
Dada Yundha naik turun karena emosi. Pria itu benar-benar sudah mengacak-acak kesabarannya.
Huffft
Tenang ...
Pria itu sengaja ingin membuatmu kesal Yundha. Jadi jangan terpengaruh. Ikuti saja drama ini setelah itu balas dia dengan sangat elegan.
Gadis itu berusaha menenangkan dirinya sendiri setelah ingat kalau saat ini ia sedang berpuasa atas rasa syukurnya.
"Kamu punya calon suami ganteng maksimal gitu kok gak bilang-bilang sih. Takut kami rebut ya Nda?" tanya Sindy dengan gayanya yang centil.
Yundha hanya tersenyum tipis. Ia benar-benar harus tenang agar semua rahasianya dengan pria bajingan itu tidak terbongkar.
"Iya, aku takut," jawabnya santai.
"Kamu kan udah punya suami Sin. Emangnya kamu mau ada pertumpahan darah disini?" timpal Gisel melotot.
"Ah iya ya, aku lupa. Habisnya kak Dewa itu ya ampun gagah banget. Ngalahin kak Yudha deh. Tapi tidak. Kak Yudha punya pesona sendiri dan Kak Dewa uggghh pastinya lebih hot!"
Gisel dan Gadis mendengus. Sindy memang paling suka ngomongin cowok jika mereka semua sedang ngumpul-ngumpul padahal ia sudah jadi seorang pria dewasa.
"Dih, semua laki kamu pikirin. Kamu gak malu apa? Baru aja bilang positif udah membayangkan pria-pria tampan lainnya." Gisel masih berusaha untuk memojokkan Sindy yang merupakan pengantin baru.
"Ih positifnya masih meragukan tahu gak? Belum bergaris dua meskipun udah hampir sih," ucap Sindy seraya membuka tasnya dan memperlihatkan sebuah alat penguji kehamilan.
Semua temannya ikut berkerumun dan melihat benda yang ada di tangan Sindy tak terkecuali Yundha.
"Kalian bisa lihat sendiri 'kan? Tanda merahnya belum full. jadi masih sangat meragukan dan bisa saja berubah negatif hahaha." Sindy berucap kemudian tertawa garing.
"Huhh dasar! Mana lah ada kejadian seperti itu kecuali kalau keguguran!"
"Eh kakak aku pernah lho kayak gitu dan ternyata ia positif. Kata bidan, itu sudah positif sebenarnya cuma karena kehamilannya masih terlalu muda jadinya seperti itu bentuknya. Nanti kalau udah berada di atas berapa minggu gitu maka garisnya akan tegas."
Gadis menjelaskan semua itu seperti seseorang yang sudah sangat berpengalaman.
"Benarkah?" tanya Sindy masih belum percaya dengan yang ia dengar.
"Kok kamu tahu sih?" tanyanya lagi. Semua langsung menatap Gadis dengan tatapan curiga.
"Hey, jangan memandangku seperti itu dong. Aku masih perawan ting-ting lho," ucap Gadis seraya tersenyum lebar dan memperlihatkan giginya yang rapih.
"Waktu itu aku yang nemenin kakak periksa di puskesmas dan karena petugas laboratoriumnya gak ada jadilah kak Gea diberikan alat tespeck seperti itu oleh bidannya. Dan ternyata bentuknya seperti itu."
"Trus?" tanya mereka semua kompak.
"Trus bidannya menjelaskan seperti itu. Dan ya, coba cek saja di klinik atau USG, pasti deh kamu positif Sin."
"Wah aku alhamdulillah dong. Suamiku udah gak sabar pengen punya bayi. Maklumlah ia sudah terlalu dewasa. Katanya nanti dipanggil Kakek sama anaknya kalau aku lambat hamil, hehehe." Sindy terkekeh dan berhasil memancing tawa semua temannya kecuali Yundha.
__ADS_1
Gadis itu hanya terpaku. Ia merasakan dadanya berdebar sangat kencang. Rasanya bentuk tespeck itu sama dengan yang ia punya kemarin.
"Hey! Dosennya udah datang. Bubar dan kembali ke tempat masing-masing!" teriak Yono sang ketua tingkat.
Pembicaraan mereka semua terhenti. Mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing. Semangat Yundha langsung goyah. Ia jadi sangat takut dan khawatir. Hingga sepanjang perkuliahan itu ia lalui dengan diam dan gelisah.
