Ketika Aku Menyerah

Ketika Aku Menyerah
Bab 264 Harus Menikah


__ADS_3

"Lho kenapa ma?" tanya David bingung. Ardina semakin gregetan dibuatnya.


"Kamu gak merasa ya kalau kamu sudah melakukan kesalahan?" tanya Ardina masih dengan kedua tanduk di kepalanya.


"Gak ma," jawab pria itu dengan tampang tak berdosa sedikitpun. Di depan mamanya ia bahkan mengambil segitiga pengaman Revalda kemudian melipatnya dengan rapi.


"Ya ampun David! Panty yang ada di tangan kamu itu belum kamu lihat dan sentuh isinya bukan?" tanya Ardina lagi dengan ekspresi yang sama.


David langsung terlongo. Untuk beberapa detik ia sempat bingung tapi kemudian ia mulai paham dengan kemarahan sang mama.


"Gak lah ma. Orangnya lagi Haid. Sedang banjir katanya."


"David!!!!" Ardina kembali berteriak histeris sampai Praja langsung datang takut istrinya sedang darah tinggi. Pria itu pun mengajak anak dan istrinya untuk duduk dan bicara baik-baik.


"Apa kita sebaiknya sholat magrib dulu pa ma?" ucap David memberi saran.


Ia yakin ada hal penting yang akan dibicarakan oleh kedua orangtuanya itu dan membutuhkan waktu yang tenang tanpa diburu waktu sholat yang sedang mepet.


"Ah iya baiklah. Kita sholat berjamaah saja. Kami tunggu kamu di ruangan baca," ucap Praja dan langsung membawa istrinya ke tempat itu terlebih dahulu.


David pun kembali ke kamarnya tanpa lupa membawa panty Revalda. Ia masuk ke kamar mandi untuk mandi kemudian keluar lagi setelah selesai berwudhu'.


Sholat magrib pun mereka laksanakan secara berjamaah setelah itu mereka saling berhadapan untuk saling mengobrol untuk membicarakan pemilik pakaian dalam itu dan apa hubungannya dengan David.


"David, kami tahu kalau kamu sudah dewasa nak. Dan kami juga yakin kamu pasti tahu mana yang benar dan yang salah untuk dilakukan," ucap Praja memulai pembicaraan mereka.


"Iya pa."


"Kami menemukan pakaian pribadi dari seorang perempuan di dalam kamar mandi kamu dan otomatis menggiring kepala kami untuk memikirkan hal yang tidak-tidak."


David tersenyum samar. Ia sudah paham dengan kemarahan mamanya tadi.


"Coba jelaskan pada kami siapa pemilik pakaian dalam itu dan kenapa bisa berada di dalam unit ini?" tanya Praja hati-hati.


"Itu milik mahasiswi aku pa. Kebetulan dia berkunjung kesini karena sesuatu hal dan ia mengaku sedang datang bulan. Aku yakin ia mencucinya di tempat ini dan lupa membawanya pulang."


"Oh gitu?" ucap Ardina dengan wajah yang tidak percaya.


"Iya ma."


"Kalian tidak melakukan sesuatu yang lain bukan?" tanya perempuan itu lagi dengan tatapan menelisik.


"Maunya sih ma tapi sayangnya gak bisa."


Plak!


"Aaaaw. Bercanda ma, hehehe," kekeh David saat Ardina memukul bahunya.


"Jangan macam-macam kamu ya. Kalau udah gak sabar sebaiknya kamu menikah saja nak," ucap perempuan itu seraya menatap sang putra yang sedang menundukkan wajahnya.


"Iya. Papa juga setuju. Kamu lebih baik menikah untuk menjaga diri dan hatimu," ucap Praja menimpali.

__ADS_1


"Iya ma. Insyaallah akan aku pikirkan itu," ucap David seraya membayangkan wajah Revalda yang sangat cantik. Dadanya tiba-tiba saja berdebar sangat kencang.


