membuka kran shower dan langsung membasahi rambutnya yang sepanjang bahunya dengan air dingin.


"Ya ampun. Hari ini aku ada tugas yang harus aku kumpulkan padahal aku belum mengerjakannya," ucapnya dengan perasaan yang sangat khawatir. Ia pun mandi kilat dan hanya menggunakan sabun seadanya dan segera keluar dari tempat itu setelah mengambil air wudhu.


Sholat subuh kesiangan ia lakukan kemudian segera berpakaian. Setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju ruang makan.


Semangkuk sereal ia habiskan dan langsung bersiap untuk berangkat ke kampus.


"Mau kemana Val?" tanya Selfina saat ia sudah berada di depan pintu rumah.


"Mau ke kampus ma," jawab gadis cantik itu seraya memperbaiki letak hijabnya yang nampak tak rapih.


"Tumben."


"Tumben kenapa ma?" tanya gadis itu penasaran. Ia pun segera memeriksa pakaian yang sedang dipakainya karena khawatir ia salah memakai kostum.


"Ini kan hari libur. Kamu memangnya tetap belajar kalau akhir pekan?"


Untuk beberapa detik gadis itu terlongo tak percaya kemudian memukul jidatnya terus tertawa terpingkal-pingkal.


"Ya ampun. Aku kok sampai linglung begini ma. Aku kira hari ini hari senin hahahaha!"


"Apa karena acara jumpa-jumpa dengan pria yang mengambil handphone kamu semalam ya?" goda Selfina.


"Ish apaan ma. Aku tuh jengkel bin kesal sama tuh orang." Revalda akhirnya mendudukkan dirinya di sofa. Ia ingin menceritakan semua kejadian semalam dengan posisi yang nyaman.


"Kenapa?" tanya Selfina ikut duduk. Bibirnya tersenyum samar menunggu sang putri menjelaskan apa yang terjadi pada malam sebelumnya.


"Tahu gak ma, kalau yang ambil handphone aku itu adalah Pak Doktor David, dosen aku sendiri!" ucap Revalda dengan bola mata membulat. Nampak sekali kalau ia sangat tidak percaya dengan kenyataan itu dan ingin membuat sang mama juga tak percaya.


"Oh ya?" Selfina tampak sangat tertarik. Ia pun menatap sang putri dengan ekspresi yang sangat bersemangat.


"Trus handphone kamu sudah dikembalikan dong?" tanya perempuan cantik itu dengan sangat penasaran.


"Gak ma. Orangnya gak mau ngembaliin ke aku. Ya ampun, bikin kesal banget," jawab Revalda dengan tangan mengepal.


"Kenapa bisa sih? Padahal kamu 'kan sudah mengikuti semua keinginannya." Selfina semakin penasaran saja dengan apa yang dilakukan oleh calon menantunya itu.


"Pokoknya mama gak akan percaya deh sama apa yang diminta oleh dosen itu ma."


"Minta apa memangnya?" tanya perempuan itu semakin penasaran.

__ADS_1


"Dia minta aku jadi istrinya ma. Yang benar saja coba. Aku 'kan udah punya tunangan dan sebentar lagi nikah. Sungguh, orang itu bikin aku kesal se kesalnya!" Revalda nampak sangat marah.


"Dosen kamu itu sudah tua belum? Kok sampai cari calon istri sampai bikin perangkap kayak gitu. Kayak gak laku saja."


Selfina ingin sekali tertawa tapi berusaha ia tahan.


"Belum ma. Pak David itu seorang doktor tapi doktor termuda di kampus. Usianya saja belum cukup 30 tahun. Tapi kok gak punya calon istri sendiri ya?"


"Oh kok bisa ya?" ucap Selfina lagi dengan bibir berkedut ingin tertawa.


Jadi pria itu tidak memperkenalkan identitas aslinya pada Revalda? tanyanya dalam hati.


"Iya ma. Heran banget deh." Selfina jadi ikut berpikir.


"Trus kamu bilang apa sayang?"


