Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 175 Sakit Hati


__ADS_3

Setelah pulang dari kampus, Yundha tidak langsung ke Cafetaria milik sang kakak. Ia ada tugas dari seorang dosen untuk mencari sebuah buku. Untuk itu ia mengarahkan mobilnya ke Gramedia untuk mencari buku yang disebutkan oleh dosen tersebut.


Aaaa, cukup lama juga aku baru menginjakkan kaki di tempat ini. Terakhir waktu mas Dewa membawaku pergi dari tempat ini layaknya karung beras.


Yundha membatin dengan bibir berkedut. Entahlah, tapi ia sangat rindu dengan perlakuan ekstrim suaminya yang sangat mesum itu.


Kembali ia menggelengkan kepalanya pelan berusaha untuk mengusir bayang-bayang pria itu dari kepalanya.


Aaaaa kesal!


Kenapa aku sangat merindukannya sih?!


"Apa aku chat aja dan minta maaf? Oh tidak kenapa aku jadi malu begini?" ucapnya dengan dada berdebar.


"Ah, bentar malam aja. Aku akan meminta maaf dengan manis," gumamnya dengan senyum malu-malu diwajahnya. Otaknya pun sudah mulai berkelana memikirkan benda apa yang akan dibelinya di mall ini untuk menunjukkan kalau ia ingin meminta maaf.


Setelah memarkirkan mobilnya di pusat perbelanjaan terbesar di kotanya itu, ia pun melangkahkan kakinya dengan sangat ringan ke bagian dalam mall itu. Ia langsung menggunakan tangga eskalator agar ia cepat sampai.


Buku ekonomi Islam karya Dr. Rozalinda, M.Ag itu dengan cepat ia dapatkan. Satu buku lain yang berisi sebuah ungkapan rindu pada kekasihnya juga ia beli untuk ia berikan nanti pada Dewa.


Setelah itu ia menuju kasir karena tak ingin berlama-lama di tempat yang penuh dengan buku-buku itu. Perutnya tiba-tiba terasa sangat lapar meskipun ia sudah banyak memakan cemilan di kampus tadi.


"Makasih banyak mbak," ucapnya pada sang kasir kemudian segera keluar dan menuju ke sebuah restoran cepat saji. Untuk mengganjal perutnya yang sedikit-sedikit lapar itu apapun ia akan makan.


"Hey mau kemana Nda?" tanya seseorang yang tiba-tiba mencegatnya di depan Gramedia.


"Kak Aril?" Yundha tampak kaget karena bisa bertemu lagi dengan pria yang pernah menyatakan perasaannya padanya itu. Ia tersenyum.


"Kok kita selalu bertemu ya? Apakah mungkin kita berjodoh?" canda pria itu kemudian tertawa lucu.


"Ya. Itu betul sekali kak. Semua orang yang kita temui di tempat ini pasti adalah jodoh kita hehehe." Yundha menjawab seraya terkekeh.


"Mau aku traktir makan?" tanya Aril dengan seulas senyum diwajahnya. Yundha langsung mengangguk. Ia memang sangat lapar saat ini.


Mereka pun berjalan ke arah tempat makan sembari berbincang-bincang.


"Kakak lagi nyari apa di sini? Buku ya?" tanya Yundha.

__ADS_1


"Iya. Aku baru mau lihat-lihat sih. Bosan tinggal di rumah sendiri jadi setiap habis kerja aku pasti ke Gramedia."


"Gitu ya kalau orang cerdas, kerjaannya baca mulu."


"Ah gak juga sih. Aku saja sampai sekarang masih belum bisa membaca pikiran kamu dan juga masa depan aku."


"Ih apaan sih. Gak lucu banget," ucap Yundha dengan senyum samar di bibirnya.


"Terakhir kita ketemu waktu di mall ini. Kamu sehat Nda?"


"Alhamdulillah sehat kak. Sekarang jadi sering-sering lapar hehehe."


"Tapi kamu gak gemuk lho, masih sama seperti yang dulu. Malah sekarang tambah cantik."