Sungguh, ia ingin mencari tempat untuk bersembunyi. Ia takut kalau ia benar-benar hamil.
Apa kata semua orang tentangnya. Dan bagaimana dengan kehormatan keluarganya?
Oh tidak!
Apa aku gugurkan saja sebelum berhasil menjadi janin?
Ah ya. Akan aku coba. Ini masih terlalu muda. Hanya segumpal darah yang belum bernyawa.
Maafkan aku kalau ini benar-benar terjadi. Aku tidak akan sanggup menghadapi dunia dan juga pria brengsek itu.
Gadis itu membatin seraya mengelus perutnya yang masih sangat rata.
Apa aku akan berdosa ya Allah?
Bukankah ini belum jadi janin?
"Hey! Semua orang sudah pulang. Kamu kok bengong aja sih?" tanya Gadis seraya menepuk bahu Yundha.
"Mau numpang gak?" tanya Yundha pada temannya itu. Gadis menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum kemudian menjawab.
"Aku bawa motor sendiri. Alhamdulillah kakak aku baru membelikannya untukku," jawab Gadis dengan seulas senyum diwajahnya yang manis.
"Baiklah, kita keluar sama-sama. Kamu parkir motornya di mana?"
"Di parkiran biasa. Ayok."
Dua orang itu pun berjalan ke arah parkiran tanpa bicara. Yundha masih kepikiran untuk menggugurkan kandungannya sedangkan Gadis memikirkan tentang hal lain yang berhubungan dengan urusan perkuliahan.
Setelah sama-sama sampai di tempat parkir. Mereka pun saling berpamitan.
"Bye!"
Keduanya saling melambaikan tangan dan segera menaiki kendaraan masing-masing.
Yundha belum melajukan mobilnya karena sibuk mencari informasi di laman internet bagaimana cara menggugurkan kandungan.
"Makan buah nanas, kepiting, dan juga alkohol," gumamnya setelah membaca sebuah tautan sesuai dengan judul yang ia ketik.
Yundha mengelus kembali perutnya yang masih rata. Ia berusaha meyakinkan dirinya untuk menggugurkan anak yang tidak diharapkannya itu.
"Astaghfirullah, aku sedang berpuasa. Apa mungkin aku bisa berniat melakukan sebuah dosa besar di saat seperti ini." Yundha merasakan dadanya sesak. Hatinya bergetar sedih.
__ADS_1
Ia menangis seraya meletakkan kepalanya pada stang kemudi.
"Kenapa aku Engkau berikan cobaan seberat ini ya Allah," ucapnya dengan tangis sesenggukan.
Lama ia berada pada posisi itu seraya mengingat semua kesalahan yang mungkin telah ia perbuat selama ini sampai mendapatkan cobaan yang sangat berat dan tak sanggup ia tanggung.
Tok
Tok
Tok
Yundha mengangkat kepalanya saat mendengar ketukan pada kaca mobilnya. Ia segera menyusul air matanya kemudian membuka kaca mobilnya.
"Kak Aril? Kamu disini?" ucapnya dengan wajah kaget.
"Kamu kok belum pulang?" jawab pria itu balas bertanya.
"Ini juga udah mau pulang. Tadi lagi gak enak badan aja sih."
"Ya ampun. Kamu sakit? Kamu geser duduknya aku yang nyetir." Aril langsung panik. Yundha pun melakukan apa yang dikatakan oleh pria itu agar Aril bisa masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau sakit kenapa maksain diri ke kampus?" ucap pria itu seraya melajukan mobil gadis itu.
"Kak Aril kok ada disini?"
"Kebetulan lewat jadi aku mampir. Aku lihat mobil kamu jadi ya, aku kesini deh. Mau aku bawa kamu ke rumah sakit?"
Yundha menggelengkan kepalanya dengan dada sesak. Ia takut berhubungan dengan rumah sakit atau semua orang akan tahu keadaannya saat ini.
"Aku rindu padamu Yundha."
Deg
Yundha merasakan dadanya semakin sesak mendengar kata-kata pria itu. Ia sedih dan semakin menyesali keadaannya yang tak suci lagi.
"Apakah hanya aku yang merasakan perasaan ini?" Aril memandang wajah gadis cantik disampingnya yang tampak semakin cantik saja.
Yundha menundukkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat benci keadaan ini.
Dan, orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya adalah si brengsek Dewa.
🌹🌹🌹
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading 😊
__ADS_1