"Jangan terlalu lama dipikirkan. Mama udah punya jodoh untuk kamu. Jadi kamu bisa langsung menikah tanpa harus memikirkan hal-hal lainnya."


"Apa ma?" tanya David dengan ekspresi kagetnya.


"Iyaa. Mama udah carikan kamu jodoh. Supaya kamu gak perlu repot lagi mencari calon istri. Jadi kamu bisa konsentrasi kerja saja," ucap Ardina tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan pemilik pakaian dalam itu ma? Aku ingin dia yang akan menjadi istriku."


"Lho, katanya kamu gak ada hubungan apa-apa dengannya. Cuma mahasiswi saja." Ardina menatap tajam sang putra dengan perasaan tak enak.


"Iya ma. Dia hanya seorang mahasiswi aku tapi sayangnya dia spesial dan aku sangat suka padanya," jawab David dan langsung membuat Ardina dan Praja saling bertatapan.


Wajah Ardina tampak sangat kecewa dan tanpa berkata-kata lagi langsung meninggalkan ruangan itu.Ternyata ia benar-benar sakit hati karena sang putra menolak keinginannya.


"Sepertinya mama kamu kecewa David. Jadi kalau kamu belum pernah melakukan sesuatu pada gadis pemilik pakaian dalam itu, sebaiknya kamu ikuti saja kemauan mama kamu," ucap Praja seraya menyusul istrinya yang sudah berada di luar ruangan itu.


David menghela nafasnya berat. Ia juga merasa kecewa tapi ia tak mungkin membantah keinginan kedua orangtuanya itu. Pria itu pun memasuki kamarnya dan tak sadar melihat pakaian dalam Revalda yang ia simpan di atas ranjangnya.


"Apa Iyya cintaku yang baru tumbuh ini harus mati?" ucapnya dengan persamaan campur aduk.


"Aaargh sial! Harusnya aku tidak jatuh cinta padanya!" geramnya kesal. Wajah Revalda dan tubuh indah gadis itu kini muncul lagi di kepalanya dan menggangu perasaannya.


Sementara itu, di tempat yang cukup jauh dari apartemennya.


"Val, apa tante bisa masuk sayang?" tanya Yundha meminta izin. Gadis yang baru selesai mandi itu tersenyum.


"Umm, gimana kegiatan kamu hari ini sayang?" tanya Yundha berbasa-basi.


"Alhamdulillah baik tante. Semuanya berjalan dengan lancar." Revalda menjawab dengan senyum cerah diwajahnya yang cantik.


"Oh gitu ya?" ucap Yundha tersenyum. Setelah itu ia terdiam. Ia sungguh ingin memberikan nasehat untuk sang ponakan tapi takutnya anak itu jadi tersinggung. Lama ia menimbang-nimbang lalu kemudian berucap, "Kamu kemana aja sore ini sayang?"


"Aku ke sirkuit tante. Ada yang ngajak aku jadi joki," jawab Revalda seraya meremas jari-jarinya tak nyaman. Ia tahu kalau semua keluarganya melarangnya mengikuti kegiatan seperti itu.


"Tante mau ngomong sesuatu nih sayang. Tapi kamu jangan tersinggung ya," ucap Yundha hati-hati.


"Iya tante, ngomong aja."


"Ada yang ngirimin Tante foto kamu lagi bersama cowok di tempat itu. Dan ya, cowok itu juga yang ia lihat bersama kamu beberapa hari yang lalu sayang. Apakah kalian ada hubungan khusus?"


Revalda menatap wajah Yundha dengan wajah kaget.


"Maaf Tante. Bisa aku lihat fotonya gak?"


Yundha menghela nafasnya kemudian memperlihatkan foto-foto gadis itu dari dalam handphonenya. Revalda tampak sangat kaget dengan apa yang ia lihat. Semua gambar itu menyudutkan dirinya. Gambar-gambar itu menunjukkan dirinya yang sedang memeluk David di atas motor dalam beberapa kutipan.