"Eh, kak Aril sejak kapan pintar gombal seperti ini? Sama istri orang lagi," ucap Yundha tersenyum. Entah kenapa ia sudah tidak merasakan apapun meskipun pria itu memberinya kata-kata manis. Otaknya hanya mengingat Dewa seorang.


"Ah iya lupa. Maaf ya." Aril tersenyum meringis. Langkahnya berhenti pada di depan pintu restoran cepat saji itu.


"Makan di sini saja ya," ucap pria itu seraya melangkahkan kakinya ke dalam restoran cepat saji yang paling dekat yang bisa mereka datangi.


Yundha pun duduk seraya bermain dengan handphonenya. Ia menunggu dengan rasa lapar yang sudah sangat menggangu kenyamanannya. Ingin sekali ia memberi kabar pada Dewa kalau ia sedang berada di sebuah mall tapi rasa gengsinya masih sangat menumpuk.


Tak lama kemudian, Aril pun datang dengan membawa dua buah baki di tangannya.


"Makasih kak. Aku cuci tangan dulu ya," ucap perempuan itu seraya menuju ke wastafel. Ia lebih suka makan dengan menggunakan tangan daripada sendok maupun garpu.


Setelah mencuci tangan ia pun langsung melahap ayam gorengnya dengan sangat nikmat. Aril sampai heran melihat perempuan itu. Ia yakin kalau Yundha benar-benar sedang ada orok di dalam kandungannya.


"Lapar banget ya?"


"Iya kak. Aku suka kayak gini. Untungnya mas Dewa selalu gercep kalau soal keinginanku ini."


"Oh." Aril merasa cemburu. Ia pun ikut makan dan tak ingin bertanya-tanya lagi. Ia takut perempuan itu malah memuji-muji suaminya di depan matanya.


Yundha juga diam sembari menikmati makanan dihadapannya sampai matanya tiba-tiba mendapati suaminya sedang memasuki tempat itu juga dengan beberapa gadis muda seumuran dengannya.


Belum lagi sosok Jessica ternyata berada tak jauh dari posisi pria itu.

__ADS_1


Nafsu makannya langsung hilang. Tebakannya bahwa pria itu samasekali tidak menyayanginya kini semakin nyata saja.


"Pantas saja ia selalu mengabaikan aku. Ternyata dia lagi sibuk dengan seseorang di sini," ucapnya pelan bagaikan gumaman. Hatinya sangat sakit.


"Kamu ngomong sesuatu Nda?" tanya Aril dengan wajah penasaran.


"Ah tidak kak. Aku baru ingat kalau aku harus segera pulang. Aku duluan ya," ucapnya pada Aril dengan wajah tak nyaman. Ia ingin langsung pulang saja dan meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.


"Tunggu dulu dong. Aku juga ingin pulang kok," ucap Aril dan meninggalkan mejanya juga. Ia langsung mengikuti langkah Yundha ke arah pintu. Dan tak disangka, mereka berdua malah bertemu dengan Dewa dan gadis itu.


Yundha menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca sedangkan Dewa tidak mengucapkan satu katapun. Ia nampak sangat santai dan tidak menunjukkan wajah marah atau cemburu seperti biasa.


Dengan dada sesak, ia pun keluar dari tempat itu dengan langkah terburu-buru. Air matanya hampir tumpah dan tak ingin ada seorang pun melihatnya apalagi pria brengsek itu.


Rasanya akhir-akhir ini moodnya begitu buruk. Dan ia sangat ingin pulang ke rumahnya saja dan mengurung diri di dalam kamar.


Mas Dewa tak marah dan cemburu melihat aku bersama dengan Kak Aril.


Dia benar-benar telah hilang rasa padaku.


Kata-kata itu terngiang-ngiang terus di kepalanya.


"Nda!" teriak Aril memburunya dari arah belakang.


Dewa yang melihat pemandangan itu mengepalkan tangannya di sisi kiri kanan tubuhnya.


"Apa kita akan melanjutkan pembicaraan kita pak?"


"Tidak!" jawabnya dengan aura membunuh.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊.

__ADS_1


__ADS_2