
Pagi pun datang. Yundha terbangun dengan suasana hati yang masih sangat buruk. Tubuhnya terasa sangat pegal padahal ia tidak melakukan hal berat sepanjang malam.
Semalaman ia hanya menangis dalam diam. Menangisi nasib pernikahannya yang tak baik-baik saja seperti yang ia inginkan selama ini.
Dan jangan tanya apa yang dilakukan oleh Dewa. Pria itu sama sekali tidak peduli padanya. Ia malah tidur dengan sangat nyaman di atas sofanya tanpa mau mengajaknya untuk bicara apalagi berdebat.
Huffft
Yundha pun membuka selimut yang membungkus tubuhnya setelah nyawanya ia rasakan sudah terkumpul dengan baik. Setelah itu ia turun dari ranjangnya dan melihat ke arah Sofa dimana suaminya salama ini tidur. Tempat itu sudah bersih dan rapih.
Kemana dia? Padahal ini baru pukul 6 pagi. Apakah sudah berangkat kerja?
Ia membatin dengan tatapan tak lepas dari jam dinding di dalam kamarnya itu.
Ah, peduli amat. Dia saja tak lagi peduli padaku.
Ia pun merapikan rambutnya dan mengikatnya ke atas tinggi-tinggi. Setelah itu memperbaiki piyamanya yang baru ia sadari terbuka semua kancing bagian depannya hingga dua miliknya yang nampak bertambah ukuran itu langsung nampak semuanya.
"Astaghfirullah." Cepat-cepat ia menutupnya seakan-akan ada yang akan melihatnya dalam keadaan seorang itu. Ia nampak sangat heran karena kejadian ini. Apalagi ia memang tidak pernah menggunakan bra setiap ia tidur.
"Hey, apa yang aku lakukan pada pakaianku?" ucapnya pelan dengan dahi mengernyit.
"Apa aku segitu butuh belaiannya sampai aku melakukannya sendiri dengan tanganku?" tanyanya lagi dengan perasaan yang sangat bingung.
"Mas Dewa tidak mungkin melakukannya. Ia tidak pernah mau menyentuhku lagi bahkan dalam keadaan yang sangat terbuka sekalipun."
__ADS_1
"Aku tak menarik dimatanya padahal dulu ia sangat ingin menyentuhku, hiks." Yundha tergugu dengan dada yang sangat sesak. Airmatanya kembali menetes.
"Ia kembali pada Jessica dan sekarang mereka mungkin sedang bertemu," ucapnya lagi dengan perasaan yang sangat sakit.
"Aku benci padamu Sadewa. Kamu telah mempermainkan perasaanku!"
"Aaaa kesal!" Perempuan itu menghentakkan kakinya dan segera ke kamar mandi untuk mandi seperti kebiasaannya setiap bangun tidur.
"Aaaaa!" Teriaknya dengan suara yang cukup nyaring tapi tak ada yang bisa mendengarnya selain dirinya sendiri.
"Apa di kamar ini benar-benar ada vampirnya?" tanyanya dengan tenggorokan tercekat saat melihat bagian dada dan lehernya kembali banjir dengan totol-totol merah keunguan. Di depan kaca di dalam kamar mandi itu ia melihatnya lagi dan lagi.
Hampir sebulan ia mendapati hal ini setiap ia bangun tidur hingga kulitnya jadi tidak mulus lagi. Dan itu terjadi sejak ia menikah dengan Dewa.
"Hey tunggu! Apa jangan-jangan?" Tiba-tiba saja ia merasa sangat curiga dengan pria mesum itu.
"Tapi kalau bukan? Lalu siapa? Apakah memang makhluk halus?" Yundha langsung bergidik ngeri. Bulu kuduknya merinding. Ia pernah membaca sebuah cerita horor dimana ada makhluk halus yang sering menyentuh dan bahkan menyetubuhi seseorang di dunia nyata.
Ia pun segera menyelesaikan mandinya dan mengambil air wudhu untuk bersiap melaksanakan sholat subuh yang sangat kesiangan.
Lama ia duduk di atas sajadahnya merenungi nasib pernikahannya. Ia berdoa semoga ia bisa melewati semua ini. Dan tentang makhluk yang suka menggangunya di saat ia tertidur, ia berharap diberikan petunjuk oleh Tuhan.
"Apa karena aku banyak kesalahan sama mas Dewa ya sampai aku diberikan cobaan seperti ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Tapi 'kan mas Dewa juga salah. Oh Ya Allah." Sudut hatinya yang lain kembali membisikkan kata-kata jahat.
__ADS_1
"Ah ya, Mama mungkin benar. Aku mungkin harus meminta maaf terlebih dahulu padanya agar hubungan kami lebih baik." Sisi baik yang lainnya ikut memberikan masukan.
Ia pun berdiri dari duduknya dan segera berpakaian. Dan sebelum ia keluar dari kamarnya ia melihat ke arah sofa kembali. Bayangan pria itu tidur di sana setiap malam kini terasa sangat nyata.
"Mas, kenapa aku sangat merindukanmu ya? Apa kamu juga?" ucapnya pelan dengan dada berdesir. Bibirnya berkedut ingin tersenyum tapi tiba-tiba ia berubah gregetan lagi.
"Aaa kesalnya! Kenapa harus aku yang mengatakannya lebih dulu sih!"
Yundha langsung merasa menyesal dengan ucapannya. Ia merasa gengsi jika ia mengakuinya.
Segera ia pergi dari tempat itu karena masih harus sarapan sebelum berangkat ke kampus.
"Mas Yudha pergi bersama dengan mas Dewa Nda, pagi-pagi sekali," ucap Selfina melaporkan, saat ia mendudukkan dirinya di depan meja makan.
"Kamu masih tidur katanya jadi gak pamit. Aku yang diminta untuk mengatakannya padamu," lanjut perempuan itu dengan senyum diwajahnya.
"Iya mbak makasih banyak," ucap Yundha lirih dan melanjutkan sarapannya.
Apa kamu tidak bisa membangunkan aku mas? Atau apa susahnya menulis pesan seperti orang kebanyakan?
Kamu lebih memilih menitip pesan pada mbak Sel.
Aku jadi merasa seperti orang asing bagimu.
🌹🌹🌹
__ADS_1
*Bersambung.
Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?