Tak banyak yang tahu itu dirinya karena ia memakai helm bungkus kecuali adalah orang-orang terdekatnya yang memang mengenal ciri-cirinya.


"Itu gambar kamu 'kan sayang?" ucap Yundha dengan hati-hati. Revalda mengangguk.

__ADS_1


"Tante gak mau menghakimi kamu sayang. Tante tahu kamu sudah dewasa. Kamu pasti sudah tahu apa yang baik dan tidak baik kamu lakukan."


"Iya Tante. Aku gak ada apa-apa kok dengan pria yang ada di dalam gambar itu."


Yundha tersenyum.


"Hubungan pertemanan dengan lawan jenis itu biasanya gak murni sayang. Mungkin kamu gak ada pikiran untuk hal itu tapi laki-laki biasanya gak berpikir seperti itu. Tante khawatir kalau dia mungkin mempunyai niat yang tidak benar padamu."


Revalda tertunduk. Ia baru kepikiran kalau dosennya itu mungkin saja berniat yang tidak-tidak baik padanya.


"Berhati-hatilah dalam bergaul dengan orang lain di luar sana terutama para pria. Kamu itu anak gadis yang sangat cantik sayang. Kalau Tante boleh kasih saran, sebaiknya kamu tidak lagi bergaul dengan mereka lagi. Dan tinggalkan dunia balapan itu."


Revalda menghela nafasnya. Kenapa semua orang selalu melarangnya melakukan hal yang ia sukai? tanyanya membatin.


"Sayangilah dirimu sayang. Kamu punya masa depan yang cerah," ucap perempuan itu lagi.


"Kamu bisa cari hobi lain yang tidak berbahaya bagi kamu lho yang aman untuk seorang gadis cantik seperti kamu," ucap Yundha seraya mencubit pipi Revalda.


"Iya Tante makasih banyak nasehatnya."


"Dan ingat untuk jaga diri dari kata-kata manis seorang pria. Kebanyakan mereka itu buaya lho," ucap Yundha tersenyum kemudian melanjutkan," Kecuali om Dewa dan keturunan Maher Abdullah hihihi."


Revalda ikut tertawa lucu dibuatnya.


"Kamu kangen gak sama mama kamu?" lanjut Yundha dengan sebuah pertanyaan lain. Revalda langsung mengangguk pelan.


"Mama dan papamu ada di luar. Mereka ingin menjemput kamu pulang sayang."


"Ah yang bener tante?" tanya Revalda kaget. Yundha tersenyum dan mengangguk juga.


"Kalau gitu aku keluar dulu ya, kangen banget sama mereka," ucap gadis itu seraya berlari keluar dari kamar itu. Yundha tersenyum saja. Dan berharap Revalda tidak akan kaget kalau tahu ia akan dijodohkan dengan David anaknya mas Praja dan mbak Ardina.


Di dalam ruang keluarga Revalda menemukan kedua orangtuanya sedang mengobrol santai dengan pemilik rumah itu.


"Mama papa!" panggil Revalda dan langsung berlutut di depan kedua orangtuanya.


"Maafin aku ma, pa," ucap gadis itu memohon maaf dengan menangis. Sungguh, dua hari ini ia merasa sangat rindu dan juga merasa bersalah karena telah meninggalkan rumah. Akan tetapi karena kesibukan dengan tugas di kampus dan juga mencari uang untuk membayar utang pada David, ia jadi lupa untuk pulang.


"Iya. Kami maafkan kok. Tapi kamu harus segera menikah dengan jodoh pilihan papa sama mama," ucap Yudha dengan wajah serius.


"Hah? Menikah?!"


Revalda melotot tak percaya dengan keputusan sepihak dari kedua orangtuanya.


🌹🌹🌹


*Bersambung.


Like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍

__ADS_1


__ADS_2