"Ya tentu aja aku tolak ma."


"Kenapa?"


"Ya, karena aku gak mau membuat masalah yang akan membuat keluarga kita jadi malu ma. Mama dan papa 'kan udah nerima lamaran om Praja," jawab Revalda dengan wajah serius.


"Trus kamu gak menyesal menolak dosen kamu itu?" tanya Selfina bermaksud menguji. Perasaannya saat ini sangat senang. Sungguh, ia sangat bangga dengan keputusan putrinya yang mau menolak seorang dosen seperti David Praja Wijaya. Pria tampan, mapan, dan juga cerdas.


Oh, tidak!


Revalda menggelengkan kepalanya berusaha membuang pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba saja berseliweran di dalam kepalanya.


Dan ciuman pria itu pada pipinya semalam membuat dadanya tiba-tiba berdebar sangat kencang.


Masih sangat terasa.


Ya Allah, ada apa ini? Kenapa aku jadi seperti ini? ucapnya dalam hati.


"Val? Apakah kamu menyesal menolak dosen kamu itu sayang?" tanya Selfina lagi mengulangi pertanyaannya.


"Ah iya ma eh tidak kok. Aku tidak apa-apa. Calon suami yang mama papa pilih itu pastilah yang terbaik," jawab Revalda berusaha untuk tersenyum diantara perasaan gundah yang sudah mulai ia rasakan.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Mama sangat senang mendengarnya."


"Iya ma."


"Baguslah. Sekarang kamu tinggal di rumah saja ya. Mama sama papa mau keluar. Ada acara perusahaan yang harus kami berdua hadiri."

__ADS_1


"Iya ma. Aku juga mau ke kamar saja. Aku mau ngerjain tugas-tugas yang belum selesai."


"Hum, ya. Mama panggil papa dulu, kayaknya masih sibuk main tenis sama Fariz."


"Iyaa ma."


Dua orang perempuan itu pun berpisah, Revalda kembali ke kamarnya sedangkan Selfina menuju lapangan samping rumah. Di sana, suaminya sejak tadi pagi sudah bermain tenis dengan putra keduanya.


Revalda membuka sepatunya dan menyimpan perlengkapan belajar yang sempat ia bawa tadi. Hijabnya ia buka karena rambutnya masih basah.


Hairdryer ia ambil kemudian mengeringkan rambutnya. Setelah itu ia duduk di depan meja belajarnya dan membuka laptopnya.


Kotak masuk email nya ia buka untuk membuka tugas-tugas yang dikirimkan oleh beberapa dosen. Tarikan nafas berat ia lakukan untuk melapangkan dadanya yang tiba-tiba kesal karena handphonenya tak ada di tangannya.


Kesal, ia sangat kesal karena ia jadi tidak bisa berkomunikasi dengan bebas bersama dengan teman-temannya.


"Brengsek banget tuh pak doktor. Gak punya kerjaan atau apa?!" gumamnya emosi.


"Kayak gak punya kerjaan aja. Ish!"


"Kalau kayak gini gimana coba? Aku 'kan bisa tahu perkembangan grup teman-teman."


Revalda terus saja mengomel sembari mengerjakan tugasnya. Sampai sebuah email dari pria itu tiba-tiba saja masuk.


[Hai, kamu pasti lagi mengumpat aku ya?]


Revalda mencibir kemudian membalas surat elektronik yang sangat singkat itu.


[Kok tau sih pak? Bapak cenayang ya?]


David langsung tertawa terbahak-bahak membaca balasan gadis itu. Setelah cukup puas tertawa, ia pun mengirimkan lagi satu pertanyaan yang langsung membuat Revalda kebakaran jenggot.


[Kamu pasti masih ingat rasa ciuman aku ya? Itu baru di pipi lhoo. Kalau dibibir gimana ya?]


Revalda langsung membalas email pria itu dengan emoticon sepanjang satu halaman.


[😳😳😳😳😳😳 😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡]


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


__ADS_2